Hilangnya Kuda Putih Ayah
Ah, suara itu lagi. Semakin hari semakin tak betah saja aku tinggal di rumah. Semakin hari semakin menggila saja tangisan adikku. Aku dan ibu sudah berkali-kali mencoba untuk menghiburnya. Tetap saja suara tangisan adikku tidak kunjung reda, bahkan suara itu semakin meninggi. Terkadang sesenggukan, kemudian kumat lagi.
Kejadian itu terus menerus tak
kenal pagi dan malam. Taklupa aku juga coba membujuk ayah untuk ikut andil
membantu meredakan tangisan adikku, mungkin hanya ayah yang mampu meredakannya.
Akan tetapi,tetap saja tak ada respon sedikitpun dari ayah. Sekarang ayah lebih
suka mnyendiri bahkan puasa bicara. Semakin hari semakin tak betah saja aku
tinggal dirumah. Semuanya bertingkah aneh; adik tiada henti menangis, ayah tingkahnya layaknya mayat hidup, dan bahkan Ibu mulai
ikut-ikutan ketularan penyakit ayah. Semakin hari semakin tak betah saja aku
tinggal di rumah. Karena rumah bagiku sudah seperti kandang binatang saja; tak
ada satupun yang dapat aku ajak bicara.
Sempat terngiang dalam benakku
untuk mninggalkan rumah, entah kmana. Yang penting aku bisa tenang, rileks,
terbebas dari keanehan yang tak pernah kuduga datangnya, dan agar secepatnya
bisa merampungkan tulisanku. Kalau tetap dirumah nalarku menjadi kaku, dan
mungkin sealammanya tulisan itu tidak akan pernah mencapai puncak
penyelesaiannya kalau saya tetapdirumah. Akan tetapi pikiran itu buyar
seketika, meranggas layaknya daun yang gugur dimusim kemarau. Aku tak tega
meninggalkan mereka semua. Bagaimanapun mereka masih keluargaku; keluarga yang
selalu menghiburku dikala gundah-gulana, sekaligus menjadi penyepirit,
penasehat, dan inspirasi yang tiada taranya. Dan tak lupa mereka selalau
menasehatiku bila aku mlakuan kesalahan tanpa ada bunyi tamparan mlanda pipiku.
Aku rindu adikku; adik yang
tak pernah membuatku merasa jengkel. Kata orang adik dan kakak kerjaannya hanya
bisa bertengkar, memang sih, terkadang itu adalah kodrat yang selamanya kukira
tidak akan bisa untuk dipungkiri. Akan tetapi aku rasa hal itu tidak berlaku
bagi kami. Bahkan adikku selalu mengalah bila mainan yang dia gemari ternyata
aku ingin memilikinya. Hal itu membuatku belajar dan mengerti, seharusnya
sebagai kakaknya akulah yang harus mengalah. Meskipun terkadang kebanyakan
naluri kakak adik itu berbeda. Misalnya; adikku suka sekali dengan kuda
sedangkan aku tidak, bahkan membencinya. Begitu juga sebaliknya, aku suka
mengarang sedangkan adikku tidak. Akan tetapi kami tidak pernah
mempermasalahkan itu semua. Karena adikku menghormatiku dan aku menyayanginya.
Aku rindu ibuku; ibu yang
telah rela berkorban mempertruhkan nyawanya hanya untuk melahirkanku. Ibu yang
selalu memberikan kehangatan dalam dekapan ketulusan dan rasa kasih sayang. Ibu
yang tidak pernah membedakan kasih sayangnya antara aku dan adikku. Ibu yang
sebelum menjadi bisu.
Aku juga rindu ayahku; ayah
yang mengajariku tentang arti ketegasan, keberanian, kesopanan, kemandirian,
dan punya rasa tanggung jawab. Ayah yang melarangku untuk jadi orang cengeng.
Ayah yang mengajari adikku menunggangi kuda dan mengajariku mengarang agar
tetap hidup meski aku sudah mati nanti. Aku rindu adik, ibu dan ayahku yang
dulu.
Entah kenapa dan mengapa dalam
kehidupan ini semakin hari semakin berubah. Selalu saja ada penemuan-penemuan
yang mempermudah kebutuhan manusia. Dan juga mengapa kebahagiaan keluargaku
harus ikut berubah. Apakah semua akibat dari globalisasi di era ultramodern
ini? Oh, iya aku baru ingat. Semua berawal semenjak hilangnya kuda putih ayah. Kuda
yang selalu setia memnemani ayah untuk mencari nafkah. Kuda yang membuat adikku
tertawa ria. Kuda yang membantu membawa barang ketika ibu belanja. Kuda yang
membuatku ingin muntah. Maklum, aku alergi dengan bau khas yang keluar dari
kuda. Akan tetapi, buka berarti aku harus menyingkirkannya. Dan memang bukan
aku yang menghilangkannya.
Aku masih waras, dan tidak
mungkin melakukan itu. meskipun aku memang membencinya, bagaimanapun kuda putih
itu sudah banyak berjasa pada keluargaku. Tanpa kuda ayah tidak bisa
memindahkan batu bata yang begitu amat banyaknya; batu bata yang dipesan
orang-orang agar diantarkan kerumahnya. Karena selain mengarang dan melukis,
menjadi pengangkut bata adalah salah satu profesi yang digeluti ayah.
Ah, genderang telingaku
rasanya ingin pecah saja. Suara tangisan adikku memecah kesunyian yang baru beberapa menit lalu aku rasakan. Kulangkahkan kakiku keluar rumah untuk
menghindari kerasnya tangisan adikku. Kesiur angin lirih menyapa tubuhku. Kurasakan kedamaian merasuki sekujur tubuhku dan
otak-otakku yang sudah sekian lama kaku. Kembali terbersit dalam pikiranku
untuk pergi dari rumah ini,
lagi-lagi keinginan itu buyar entah keberapa kalinya.
***
Satu minggu sudah berlalu.
Keadaan rumah masih sama seperti kemarin. Dan aku putuskan untuk hari ini akan
pergi keluar rumah, akan tetapi
bukan untuk selamanya melainkan sejenak, satu atau dua jam saja. Tekatku sudah mantap; untuk merampungkan
tulisanku. Aku tidak mau menunda-nunda lagi. Pokoknya hari ini harus selesai.
Kata orang barat; waktu adalah uang, itu berarti kalau tulisanku belum rampung
juga, pertanda uang enggan mendekat. Dan aku harus rela melarat, karena hanya
itu sumber penghasilan keluargaku dari dulu. Kami hidup dari tulisan dan
lukisan, sebelum akhirnya ayah putuskan untuk jadi jasa pemindah bata. Bukan berarti tulisan dan lukisan Ayah tidak laku lagi dipasaran. Melainkan hanya sekedar
hiburan sekaligus sumber inspirasi bagi Ayah.
Jauh sudah langkah kakiku.
Rumah tak lagi tampak oleh mata. Sejauh ini aku masih bingung untuk berhenti
dimana. Sejurus kemudian, entah karena apa tiba-tiba ada suatu yang ganjil yang
merasuk dalam benakku. Ya, kurasa ada sesutu yang hilang, aku tidak lagi
melihat kuda-kuda berlaulalng disekitar area ini. Biasanya aku muntah-muntah
kalau lewat jalan ini. Itulah sebabnya mengapa dari dulu aku sangat benci
dengan yang namanya kuda, aku tak tahan dengan aroma khas yang keluar dari
tubuhnya.
Mataku menerawang jauh
kedepan, berharap ada satu kuda yang bisa kulihat. Lama aku mematung dan
berharap, namun kesia-siaan yang kudapat. Sudahlah, lebih baik aku kembali pada
tujuan pertamaku. Gumamku dalam hati. Kembali kakiku melangkah menyusuri jalan
beraspal dan pandanganku tertuju pada sebuah dipan yang terletak dibawah pohon
kersen. Akupun duduk diam tanpa kata, hanya secarik kertas dan pena
kesayanganku yang kubiarkan bergerak. Sembari kubiarkan pikiranku mengembara.
Ah, entah mengapa tiba-tiba
pikiranku tak tentu arah. Sekelebat bayangan ayah menghantuiku. Kacau,
pikiranku mulai menyangka yang bukan-bukan. Aku takut terjadi sesuatu yang
tidak aku inginkan menimpa ayah. Lebih baik aku pulang untuk memastikannya.
Itulah rencana yang aku putuskan. Kulangkahkan kembali kakiku menuju jalan
pulang. Dalam perjalanan aku masih menaruh harap akan ada seekor kuda yang aku
temui. Meskipun dari dulu aku justru berharap sebaliknya. Dan tetap saja tak
ada seekor kudapun yang kutemui. Apakah ini wujud dari doa yang selalu
kupanjatkan dari dulu? Bukankah setiap kata adalah doa, bukankah setiap doa
akan mencapai puncak keterkabulannya bila sang kholik berkehendak. Kita selaku
hambanya hanya bisa berharap dan menunggu. Atau mungkin tahun ini ada cuti
khusus untuk hewan pekerja. Sehingganya jalanan tampak sepi layaknya hari
nyepi. Atau.......
***
Kembali aku terperanjat, tapi
sekarang bukan disebabkan tidak adanya kuda yang bisa kutemui. Melainkan, aku
melihat kegelisahan dan kesedihan serempak menyetubuhi raut wajah pak komar
seorang kakek tua pecinta kuda. Konon dari atasnya semua keluarga pak komar
mencintai kuda. Kuda baginya lebih berharga dari kepingan emas permata.
Cintanya pada kuda setara cinta suami pada istri, dan ibu pada anaknya. Sayang
pak komar tidak punya anak, karena tidak beristri.
“Pak komar tidak mau kawin?”
“Bapak masih normal”
“Terus, mengapa sampai
sekarang masih belum kawin?”
Pak komar diam seribu bahasa.
Wajahnya pucat-pasi mendengar pertanyaanku yang tidak terlalu penting
menurutku. Entah mengapa pak komar seperti tersangka yang dihujami pertanyaan
bertubi-tubi, seolah aku ini seorang polisi. Melihat raut wajahnya sepertinya pak
komar mau jawab pertanyaanku, tapi tertekan. Sejurus kemudian kulanjutkan
pertanyaanku.
“Tidak ada yang mau ya pak?”
Tetap saja pak komar diam,
terlihat seperti orang malu.
“Apa karena profesi bapak yang
menjadi penyebabnya?”
Pak komar tetap diam, diam, dan
diam. Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku? Tak kuduga saat mataku pas
menatap kedalaman matanya, seperti ada gumpalan air yang mau tumpah, tapi tetap
saja dibendung agar tidak tumpah. Aku keder, bingung dengan kejadian yang tak
pernah kuketahui, mengapa sampai membuat pak komar bersedih. Apakah salah kalau
aku bertanya tentang yang tidak kuketahui sebelumnya? Apa mungkin pak komar
hanya mau menangis saja? Tak tahulah, semenjak kejadian itu aku merasa tidak nyaman bila bertemu dengan pak komar. Aku merasa berdosa. Sampai searangpun aku
tidak punya keberanian untuk menemuinya.
Tiba-tiba sekelebat bayangan
ayah mengganggu benakku lagi. Entah, apa yang sedang terjadi pada ayah, sampai
sekarang masih tabu dan menyimpan tanda tanya yang penuh dengan misteri.
Kupercepat langkahku. Tak lagi aku menghiraukan hilangnya kuda, pak komar dan
semuanya, kecuali tentang keadaan ayah. Sampai dirumah, aku langsung menuju
tempat dimana ayah biasa beristirahat. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang,
pikiranku mulai kacau, limbung layaknya induk burung yang kehilangan telurnya.
Wajahku tampak pucat, sepucat sekujur tubuh ayah. Aku mulai lemah, untuk
berdiri saja aku sudah tak kuat. Kepalaku terasa berat, pusing menikamku,
keadaan ayah menyayatku seakan salvo menghujamiku. Aku tidak percaya kalau ayah
telah, ah tak sanggup aku mengatakannya. Mataku nanar, semuanya tiba-tiba
gelap, hitam, hitam, pekat. Entah apa yang sedang terjadi pada diriku.
***
Sayup-sayup gemuruh orang
melantunkan ayat suci lembut menyapa pendengaranku. Tak ayal keheranan
memberiku tanda tanya yang aku bingung untuk menjawabnya. Dari mana datangnya
gemuruh itu? Kok sepertinya dekat sekali. Ya, seperti dirumahku saja. Nah,
terus siapa yang mengundang mereka. Setahuku tidak ada acara selamatan
dirumahku. Hemm.., memang sih kedengarannya merdu sekali, tapi kalau banyak
seperti ini, apalagi bacanya serempak. Seperti ada kematian saja. Ah, lalau
siapa yang meninggal?
Ingin rasanya aku menyaksikan
langsung apa yang telah terjadi dirumahku. Kucoba untuk membuka kedua mataku.
Tapi, semakin akau mencoba untuk membuka, semakin keras pula untuk dibuka. Apa
yang telah terjadi pada diriku? Oh iya, aku baru ingat. Kalau tidak salah,
terakhir yang akau ingat aku masuk kekamar ayah, dan aku melihat tubuh ayah
dingin, kaku seperti es. Setelah itu aku tidak ingat lagi. Hemm..., apakah itu
benar? Atau hanya mimipi di siang bolong, karena keadaanku masih terbaring
pulas, dan mataku sulit untuk di buka. Aku rasa masih tetidur.
Aku tidak tahu, berapa lama
aku terbaring—satu jam, dua, tiga, atau berjam-jam. Kembali aku berusaha untuk
bangkit dan membuka kedua mataku. Kudorong sekuat tenaga sambil membayangkan
kekuatan hercules menyatu dalam tubuhku. Walhasil, usahaku kali ini berhasil.
Akan tetapi, mengapa jasadku masih terbaring pulas tak berdaya. Sungguh, baru
kali ini aku mengalami kejadian yang tak pernah terpikirkan adanya. Sudahlah,
ucapku lirih. Sebentar lagi pasti terbangun lagi, aku kan sedang mimpi.
Aku melangkah meninggalkan
ranjang yang masih setia menemani jasadku yang terkulai lemas tiada daya.
Pandanganku tertuju pada jendela kamar yang terbuka. Akupun melangkah dan
melihat keadaan diluar dari ruang atas. Seketika aku terperanjat, dikejutkan
dengan suara orang mengaji itu lagi, dan bendera kuning yang berjajar melekat pada batang pohon. Rasa penasaranku
semakin memuncak, kuputuskan untuk keluar ruangan mendekati sumber suara itu
berasal. Sesampainya, aku sempat tak bisa berucap sepatah katapun, karena perasangku
sedari tadi sedikitpun tidak ada yang meleset. Ayah telah pergi. Aku hanya bisa
menangis dan satu orangpun
tidak ada yang mendekatiku atau sekedar omong kosong yang bisa menghiburku.
***
Sebenarnya akau masih tidak
ikhlas dengan kepergian ayah yang menurutku terlalu cepat. Tapi, siapa yang
bisa mencegah bila sutradara
kehidupan telah berkehendak. Dan satu lagi, aku belum tahu kemana hilangnya
kuda putih ayah. Ayah belum sempat menceritakannya. Terus kepada siapa lagi aku
harus bertanya. Sudahlah, itu nanti saja yang terpenting ayah bisa pergi dengan
tenang. Ucapku lirih.
Aku mendekati tempat ayah
berbaring kaku. Aku nekat untuk membuka kain kafan yang menutupi wajahnya.
Sekedar melihat untuk yang terakhir
kalinya. Anehnya aku tak bisa menyentuhnya, meskipun sudah beberapa kali aku
mencoba.
“ Kemarin dia kan baik-baik saja?”.
“Seingatku sudah satu minggu lebih dia tidak keluar
rumah?”.
“ Oh, iya ya....! kemana dia selama ini?”.
“ Mana kutahu, sudahlah, mungkin tidak ada yang
tahu?”.
Terdengar kasak-kusuk sebagian
para warga yang hadir saling bertanya tentang musibah yang menimpa Ayah. Mereka saling melontarkan tanya.
Tetap saja tak ada yang menanggapi atau sekedar menerka-nerka untuk menjawabnya.
***
Prosesi pemakaman ayah
berlangsung lancar dengan di akhiri penaburan kembang bungan tujuh rupa yang
ditaburkan oleh ibu dan adikku. Orang-orang pada bubar meninggalkan kuburan
ayah, kecuali ibu dan adikku. Sebenarnya aku termasuk, tapi kenyataannya mereka
tidak menyadari kehadiranku.
“Kak...” panggil adikku dengan menahan sesenggukan.
Kemudian menangis seperti biasanya, tangisan yang mulai kemarin membuatku
merasa tidak betah tinggal dirumah. Akan tetapi sekarang beda, aku merasa
terharu dengan tangisan adikku. Sebentar, mengapa adikku bisa melihatku, apakah
dia benar-benar bisa melihatku, atau dia cuma memanggil namaku lantaran aku
tidak bisa hadir pada pemakaman ayah.
Ah, itu tidak terlalu penting.
Aku harus mencari tahu penyebab hilangnya kuda putih ayah. Ya, pak komar.
Mungkin dia tahu.
Aku beranjak dari kediaman
terakhir ayah, meskipun pada kenyataannya kakiku berat meninggalkan kuburan
ayah.
Dan dipersimpangan jalan pintu keluar pemakaman umum aku terperangah
mendengar percakapan Pak Komar dengan para warga.
“Semenjak teknologi berkuasa dia harus rela menjual kuda putih
kesayangannya”.
Madura, 2014

Comments
Post a Comment