Di Pesta Ulang Tahunmu



belum hilang potongan pertama kue tar yang kau sodorkan padaku, aku menyeka kerinduan lewat bau parfum aroma keringat yang menyengat.
 aromanya menawarkan perhelatan kenduri digelar kembali, dimana waktu enggan berlalau pergi.

tak sempat aku sematkan lantunan mantramantra, seketika aku lupa hanya untuk sekedar menyapamu.
mengapa kau diam perempuanku; senyum isyarat berkarat tanpa harus kau harapkan keinginan bersyarat.

maka biarkanlah dingin angin berlalu pada hari senin. biarkan ia membawa kabar, biarkan ia menggelepar seperti ombak yang terkapar.
tak sanggup aku beritakan cerita ini pada kawan, terlalu nihil untuk disempurnakan setiap tatapan yang tertuang pada semangkok cawan.

ini gelisah tak bertuan, tersebab cuaca mengabaikan doa dari setiap kata yang terbata.
izinkanlah puisi ini yang berbicara, dikedalamannya tertoreh cerita kita, waktu aku bertandang di pesta ulang tahunmu.

Malang, 2014

Comments