Tanah Pahlawan



Selepas ziarah dari kuburanmu. kaki ini kulangkahkan pada suatu tempat dimana kenangan manis dan pahit pernah menyapa dalam hidupku. Sekaligus tempatmu dulu mencarikan nafkah untuk keluargamu. Sepoi-sepoi angin lirih menemani langkah prjalananku, sembari memberiku hidangan kesejukan yang sudah sekian lama aku enggan untuk menghirupnya. Di tambah panorama alam yang mempesona, membuatku seakan hidup pada masa lalu yang pernah kulalui bersamamu. Andai saja lorong waktu benar-benar ada, aku akan kembali pada masa itu dan mengubah suatu waktu dimana aku pernah menyakiti dan mengecewakan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku—tiada lain hanyalah engkau, Ayah.
Dan kalau memang kenyataannya tidak bisa, aku akan lebih memilih untuk mati di usia muda saja. Seperti yang pernah dikatakan pak guru ketika aku masih SD dulu:” orang yang mati sebelum baligh (masih muda) sama sekali tidak punya dosa”. bukankah seorang anak bisa menolong oarang tuanya di akhirat kelak? dengan begitu, aku bisa menjadi anak yang lebih berguna.
“Sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi, karena bubur selamanya tidak akan pernah jadi nasi lagi”. Itulah nasehat yang pernah kau katakan waktu itu. Tapi aku akan berusaha untuk mempermak  bubur yang tidak sengaja aku buat. Agar menjadi bubur yang di minati banyak orang. Sekali lagi maaf, aku tidak berjanji.
Di sini, di tempat ini. Masih melekat dan terpatri dalam file otakku. tentang cerita sekaligus dialog yang berlalu.
“Nak, ayah ingin kelak semua keturunan ayah mewarisi sawah ini. Jangan sampai di jual. karena hanya sawah inilah satu-satunya warisan berharga dari mendiang kakekmu”. Ucapmu suatu waktu dulu. Hampir di setiap kita betatap muka, pasti kata itu selalu kau ucapkan. Entahlah, tapi sayang , sedikitpun tak ada kata yang bisa kupahami. Aku hanya bisa takdim mendengarkan semua tutur katamu, kemudian tertawa. Maklum, waktu itu usiaku baru dua tahun.
Tapi, semenjak usiaku betambah dewasa, dan sedikit demi sedikit mulai mengerti dan memahami maksud dari perkataanmu. Mengapa  perkataan itu mulai pelik untuk kau ucapkan lagi?. Waktu itu kau lebih sering bercerita--tentang kakek semasa hidupnya; tentang prilaku, prinsip, dan semuanya mengenai kehebatan kakek. Mungkin dengan begitu kau beranggapan kalau suatu saat nanti aku akan punya keinginan untuk menjadi seperti kakek, yang sudah menyatukan jiwanya dengan sawah ini.
Walhasil, pradugamu sama sekali tidak meleset. mendengar ceritamu, membuatku ingin seperti kakek. tapi, lama kelamaan keinginan itu mulai pudar, kandas , menyerpih tinggal puing. Itu dikarenakan aku terlalu bosan untuk mendengar cerita yang itu-itu saja. Setiap waktu, bahkan setiap malam menjelang aku mau tidur, tidak lupa kau bercerita tentang kakek. Aku bukan anak kecil lagi. Tapi aku juga tidak seharusnya menyalahkanmu. Karena semua yang kau lakukan, semata hanya untuk membuatku agar mencintai sawah ini.
***
Mengingat masa lalu, membuatku ingin meneteskan kembali air mata. Namun tak bisa, karena seluruh air mataku telah habis, tumpah, buncah, meratapi kepergianmu yang sangat tragis. sama seperti saat kepergian kakek yang selalu kau ceritakan; dibunuh oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Apakah selanjutnya giliranku?.
Aku menyesal dulu pernah menyakiti hatimu, lantaran tak menghiraukan keinginanmu. itu semua kulakukan karena aku merasa yakin dengan pendirianku. Mungkin saat itu kau telah di gerogoti yang namanya penyakit phobia—kau pikir jika aku kuliah, aku tidak akan kembali lagi dan melupakan sawah ini. Mengapa kau tidak percaya padaku. Adakah seorang anak yang ingin melihat orang tuanya kecewa?.
Ayah, engkaulah satu-satunya orang yang berarti dalam hidupku. Sekaligus pengganti dari sosok ibu yang selama ini aku tidak pernah merasakan kehangatan dalam pelukannya. Kau bilang ibu pergi saat aku terlahir ke dunia ini. Pergi kemana?. Pertanyaan itulah yang sering aku tanyakan padamu waktu itu. Tapi mengapa kau tak pernah memberi tahuku. Aku malu ayah. Ketika SD dulu aku sering jadi bahan olok-olokan. Banyak perkataan yang sungguh menyakitkan yang keluar dari mulut teman-temanku—mereka bilang aku anak haram.
“Aku bukan anak haram....!”.
“Kalau bukan anak haram, terus kemana, dan dimana ibumu sekarang. Mana mungkin ada seorang ibu yang tega meninggalkan anaknya, kecuali ibu yang hamil tanpa ayah yang jelas”.
“Aku punya ayah”.
“Itu bukan ayahmu, siapa tahu kalau dia kasihan melihatmu ditelantarkan”.
Cercaan demi cercaan seakan menjadi kebutuhan primer untukku. Tapi aku tidak pernah menghiraukannya, dan kuanggap semua itu hanyalah suara demonstran kepada pemimpin. Aku memaklumimu ayah, dan tidak pernah sedikitpun aku membencimu. Karena aku tahu, diammu selama ini pasti mempunyai alasan yang logis, sehingga kau tak mampu untuk menceritakannya.
***
Setelah kelulusanku dari bangku SMA beberapa tahun yang lalu. Aku punya keinginan untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Saat itu aku tengah bahagia, berkat prestasi yang kugapai pemerintah akan menjamin semua keperluanku dan memberiku kebebasan untuk memilih universitas mana yang aku mau. Tapi waktu itu kau malah mencegahku—melarangku untuk kuliah. Aku diam dan sebersitpun tidak punya keinginan untuk membencimu. Meskipun aku harus membuang jauh semua asaku—kesempatan yang tak mungkin dua kali datangnya.
Malam berikutnya , aku melihat raut wajahmu tampak murung. Ketika kuhampiri kau malah berkata; “mungkin inilah waktu yang tepat untuk kau mengetahuinya”. Pikiranku linglung. Sedikitpun tak mengerti apa yang kau maksud. Kucoba beberapa kali menerka-nerka. Tetap saja hasilnya nihil. Hening.
“Tentang apa?”. Tanyaku kemudian.
“Tentang apa yang ingin kau ketahui selama ini”. Kembali keheningan meyapa. Jangkrikpun bersahutan seolah jadi musikal di saat ketegangan dan rasa ingin tahu bersatu padu. Kau tarik napas dalam-dalam, kemudiam kau hempaskan dengan pelan. Setelah itu, kau lanjutkan perkataanmu.
“Bukankah selama ini kau ingin tahu, kemana dan dimana ibumu sekarang?”. Aku diam, ingin sekali aku menjawab iya, namun tetap saja mulutku bungkam seribu bahasa. Melihat tidak ada reaksi dariku, kau langsung saja meneruskan perkataanmu. Sepertinya kau sudah tahu kalau aku ingin menjawab iya.
“Dulu ketika kau masih dalam kandungan ibumu. Keluarga kita tengah mendapat ujian dari sang maha pencipta jagat semesta raya. Untuk makan saja ayah dan ibumu harus pontang-panting mencari hutang. Karena sawah yang selama ini ayah jadikan tempat untuk mengais rejeki sudah tidak bisa digunakan lagi. Ada sekelompok misterius yang tiba-tiba saja datang ke kampung untuk membeli sawah para penduduk dengan harga yang cukup lumayan. Banyak warga yang tergiur dan menyerahkan sawahnya. Tapi tidak dengan ayah, ayah tidak mau membuat kakekmu kecewa, ayah tetap bersikeras untuk mempertahankannya.”.
“Ternyata mereka malah mengancam akan memasang bom di setiap sawah penduduk yang tidak mau menjualnya. Ayah takut ancaman itu tidak main-main, akhirnya ayah diam saja dan tak berani pergi kesawah. Meski ancaman itu belum jelas kebenarannya. Semenjak itu tak ada warga yang pergi kesawah, terkecuali kakekmu”.
“Itu masih belum cukup nak, bersamaan dengan tidak berakhirnya cobaan. Cobaan baru malah datang. Tiba-tba saja kakekmu terbunuh. Dari sumber yang berpendapat, yang membunuh adalah suruhan kelompok misterius itu. Mungkin mereka benci—lantaran hanya kakekmulah yang berani tetap kesawah dan tidak mau menjualnya kepada para setan keparat itu. Hutang ayah menumpuk nak, belum lagi untuk biaya pemakaman kakekmu”.
“Sehingga timbul dari pikiran ibumu untuk pergi merantau mencari kerja ke luar negeri. Waktu itu ayah tidak setuju dengan pikiran ibumu. Tapi ayah tidak bisa menjawab saat ibumu berkata; “kalau anak ini lahir mau di beri makan apa,dan terus kalau anak ini mati, siapa lagi yang akan melanjutkan perjuangan kakek?”. Ayah tidak punya apa-apa lagi waktu itu. Bahkan sawah yang kami bangga-banggakan telah tergadai untuk biaya pemakaman kakekmu. Ayah bingung dengan cara apa lagi menebusnya. Ayah tidak ingin membuat perjuangan kakekmu berujung kesia-siaan”.
“Dan tibalah kemudian hari dimana kau menghirup udara kehidupan nak. Alhamdulillah kau lahir dengan selamat meski tanpa ada dukun beranak yang membantunya. Ayah sangat bahagia, tapi kebahagiaan itu tak bertahan lama. Tidak lama dari hari kelahiranmu, ibumu pergi keluar negeri tanpa sepengetahuan ayah. Hanya selembar suratlah yang memberi tahu ayah kalau ibumu telah pergi”.
“Sebulan setelah keprgian ibumu, sebuah amplop berisikan uang dan surat di kirim ke ayah. Tiada lain dari ibumu. Lambat-laun setelah entah beberapa bulan dan beberapa putaran matahari berlalu. Akhirnya hutang yang sekian lama menggunung lebur juga. Dan ibumu berjanji akan secepatnya pulang. Tapi sampai saat ini tak kunjung jua. Ibumu  bagaikan lenyap bagai ditelan bumi”.
Itulah pertama kalinya aku melihatmu menangis. Akupun larut dalam tangisan itu.
***
Semenjak aku mengetahui kepergian ibu selama ini. Pikiranku mulai tak tentu arah dan menyangka yang bukan-bukan.
Aku takut nasib ibu sama dengan nasib orang-orang yang kulihat di berbagai media massa. Mereka adalah pahlawan devisa—TKW yang bekerja di luar negeri. Aku melihat banyak di antara mereka pulang ketanah airnya dengan keadaan yang tidak baik—di aniaya, di perkosa, dan bahkan ada yang pulang dalam keadaan sudah menjadi mayat. Siapa yang harus di salahkan.........?. Mereka. Itu tidak mungkin, mereka nekat karena terpaksa. Karena desakan ekonomi dan sempitnya lapangan kerja.
Di samping itu. Di negeri ini, untuk di terima kerja minimal harus berpendidikan. Terus bagaimana dengan nasib rakyat yang tidak berpendidikan? Tak ayal kebanyakan dari mereka mencari jalan pintas—cara mudah mendapatkan uang. Meski tubuh harus di perdagangkan.
Bagaimana kebijakan para pemimpin menyikapi fenomena ini? Ah, mengapa aku bertanya pada pemimpin?. Tapi ada benarnya juga. Kemana perginya janji mereka waktu mereka masih bersujud untuk di angkat namanya jadi pemimpin. Dan janji untuk melindungi para pahlawan devisa. Kemana.................? pertanyaan demi pertanyaan selalu hadir dalam benakku. Pertanyaan yang aku sendiri bingung untuk siapa pertanyaan itu.
***
Senja telah pulang keperaduan. Akupun begegas meninggalkan sawah. Dalam perjalanan , aku melihat banyak orang melototiku dengan tatapan tajam. Terlihat seperti tatapan kebencian. Aku tidak memperdulikannya. Kulangkahkan kakiku, melangkah dan terus melangkah menuju rumah yang entah sudah seperti apa bentuknya.
Banyak perubahan yang terjadi pada kampung ini. Biasanya menjelang malam kampung ini tampak samar, karena hanya mengandalkan cahaya rembulan.
Sekarang, dimana-mana telah terpasang lampu. Seakan globalisasi layaknya nabi Muhammad yang di utus kemuka bumi ini. Terdengar sayup-sayup suara adzan maghrib melengking di angkasa. Akupun sudah sampai dirumah. Sejenak kurebahkan tubuhku yang letih di atas kasur.
Setelah shalat maghrib keadaanku kembali bugar. Aku melangkah keruang tamu sembari kupandangi setiap sudut ruangan. Mengingatkanku pada kenangan pahit saat dimana aku meninggalkan rumah ini. Waktu itu diruang tamu ini terjadi debat mulut antara aku dan kau, Ayah. Kita tetap teguh dengan pendirian masing-masing—kau yang tak memperbolehkanku kuliah dengan alasan aku tidak akan kembali lagi dan melupakan kampung ini. Sementara aku tetap ngotot, dan memaksamu untuk memperbolehakanku kuliah. Tetap saja hasilnya nihil. Sehingga kuputuskan untuk tetap kuliah dan meninggalkan rumah ini.
Sesungguhnya aku tidak akan kuliah tanpa mendapat sebongkah restu darimu. Tapi semenjak petemuanku dengan Ulfa di kampung ini. Kegelisahan selalu singgah bak setan yang tiada henti menggoda anak cucu Adam.  Entah, apa aku sedang jatuh cinta atau hanya terjerat nafsu birahi saja.
Wktu itu Ulfa dan teman-temannya tengah merayakan kelulusannya di kampung ini. Perkenalanku semakin akrab. Dan aku terperanjat saat ia mengajakku kuliah di tanah kelahirannya, yang akrab disebut kota yang kental dengan huru-hara.
Selayaknya sebagai manusia normal. Aku ingin menggapai cita dan cintaku dengan cara aku harus pergi merantau ketanah kelahiran Ulfa. Syukur, utusan pemerintah yang pernah menawariku tawaran yang menggiurkan datang lagi, dan menyuruhku untuk memikirkan kembali tawarannya waktu itu. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung mengangguk, tanda setuju.
***
Hidup di kota bagiku seperti neraka kecil yang kurasakan di dunia. Aku tersiksa. Tidak bisa lagi menghirup udara bersih, tidak bisa lagi mendengar kicau burung. Yang kudengar hanya deru kenalpot yang berlalu-lalang tiada henti. Dan polusi dimana-mana mencemari lingkungan.
Aku jadi paham, mengapa sedari dulu kau dan kakek tidak mau menjual sawah. Meskipun pembeli menawar dengan harga yang tinggi untuk permeternya. Inilah yang kalian takutkan. Tidak bisa dibayangkan kalau pembangunan berhasil dirampungkan. Mungkin tanah kelahiranku saat ini sudah berubah nama, kota. Untung saja para warga mulai terbuka hatinya sehingga sawah yang mereka jual di ambil kembali dengan cara demo menuntut kebenaran.
Beginilah hidup. Selalu ada aral dan konflik yang menyapa. Untuk mencapai kebahagiaan kita harus sabar dan berusaha untuk ikhlas melewatinya. Sebuah wajangan lama yang pernah kau katakan padaku.
Kurasa kisah kita telah memenuhi kriteria untuk menjadi penghuni jagat raya ini. Selanjutnya tinggal giliranku memulai kisah baru bersama cucumu. Entah kisahku nanti seperti apa; semanis madu atau malah sepahit empedu. Kuharap lebih baik dari kisah yang telah kau lalui.
Ayah, bertahun-tahun lamanya aku pergi meninggalkanmu. Bukan berarti aku melupakan kampung dan dirimu. Masalahnya setelah aku berhasil meraih cita dan cintaku. Dan aku sah mempersunting Ulfa sebagai istriku. Honorarium yang kuterima dari hasil kerja kerasku kubuat untuk menafkahi anak dan istriku. Aku tidak punya uang lebih untuk pulang menjengukmu. Meskipun aku sudah berusaha untuk menabung. Entah, kemana perginya uang itu, sama sekali aku tidak tahu. Karena semua honorarium yang kutrima langsung kuserahkan pada mertuaku. Kata Ulfa uang itu akan aman dan mencegah dari pemborosan. Tapi kalau aku minta untuk keperluan pribadi. Mertuaku malah bilang, kalau itu hanya alasan yang kubuat-buat.
Kejadian itu terus berlanjut. Hingga timbul dari benakku untuk menyelidikinya. Walhasil, ternyata selama ini aku di tipu. Ulfa dan ibunya memang licik. Mereka hanya memanfaatkan hartaku saja. Pantas saja ulfa baru menerimaku saat aku dinobatka menjadi peraih nobel sastra terbaik dan aku di kontrak oleh salah satu percetakan ternama. Dan ibunya yang sedari dulu benci kepadaku, tiba-tiba saja mengangguk setuju.
Secara tidak sengaja aku mendengar pembicaraan Ulfa dan ibunya. Dari itulah aku mengetahui kelicikan mereka berdua. Bahkan Ulfa akan dikawinkan dengan pejabat konglomerat setelah aku sah mentandatangani surat cerai dan mereka berhasil menjual anak semata wayangku. Untung saja aku sudah mengetahui akal bejat mereka. Sehingga aku bisa menyelamatkan anakku, dan aku juga sempat mengambil sebagian uangku untuk bekal biaya pulang kampung.
Tapi ketika aku bergegas untuk pulang. Aku malah dikejutkan dengan selembar surat yang ditujukan kepadaku tanpa alamat pengirim yang jelas. Sehabis membacanya, aku baru tahu kalau kau telah pergi meninggalkanku untuk selama-lamaya—dibunuh orang.
***
Aku tidak habis pikir. Mengapa di era ultramodern ini masih ada saja orang yang lebih bodoh dari jaman jahiliah dulu. Apakah petani merupakan pekerjaan hina? Hingga tak ayal anak petanipun selalu dikucilkan, ditendang, dan dianggap sampah. Apakah mereka tidak tahu kalau petani adalah pahlawan? Tanpa petani kita tidak akan bisa makan nasi. Dan kalau semua petani beralih profesi, sawah tidak lagi berfungsi. Gedung menjulang tinggi berdiri, banjirpun dengan mudahnya terjadi, tinggal penyesalan dikemudian hari.
Ayah, sampaikan salamku pada ibu jika kau bertemu dengannya. Aku yakin kita akan berkumpul lagi, pastinya akan ada ibu di sampingku. Doakan agar aku bisa meneruskan perjuanganmu. Aku akan berusaha menjaga sawah peninggalanmu, tentunya bersama cucumu dan semua keturunanku kelak.
Jujur aku lebih senang tinggal disawah dari pada rumah mewah. Karena disawah banyak inspirasi yang kudapat. Dan sawah bisa membuatku merasa awet muda, karena bisa tersenyum sepanjang hari. Sawah, aku lebih senang menyebutnya tanah pahlawan. Karena disawahlah para pahlawan mengabdikan diri; Pahlawan yang kebanyakan orang tidak menganggapnya.*


Malang, 2014


Comments