Surat yang Tak Sempat Kau Baca
Hemm....! udara pagi ini tak
seperti biasanya. Tak pernah sebelumnya aku merasakan hal yang seaneh ini.
Seperti ada hal ganjil yang menggrogoti benakku. Hal yang sudah sekian lama aku
mencoba untuk menepis dan tidak mengingatnya kembali. Entah mengapa dan karena
apa dinginnya udara ini seolah menghantarku mengembara kemasa yang telah lalu.
Masa dimana aku pernah melukis kisah dengan seseorang yang sama sekali tidak
pernah kuharapkan kehadirannya. Dan kali ini dia kembali hadir menjelma bayang
semu sembari mengajakku tuk mengulang peristiwa indah yang pernah kulukis
bersamanya. Akan tetapi ada salah satu
dari diriku yang enggan dan menolak tuk kembali melukis kisah. Meskipun jiwaku
yang lain tak sanggup untuk memebendung bongkahan rindu yang ingin buncah
menjadi puing dan terbang bebas menjelajahi ruang dan waktu. Kemudian bersatu
saat menemukan kebahagiaannya.
Jumat adalah hari dimana dulu
aku selalu bertukar surat dengannya. Hari yang membuat rinduku menjadi adem
ayem seolah tak ada hal terberat yang aku emban meskipun terkadang pada hari
itu banyak tugas dan kewajiban yang belum terselesaikan. Dan hari ini, entah
mengapa dan karena apa aku ingin dan berharap ia bisa membaca surat yang tak
sempat ia baca. Surat yang tak sempat aku kirim, karena terlambat oleh peristiwa yang tak
pernah kuharapkan datangnya yang akhirnya menjadi pemicu perpisahan kita. Akan
tetapi dengan apa kau bisa membacanya, sedangkan surat itu sudah dilahap
kobaran api dan sekarang jadi sampah yang tiada nilai harganya.
***
Dengan merantau jauh, aku
berharap bisa melupakan kenangan masa lalu yang tak sepantasnya hadir kembali.
Dan ternyata aku salah, sejauh apapun kaki melangkah masa lalu akan tetap hidup
dan sulit untuk dilupakan. Sampai akhirnya aku teringat dengan perkataan
temanku dulu, masa lalu adalah daging atau darah yang tidak akan pernah
terpisah dengan tubuh sampai kematian mengakhirinya, kehidupan kita adalah
tubuh itu sendiri. Ya, seperti itulah aku saat ini.
“Kapan berangkat?” Ucapmu suatu
waktu. Ketika kau tahu bahwa tidak
mungkin salamanya aku tetap dikota kelahiran ibu.
“Mungkin tiga hari lagi”
“Secepat itukah?”
“Karena waktuku tidak banyak lagi, aku harus cepat
sebelum terlambat”
“Kapan balik lagi”
“Aku akan mengabarimu dari negeri perantauan nanti”
“Hati-hati, doaku selalu hangat menyertaimu”
“Ya”
Percakapan singkat yang begitu
berat untuk dilupakan. Terkadang, aku bosan dan muak jika mengingatnya lagi.
Tapi terkadang pula aku selalu ingin mengulang percakapan itu. Percakapan yang
endingnya dilumuri linangan air mata. Sehingga sampai kapanpun kenangan itu
akan tetap hidup dan abadi dalam memory otak manusia. Karena perpisahan yang di
sertai linangan air mata akan pelik untuk di lupakan, begitulah orang bijak
berkata.
***
“Perpisahan bukanlah akhir segalanya” pesan terkahir yang kukirim lewat
SMS. Semenjak saat itu tak ada lagi kabar burung yang bercerita tentang dirimu.
Semua terasa hampa dan kegelisahan mulai nampak adanya. Entah apa yang terjadi
dengan dirimu. Sikap diammu seakan menjelma misteri yang menimbulkan tanda tanya.
Satu hari sebelum keberangkatanku. Kita sepakat untuk bertemu di
alun-alun kota. Suasana sore yang indah tak bisa membuat mata kita bisa
melihatnya. Dunia terasa suram tanpa hiasan bunga, pepohonan, dan semua terasa
hitam. Tak ada kata, taka ada suara. Dunia ikut diam. Matahari pun seperti
engggan untuk beranjak. Kita duduk bersama, mata saling memandang, senyum yang
tertahan terlihat sangat dipaksakan.
“Kau sanggup untuk menungguku” suaraku membuka percakapan membuyarkan suasana
yang sedari tadi hening.
“Pastilah, kau pergi kan untuk kuliah. Tidak ada alasan yang logis untuk
melarangmu”
“Baiklah. Tapi jangan lupakan janji kita”
“Yang mana”
“Untuk saling setia”
“Sebaliknya”
“Janji untuk ditepati, bukan di ingkari” ucapku dengan gelak tawa. Dan
sama sekali tidak ada reaksi apapun darimu.
Malampun tiba. Dan aku pulang
kerumah untuk persiapan keberangkatan esok hari.
***
Ah, entah mengapa dan karena apa aku ingin menulis kembali surat yang tak
sempat kau baca. Surat yang tak sempat
aku kirim, karena terlambat oleh peristiwa yang tak pernah kuharapkan datangnya
yang akhirnya menjadi pemicu perpisahan kita.
Segera aku hidupkan laptop kesayanganku. Dan jari seketika menari diatas
keyboard menuliskan gelisah segala kegundahan hati. Biarlah tulisan ini menjadi
bukti bahwa aku tidak pernah mengingkari janji. Bisikku dalam hati.
Teruntuk : Bunga yang gugur sebelum
cuaca memanggil kemarau
Aku tulis surat ini saat jarak
memisahkan kita. Waktu seperti malaikat pencabut nyawa yang tanpa permisi
meningalkan jejak air mata.
Perpisahan bukanlah akhir
segalanya. Seperti salah satu ungkapan “Bukan perpisahan yang aku tangisi, tapi
pertemuan yang aku sesali”.ya, pertemuan yang berjalan dengan irama keindahan
yang tidak bisa terulang kembali.
Sebenarnya adakah yang pantas untuk
disesalkan dari setiap pertemuan dan perpisahan?. Sepertinya tidak. Bukankah
dari dua keadaan itu kita sama-sama mendapat pelajaran. Pelajaran berharga yang
tidak kita dapatkan di bangku sekolah.
Tuhan telah menciptakan segala isi
dunia dengan berpasang-pasangan.manis dengan pahit, Adam dengan Hawa, tentu
saja bila ada pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan. Itulah kodrat yang
taka ada satu manusiapun mampu mengelak darinya. Itulah bunga dari indahnya
hidup.
Pertemuan dan perpisahan adalah
bunga itu sendiri. Saat pertemuan, saat itulah bunga mekar dengan indahnya.
Seindah canda tawa saat kita duduk bersama.
Saat perpisahan, saat itulah bunga
mulai kuncup dan layu. Saat tangisan dan pelukan hangat menjadi isyarat.
Selamat tinggal kasih, belajarlah
untuk mengerti aku disaat jarak memisahkan kita. Janganlah sekali-kali
melakukan tindakan yang sekiranya bila aku mengetahuinya membuat hatiku sakit
Kepergianku bukan untuk
meninggalkanmu, tapi untuk mengajariku hakikat hidup yang sebenarnya. Karena
kebersamaan tidaklah cukup hanya dengan ungkapan rasa kasih sayang. Melainkan
dengan tindakan nyata untuk mencapai hakikat cinta yang sesungguhnya.
Ketika kau sudah paham akan hakikat
cinta, sebenarnya kau sudah tahu bahwa itu merupakan keputusan terbesar dalam
hidupmu. Yang pada akhirnya harus dipilah dan dipilih dengan menggunakan hati
nurani, akal sehat, dan pertimbangan yang matang. Termasuk hadirnya perpisahan
di akhir kisah.
Kini perpisahan telah memanggil
kita. Tak perlu kau bersedih dan merasa takut kalau aku bisa bebas sebagaimana
burung yang terbang di agkasa.
Dan ingatlah, bunga yang layu akan
kembali bersemi jika kita masih setia menyiramnya dan memupuknya dengan
kesabaran menunggu datngnya cuaca. Sebagimana pelangi yang datang setelah hujan
dan kilatan petir menyambar.
Jika perpisahan adalah gelombang
Aku akan menyatu pada riak deburnya
Sejauh apapun ia berderai
Akan kembali pada bibir pantai.
Dari : lelaki
yang kau tunggu
***
Tak terasa waktu cepat berlalu. Tanggal mulai berguguran diganti
tanggal-tanggal baru. Kehidupan berjalan kearah putaran waktu yang berputar
kedepan. Masa yang berlalu akan tersimpan menjadi seonggok kisah. Kisah yang
tidak semestinya kembali di ungkit dan dipersoalkan. Termasuk kisah saat kau berdua
dengan lelakimu. Tempat dimana kita dulu bertemu.
Terima kasih telah bertandang ke gubukku. Kehadiranmu adalah penyepirit
langkah untuk menembus batas kesadaran. Biarlah kisah yang tak sempat selesai
aku simpan di kedalaman relung jiwa yang terdalam. Kepergianmu adalah perintah
untukku agar tetap berjalan menatap masa depan menemui kekasih yang ditakdirkan
Tuhan. Ucapku dalam hati.
Malang, 29 April 2014
Rifki Affandi Muslim, lahir dari keluarga petani, Dsn. Caremmi, Kec. Gapura, Sumenep,
Madura, pada 04 Maret 1994. Menulis cerpen dan puisi. Puisinya terkumpul dalam
antologi, Percakapan Sunyi (Sumenep: Ababil , 2011). Saat ini tengah mendalami ilmu Broadcasting & Production House di
Universitas Brawijaya Malang. Dan berdomisili di Rumah Motivasi (Insan Dinami
Indonesia) Malang.

Comments
Post a Comment