Puisi Perpisahan


JEJAK

Teruntuk; adik-adikku generasi Mathali'ul Anwar

Malam ini, riuh angin memudarkan lamunan
Membasuh wajahwajah kusam
Yang sekian lama mematung dalam penantian
Penantian mencari jejak cahaya yang tersimpan
Dibalik pekatnya kabut diatas puncak keabadian
Diri tidaklah sadar,bahwa malam telah berucap salam
Melambailambai layaknya janur hijau yang mengikuti
Dendang irama liukan angin dimusim semi
Takterasa,berapa jejak telah kami lalui
Berapa jejak telah kami daki, dan
Berap jejak telah kami pahat
Yang kami harap akan agung layaknya prasasti

Malam ini, sunyi tak lagi berarti
Karena jangkrik yang tiada hentinya menyanyi
Akan menjadi saksi atas penghujung jejak yang terlewati

Wahai adikku,
Sekian lama kami mendaki
Hanya untuk mencari secercah kebahagiaan
Kebahagiaan untuk seorang kekasih yang bernaung dalam bahtera Mathali’

Angin, masih saja menegurku malam ini, menampar wajahku
Mengajakku mengingat masa yang telah lalu
Masa dimana aku dan mereka hampir rubuh
Sebelum langkah pendakian selesai dikayuh
Lantaran kelakuan nakal kami yang tak kuasa menahan nafsu

Aku tak tahu, akankah rohroh leluhur akan marah pada kami?
Setelah gubuk kecil yang mereka bangun hampir goyah
Diterpa angin peradaban yang sejatinya adalah kami.
Atau sebaliknya, mereka akan menyunggingkan senyum
Senyum yang penuh misteri
Pertanda apakah yang mereka beri?

Pagi itu, kami masihlah dini
Sekuncup mawar yang yang taktahu menebarkan wangi
Tidaklah tahu makna mendaki
Tapi, kini lain hari lain waktu lain rasa lain bumbu
Walau dulu kami hanya bisa bisu
Kini tinggal giiranku bersama mereka yang akan memahat jejak pada bongkahan batu
Waktu camar mendesah, mengabarkan khalifah mencari pengganti
Itulah kami yang terpilih

Kutampar wajahku sekeras aku melempar batu
Walau kemudian aku mengerang; aduh....!
Benar, kabar itu bukanlah kabar palsu
Itulah kabar embun yang menetes pada pagi sehabis subuh

Rembulan semakin meninggi diatas kepala
Akarnya yang runcing menusuk bumi dan mendesir diaortaku
Pertanda malam semakin tua
Semakin tak kuasa mengeram cahaya yang ingin buncah
Menebarkan wewangian aroma kembang bunga tujuh rupa

Wahai leluhur dan kakak-kakakku,
Terimalah maaf ini yang kupinta darimu
Lantaran kami seringkali mengabaikan sabdasabdamu
Yang kami anggap sebagai suara angin berlalu

Entah, berapa almanak yang telah kau lumat
Berapa tanggal yang telah kau selami
Hanya demi membangun sebuah gubuk yang aromanya semerbak
Serupa mentari yang tiada hentinya menyinari bumi

Dan lihatlah wajah yang sumringah ini
Sengaja kami haturkan dengan memegang kibaran panji
Disebelah tangan kanan yang segera kami tancapkan
Diatas puncak gapura gubuk kecil ini

Sudah cukup daun mimba kami teguk
Topan badai kami peluk
Namun kami tak pernah takhluk

Wahai adik-adikku,
Diakhir pendakian ini
Kami masih menyisakan jejak yang bergetah diatas bebatuan
Dan kekrikil tajam pada musim kemarau yang kerontang
Yang mungkin taklama lagi akan kalian lalui

Sebentar lagi rembulan semakin meninggi
Kami harap kisah kalian tak sepahit yang kami lalui
Biarkan kisah ini kami eram pada rentetan sajak yang tiada hentinya
Mengalir sampai hari penghabisan nanti

Kami tidak akan lupa pada gubuk yang laksmi ini
Walau badan taklagi bersanding
Bukan berarti kami akan pergi
Karena inilah puncak pendakian kami

Kawan, kemarilah....!
Mari kita tunjukkan pada mereka
Kalau kita bukanlah sampah yang akan terbuang siasia
Karena kita adalah kisah yang akan dikenang oleh generasi kita
Yang mungkin nanti kita akan menjadi leluhur, menjadi panutan
Menjadi seperti apa yang mereka inginkan

Ayah, ibu, guru, lihatlah anak didikmu ini
Doakan agar kami bisa menempuh jalan yang melintang
Sejauh jarak berpeluh
Biar kami menjadi setangkai lilin
yang rela lebur demi kebahagiaan orang lain

pada rentetan sajak ini kami kan berucap janji;
“setia kami tidak akan pernah mati
meski kami telah beranak bini”

Mathali’ 2011


Dokumentasi kepengurusan FOKSMAT dan Khirrijin 2011-2012                                                                            

Comments