Seringkali
kita mendengar pernyataan klise bahwa alas kaki itu lebih rendah derajatnya
ketimbang kopyah. Alasannya karena alas kaki ada dibawah dan setiap hari selalu
diinjak-injak. Sedangkan kopyah menjadi terhormat karena tempatnya ada di atas
kepala, dan kopyah menjadi mahkota diatas kepala itu sendiri.
Namun
banyak sekali manusia yang tidak sadar bahwa pernyataan tersebut sebenarnya
adalah salah. Mari kita analogikan dan berpikir bersama;
Kita anggap
alas kaki adalah tipe manusia yang bekerja, sedangkan kopyah adalah tipe
manusia yang selalu berdzikir. Jika kita perhatikan dari segi penglihatan
mata, maka berdzikir itu derajatnya lebih mulia daripada bekerja. Tapi lain halnya jika kita
melihat menggunakan mata hati, yaitu dengan menggunakan perenungan, dan lebih
mengedepankan manfaat yang diberikan.
Contoh sederhananya,
jika posisi kita sebagai suami yang memiliki kewajiban memberikan nafkah pada
seorang istri. Pada kasus seperti ini, tipe manusia yang bekerja akan berusaha
semaksimal mungkin untuk mendapatkan biaya yang bisa memenuhi kebutuhan
keluarganya. Sedangkan tipe manusia yang berdzikir memiliki suatu
pemahaman kuat bahwa segala rezeki sudah diatur oleh Allah SWT. Dan sekali lagi
tipe manusia yang berdzikir kelihatan tampak suci dan terhormat.
Yang
menjadi pertanyaan, apakah seorang istri akan bahagia jika suaminya kerjaannya
hanya berdzikir saja? Rejeki, kematian, dan jodoh memang sudah diatur, dan kita sudah
paham dengan dalil itu. Tapi bukankah kita juga tahu kalau Allah itu maha
melihat dan mengetahui apa yang dilakukan oleh hambanya? Dan bukankah Allah
juga akan mengabulkan doa bagi hambanya yang sabar (orang yang berusaha
semaksimal mungkin, kemudia menyerahkan segala takdir pada Allah).
Dari itulah
kita harus tahu bahwa Allah akan melihat apa yang kita usahakan, mengapa kita
berusaha, dan untuk apa usaha itu.
Seperti
halnya alas kaki dengan kopyah. Sekarang mana yang lebih tinggi derajatnya.
Alas kaki yang melindungi kita dari kotor atau kopyah yang hanya menjadi hiasan
kepala. Tentunya kita sudah bisa berpikir, jangan sekali-kali melihat dari sisi
yang tampak, karena yang tampak seringkali menipu. Bekerjalah untuk Allah,
didalamnya terdapat ilmu dan dzikir itu sendiri.
Malang, 17
Desember 2014
Comments
Post a Comment