HIKMAH DIBALIK
PENDAKIAN MENUJU RANU KUMBOLO
Berdasarkan
informasi dari “wikipedia” Ranu Kumbolo adalah adalah sebuah danau yang
berada di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur—tepatnya di gunung tengger (kaki
Gunung Semeru), Luasnya antara 14-15 hektar, berada pada ketinggian 2.400 mdpl.
Disana terdapat berbagai panorama alam yang tak terkira indahnya.
Selain
itu, ada beberapa mitos yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya, salah
satunya adalah bukit tinggi yang terletak dibagian barat danau. Bukit yang
tidak lain adalah rute menuju puncak semeru dengan kemiringan kurang lebih 45
derajat. Konon, menurut cerita yang beredar, barang siapa yang mendaki hingga
sampai kepuncak bukit itu tanpa menoleh ke belakang, dan orang tersebut sedang
jatuh cinta atau kasmaran, maka orang tersebut akan segera mendapatkan cintanya
itu. Dan itulah alasan sederhana mengapa bukit itu kemudian dikenal dengan
Tanjakan Cinta.
Berbagai
cerita dan informasi yang saya dapatkan, baik dari teman maupun internet, secara
tidak langsung menjadi propaganda yang memaksa rasa ingin untuk ikut larut
menyaksikan dan merasakan sendiri keindahan itu. Apalagi semenjak munculnya”
novel dan film 5 cm”yang mengekspos keindahan segala pernak-pernik panorama
gunung semeru (tidak terkecuali Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta).
Keinginan
itu terus menghantui saya saban detik. Menjadi mimpi indah, namun belum
tervisualisasikan.
Seiring
berjalannya waktu, ketika bayang-bayang itu mulai memudar dalam pikiran. Tuhan memberikan
saya kesempatan untuk bisa menikmati keindahan itu—tepatnya ketika teman saya
mengajak untuk liburan, merefres otak dari beban tugas kuliah yang menumpuk. Pada
tanggal 20-21 September 2014-lah mimpi itu terwujud.
Singkat
cerita, pada pukul 09.45 kami berada di depan gapura “Selamat Datang”, betapa
senang hati ini tak mampu untuk mengungkapkan rasa terimakasih pada Tuhan sang
Maha Kuasa yang telah memberikan kesempatan untuk menikmati salah satu
ciptaan-Nya. Setelah menuntaskan berbagai macam persyaratan (Surat kesehatan,
fotocopy KTP, dan form persetujuan untuk tidak melanggar aturan yang ditetapkan),
tidak lupa kami melakukan ritual pendakian, yaitu berdoa. Salah satu dari kami
mengambil alih pembukaan doa “Sebagai pendaki dan pecinta alam yang baik, mari
kita berjanji untuk saling menjaga, dan tidak melanggar aturan yang sudah di
tetapkan. Alam ini adalah cerminan besar kehidupan, jika kita berlaku baik pada
alam, maka alam juga akan berlaku baik pada kita. Sebelum pendakian ini
dilanjutkan, ada baiknya bila kita berdoa terlebih dahulu. Berdoa dengan
keyakinan masing-masing, mulai” mata kami terpejam, mulut merapal doa, tangan
masih erat saling merangkul, seakan Ranu Kumbolo melambai-lambai dalam bayangan
kami, tersenyum menyambut dan menunggu kedatangan kami.
Perjalanan
pun di mulai. Setapak langkah demi langkah kami pijakkan. Tak pernah sedikitpun
mengurungkan niat untuk balik, sekalipun tanjakan semakin berat, semakin kuat
pula kami melangkah.
Tidak
terasa perjalanan menghabiskan waktu 4-5 jam. Rasa lelah, payah, dan sejenisnya
seketika pudar, ketika Danau Ranu Kumbolo sudah menampakkan dirinya. “Subhanallah”
hanya kata itu yang bisa kami keluarkan.
Semua
yang berawal dari mimpi, informasi, bayangan, terbalas sudah dengan kenyataan. Ranu
Kumbolo dan Tanjakan Cinta itu telah kami nikmati. Suatu hari nanti Puncak
Semeru akan kami daki. Semoga. Doa saya dalam hati.
Pelajaran
yang Saya Dapat
Apalah artinya
sesuatu bila sesuatu itu tidak bisa kita mengambil pelajaran dan manfaat
darinya. Kata yang pantas untuk mengawali pembahasan kali ini. Mengutip salah satu ayat Al-Qur’an, Ali Imran
:3:190, yang artinya; “Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang yang berakal.”tanda-tanda yang dimaksud adalah ibrah atau pelajaran dari setiap
kejadian yang kita lihat atau kita jalani.
Berikut adalah beberapa pelajaran yang bisa saya ambil.
1. Tidak ada satu mahluk pun yang melarang kita untuk bermimpi, dan
setiap mimpi sudah diketahui oleh Tuhan. Sebagimana ketika saya bermimpi untuk
bisa menikmati indahnya Ranu Kumbolo. Dan Tuhan menjawab mimpi itu.
2. Alam adalah cermin besar, apa yang kita perbuat untuk alam,
sebaliknya alam akan melakukan hal yang sama.
3. Puncak adalah titik kesuksesan yang tergambar dalam pikiran
manusia, padahal proses mencapainyalah inti dari kesuksesan yang sebenarnya. Sebagaimana
ketika saya mendaki, pada saat itulah saya banyak belajar betapa senangnya dan
luarbiasanya perjuangan itu.
4. Sukses hanya akan dicapai oleh mereka yang tetap melangkah,
bukan mereka yang menyerah.
5. Bermimpi itu sangat menyenangkan, tapi lebih menyenagkan bila
mimpi itu divisualisasikan.
6. Sukses itu susah, tapi lebih susah bila tidak sukses.
Itulah beberap catatan yang bisa saya ingat. Dan satu lagi,
jika kalian masih ingat dengan pesan film 5 CM yang mengajak kita untuk
menggantungkan setiap impian kita 5 cm dari mata kita, agar kita bisa
melihatnya setiap detik. Saya sangat setuju, pada dasarnya setiap manusia ingin
sukses, punya mimpi, tapi entah mengapa seiring berjalannya waktu mimpi itu
buyar seketika, hanya karena takut, minder, tidak mungkin, dan kawan-kawannya. Mari
kita bersama-sama menggantungkan impian kita 5 cm, dan yakin bahwa mimpi itu
akan terwujud.
Sebagaimana mimpi saya untuk menikmati pemandangan Ranu
Kumbolo, saat ini sudah bukan mimpi lagi, mimpi itu berubah-ubah, dan itu
wajar.
Orang yang memiliki mimpi tinggi belum tentu menjadi orang
sukses, tapi yang perlu di ingat orang sukses itu lahir dari para pemimpi.
Ranu Kumbolo adalah mimpi yang sudah saya wujudkan, jangan
sekali-kali kita merusak mimpi itu (Cintai dan jaga alam sebagaimana kita
menjaga mimpi kita), jangan lupa untuk mengawetkan mimpi itu (menulis, mengambil
gambar, dan ceritakan), jangan sampai mimpi itu hilang dari kehidupan kita.
Semoga bermanfaat.
Comments
Post a Comment