Coretan Mimpi
20
“Manusia yang paling bodoh adalah manusia yang memiliki keyakinan kuat
akan keutamaan ada pada dirinya. Adapun manusia yang paling berakal adalah
manusia yang merasa dirinya penuh kekurangan”
(Imam Ghazali)
Sudah bulat tekadku untuk mondok, aku pasrahkan
semua pada Ibuku akan kemana aku ditempatkan. Tidak apalah aku mondok, yang
penting ada sekolahnya, hanya itu yang aku inginkan, dan Ibu mengiyakan.
Berhari-hari aku diam dirumah. Tidak ada lagi kabar
tentang ketiga kawanku. Lukman dan Hadi sibuk mendaftar di MAN Sumenep,
sementara Viqi, aku belum tahu kemana ia akan mondok. Aku hanya bisa merenung,
memikirkan tentang isi pondok. Selain bayang-bayang kitab gundul dan
Nahu-Sharraf, dalam bayanganku ada rasa penasaran lain yang masih merupakan
misteri. Ada suatu kebahagiaan, entah itu apa. Hati terasa tentram ketika
bayanganku mencoba untuk menyelami kedalamannya—penjara suci, sapaan akrab yang
sering aku dengar.
Dan yang menjadi pemicu ketentraman itu adalah
ketika aku ingat ceritan kawanku, ilong. Ia pernah bilang, kalau D. Zawawi
Imron dulunya adalah santri. Kabarnya ia juga akan mondok, mungkin mengikuti
jejaknya. Aku jadi semakin penasaran, misteri apa yang tersimpan didalamnya.
***
Pada minggu pagi tanggal 20 Juli 2008, aku siap-siap
untuk mendaftar sekaligus langsung tinggal dipondok. Banyak tetangga dan para
sanak family pada datang kerumahku, memberi sangu. Katanya ingin juga mendapat
barokah orang yang mau mendalami ilmu agama dipondok. Rasa penasaranku makin
menjadi, sebenarnya apa yang istimewa dari pondok.
Terdengar kasak-kusuk pembicaraan sebagian
keluargaku yang ikut mengantar keberangkatanku.
“Berutung sekali ya orang tuanya, anaknya mau
mendalami agama dengan keinginannya sendiri”
“Semoga mendapat ilmu yang berkah”
“Dan berguna bagi masyarakat”
Sementara itu, aku masih bergeming. Sama sekali
tidak merespon pembicaraan orang-orang dibelakangku.
“Bilang amin conk” Pak supir mennyenggolku.
“Amin, untuk apa” tanyaku penasaran.
“Lah, kamu ini bagaimana. Dari tadi kamu di doakan
agar menjadi santri yang mendapat ilmu barokah dan bermanfaat bagi masyarakat”
“Maksudnya bisa pidato, hafal Al-Quran, dan bisa
baca kitab gundul”
“Bukan itu, intinya ketika nanti kamu kembali
kemasyarakat. Ilmu kamu bisa berguna. Ilmu itu banyak, bukan hanya yang kamu
sebutkan tadi. Pokoknya kamu harus ngaji yang benar dan belajar dengan
sungguh-sungguh. Nanti kamu akan tahu sendiri”
“Sebenarnya kehebatan pondok pesantren apa sih pak”
“Maaf ya, bapak kurang paham. Tapi yang bapak
dengar, katanya ada keistimewaan tersembunyi yang hanya bisa didapat oleh
santri yang tidak pernah melanggar aturan-aturan yang diterapkan oleh
pesantren”
“Contohnya”
“Pokoknya bisa dilihat setelah si santri sudah
kembali ketengah-tengah masyarakat. Kehadirannya bisa memberikan pencerahan dan
menebar manfaat”
***
Mobil angkot memasuki pintu gerbang utama yang
bewarna hijau dengan lambang kubah masjid yang dilingkari oleh sembilan
bintang. Dibawahnya ada tulisan arab “Ma’had
Mathali’ul Anwar”. Pemandangan pertamakali yang aku saksikan adalah
keceriaan para santri ketika bermain bola kaki. Ada tiga lapangan yang dipakai.
Lapangan pertama yang paling besar terletak dekat pintu gerbang utama,
sedangkan yang lainnya persis didepan masjid.
Pesantren yang aku tempati ternyata berdekatan
dengan MAN Sumenep, berada di sebelahnya. Jadi aku masih punya kesempatan untuk
bertemu Lukman dan Hadi, kalau Viqi aku belum tahu ia mondok dimana.
Ada kedamaian yang aku rasakan ketika melihat banyak
santri saling tertawa, bermain bersama, ada juga yang asyik mengobrol satu sama
lain. Dan satu lagi, ketika aku membaca nama sekolah yang berada didalam area
pesantren, aku sangat bahagia, karena nama yang tertera dalam plang warna hijau
yang tertancap dipojokan sekolah sangat jelas tertulis “SMP-SMA Yayasan
Abdullah (YAS’A) Pangarangan-Sumenep”. Tuhan menjawab satu keinginan
sederhanaku, sekolah di SMA.
***
Comments
Post a Comment