Surat untuk Kedua Malaikat


:Nursiati dan Abdul Latif


“Pada usia ke dua puluh ini aku lupa untuk mengatakan “I Love You”, padahal aku tidak pernah lupa untuk mengatkan kalimat itu pada kekasih yang pernah aku cintai”

Pada usia kedua puluh ini, aku ingin menuliskan surat sederhana untuk kalian berdua. Surat ini tidak terlalu istimewa, tapi ada beberapa kalimat yang belum sempat aku katakan pada kalian.
Hari ini aku telah berhasil membuktikan kalau aku bisa kuliah seperti yang kalian inginkan. Tapi sama sekali bukan hadiah terindah yang bisa kupersembahkan. Sebab pengorbanan yang kalian berikan teramat berharga daripada milyaran permata berlian.
Bila kalian ingat, pertengkaran kecil yang kalian lakukan, sama sekali bukan karena adanya kebencian. Melainkan karena terlalu bingung memikirkan nasib pendidikanku kedepan.
Waktu itu aku terbangun, tapi pura-pura tetap menutup mata. Sebab aku tak mau kalian tahu, aku takut kalian punya pikiran kalau telah menggangu tidur nyenyakku.
Aku juga tahu, kalian rela menghutang demi pendidikanku. Aku mendengarnya dari pertengkaran kecil dimalam itu.
Maaf, bukan aku mau menguping pembicaraan kalian, tapi Tuhan hanya ingin aku tahu kalau pengorbanan kalian tak bisa ditebus dengan apapun yang aku miliki saat ini.
Kalian telah mengajariku banyak hal tentang kehidupan.
Ibu, dari cara bicaramu mengiyakan setiap keinginan yang aku sampaikan. Aku belajar betapa sikap optimis adalah cara terbaik untuk melangkah kedepan. Kau mengajariku tentang arti berpikir positif (memandang setiap kejadian adalah cara Tuhan untuk memberikan yang terbaik untukku).
Kau tidak pernah menganggap kesulitan sebagai penderitaan, bahkan kau tidak bisa membedakan antara sedih dan senang, karena semua yang menimpamu kau jalani sebagaimana adanya. Tidak peduli apa yang terjadi, semua adalah sama.
Ayah, dari sikap diam yang kau tunjukkan. Aku juga belajar banyak hal tentang kehidupan.
Dulu waktu aku bersamamu, sama sekali kita tidak pernah bicara lebih dari lima menit. Bahkan aku tidak pernah mendengar kau memberi nasehat atau kata-kata bijak untuk memotivasiku. Tidak pernah, padahal aku sangat mengharapkan itu.
Tapi setiap kali kau akan bekerja, tidak lupa kau mengajakku untuk menemanimu. Meskipun aku hanya duduk diam melihatmu, kau tidak membolehkanku untuk membantumu.
Aku sempat marah karena aku anggap diriku ini tidak berharga. Apalah artinya diajak bila hanya bisa duduk santai melihatmu bekerja. Aku ingin sekali membantumu, tapi kau selalu bilang kalau pekerjaan itu tidak cocok untukku. Sampai akhirnya aku sadar, dan memahami apa maksud dari semua itu.
Kau tidak mau melihat aku melakukan pekerjaan yang sama. Aku harus lebih baik, kurang lebih seperti itulah yang ingin kau katakan dalam diammu. Dan aku sadar, sekalipun pekerjaanku nanti lebih baik dari yang kau kerjakan, semua itu tidak bisa menebus ketulusan kasih sayangmu. Kasih sayang yang tak terucap dari kata, tapi sangat menyentuh dalam hati.
Dari diammu pula aku belajar, betapa hidup ini harus dijalani dengan kerja, kerja, dan kerja. Bukan banyak konsep belaka, melainkan bukti nyata.
Terimasih untuk Tuhan, yang telah mengutus kedua malaikatnya untuk menemani hidupku.
Setiap detik merangkak bersama putaran matahari yang membawa terik
Setiap menit mencatat segala peristiwa tanpa pamit
Setiap detak jantung memanggil suara yang bergolak
Setiap langkah mengikuti irama nyanyian yang merekah
Antara detik, menit, detak, dan langkah, untukmu kupersembahkan kata cinta.
I Love You Ibu
I Love You Ayah
Selagi mereka masih ada, jangan sampai kita lupa untuk mengatakan cinta pada mereka. Selagi kesempatan itu masih ada, jangan sia-siakan waktu itu.
Kasih sayang mereka akan tetap ada selamanya
Tapi kebersamaan dengan mereka, tidak akan ada selamanya.

Malang, 31 Desember 2014

Comments