Catatan Waktu Senggang

Warung Merakyat dan Maling; Refleksi dua Lakon dalam Suara Perlawanan
Oleh: Rifki Affandi Muslim

sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
(Wiji Tukul)


Maraknya berita dari media massa yang menyajikan informasi ketimpangan social kehidupan di Indonesia “khususnya “ yang seharusnya demokratis. Telah banyak mengundang lahirnya para relawan yang bersedia menyuarakan suara perlawanan dalam menuntut keadilan. Suara perlawanan yang disajikan dengan berbagai cara dan upaya sesuai keahliannya. Sebagaimana yang disajikan oleh para seniman teater dari Fataria (STAIN Pamekasan-Madura) dan Mbah Tohir.

Lakon pementasan pertama dari teater Fataria menyajikan drama “Warung Merakyat” yang menceritakan tentang celoteh masyarakat menengah kebawah yang disampaikan melalui dialog para actor—mengenai kasus permasalahan yang melanda bumi pertiwi “Indonesia”. Dalam jalannya alur cerita, para actor menyampaikan suara perlawanan dengan sentilan-sentilun dari dialog para tokoh. Seperti, kasus korupsi dan pendidikan. cerita yang disajikan sangat menarik karena menampilkan sebuah realita kebanyakan masyarakat yang menjadikan “Warung Kopi” sebagai tempat menumpahkan segala permasalahan dengan membicaraknya bersama kawan-kawan terdekatnya—baik disadari maupun tidak.


Sedangkan lakon kedua yang dimainkan oleh actor kondang srimulat—Mbah Tohir dengan drama “Maling” yang disajikan secara monolog, secara gamblang menyuarakan suara perlawanan dengan kata-kata yang tegas dan cerdas. Monolog “Maling” menceritakan tentang seorang anak yang menuduh ayahnya maling. Sang anak berstatus anak buah dari juragannya yang kemalingan. Mbah Tohir menempatkan dirinya sebagai ayah tersebut. 

Pada inti ceritanya sang ayah mengaku pada anaknya sekaligus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuat sang anak hanya bisa diam—bungkam. Sang ayah berkata bahwa dirinya menjadi maling karena tuntutan dalam dirinya yang tidak kuat melihat orang-orang yang menderita tak kunjung mendapat bantuan. “Meskipun ayah mencuri, toh sedikitpun juraganmu tidak merasa rugi. Dan kau tidak memiliki bukti untuk menuduh ayah. Silahkan tuntut, ayah menjadi maling karena hanya itulah kemampuan yang bisa ayah perbuat”.

Dalam pertengahan dialog sang ayah kedatangan anak yang meminta bantuannya sebab ayahnya sakit dan butuh biaya pengobatan. Dilanjutkan dengan pertanyaan yang ditunjukkan kepada anaknya sendiri yang duduk dikursi. “Lihatlah nak, semua hasil yang ayah curi hanya untuk mereka yang membutuhkan. Ayah juga tahu kalau mencuri termasuk perbuatan dosa. Tapi hanya itu yang bisa ayah lakukan. Apakah juraganmu yang kaya itu pernah membantu mereka” sang anakpun berlalu pergi.


Dari dua lakon pemntasan diatas, para seniman teater dengan gayanya masing-masing telah menyuarakan suara perlawanan—menuntut kesadaran para penguasa dan orang kaya. 
Ada beberapa pesan yang tersirat—yang kemungkinan tidak diketahui audiense dari dua pementasan tersebut. Berikut hasil interpetasi menurut pandangan atau pengamatan penulis, diantaranya;


Fataria “Warung Merakyat”


Pesan yang disampaikan bermaksud agar kita sebagai masyarakat jangan hanya mengeluh pada keadaan. Adakalanya kita menuntut dengan kritikan, akan tetapi tetaplah sebaik-baik kritikan adalah yang mendampinginya dengan solusi.


Mbah Tohir "Maling”


Pesan yang disampaikan menuntut kita untuk memahami hukum sebab-akibat. Terkadang kita selalu menyerah pada kata takdir—tanpa usaha. Dan sering menyalahkan orang-orang yang jahat—Maling. Tanpa kita mau tahu apa yang menjadikannya seperti itu. Bahkan tanpa kita sadari kitalah yang terkadang membntuk orang menjadi jahat. Orang jahat bukanlah keinginan melainkan desakan dan tuduhan. Karena setiap pribadi orang atau karakter terbentuk oleh lingkungan yang mempengaruhinya.
Demikian yang dapat penulis sampaikan, dan terakhir mengutip perkataan Bapak tohari “Dalam pertunjukan teater, sebaik dan seteliti apapun kesalahan pasti ada—baik disadari maupun tidak. Dari itu maka sepatutnya kita harus memiliki tiga nilai utama yaitu, Memahami, member dan menerima. Memahami pesan yang akan disampaikan maupun yang didengarkan, Memberi solusi untuk dengan kritik membangun, dan ikhlas menerima setiap kritik sebagai upaya pembelajaran”. Semoga bermanfaat.

Malang, SC UNISMA, 25-05-2014

Comments