Pada
Sunyi Aku Titipkan Rindu
“Biarkan
aku pergi menjauh darimu, dan pada sunyi aku titipkan rindu ”
Dibawah
beringin depan beranda tanian rumahku
Suaramu
bergetah pada anyir dedaunan
Masih kuhapal
setiap kata sebelum suara menjelma langkah
“Jika
nanti aku menjelma bayang, biarkan aku terbang sebebas burung”
Ucapmu pada
sore itu
Sementara malam
masih temaram aku berdiam diantara kelam
Gerimis
tiba-tiba runtuh memaksaku untuk berteduh
Dibalik jendela
kembali aku mengenangmu lewat angin yang membawa dingin
“Ini
percintaan yang sakral, mautpun tak sanggup untuk memisahkan”
Nyatanya waktu
lebih angkuh dari pada kematian
Membawaku pada
altar doa dan kehampaan
Mengiringi
setiap langkah nun jauh kau disana
Dan pada sunyi
aku titipkan rindu.
Sampai akhirnya
kokok ayam membangunkanku untuk bersubuh.
Malang,
18 April 2014
(antologi "Monologi Hati" Pena House)

Comments
Post a Comment