Setiap melihat angka-angka di kalender, yang kita kenang hanya angka khusus, dimana peristiwa tercatat dalam lembaran sejarah, dan seketika menjelma prasasti mulia.
Angka-angka selalu saja tampak sama, bermula dari angka 1 dan berakhir paling jauh di angka 31. Kita seperti disuguhkan dengan tontonan yang berulang-ulang. Sejauh apapun angka melaju, ia hanya berputar-putar mengikuti garis lingkaran bundar.
Namun angka-angka tak pernah berontak, ia terima apa yang seharusnya ia dapat. Karena ia tahu, meskipun angka tetap sama, sejarah akan mencatatnya dengan warna yang berbeda.
Bukankah kehidupan manusia tak jauh beda dengan angka-angka di kalender?
Adakalanya Tuhan menciptakan kita tepat pada angka 1, ada juga yang 3, 5, dan angka lainnya. Setiap kali kita sampai pada angka kelahiran, doa-doa berdatangan, bahkan sebagian menggelar pesta perayaan. Ada yang menyambutnya dengan sekedar kegembiraan, ada pula dengan perenungan.
Orang yang sekedar gembira berkata “Terimakasih atas kehidupan yang Kau berikan Tuhan”.Namun yang merenung berkata “Apa yang sudah aku berikan pada kehidupan Tuhan”.
Sebagaimana angka-angka di kalender, kehidupan juga tergaris dalam ketetapan Tuhan. Angka akan selalu tampak sama, namun sejarah yang membuatnya berbeda.
Kita adalah angka yang bermula dari kelahiran dan akan berakhir pada kematian. Namun sejarah yang kita ciptakan, yang akan menuntun kita pada lembah keabadian.
Sumenep, 5 Mei 2015
Catatan:
(spesial ucapan ulang tahun untuk Ibu J.W.A. yang mengajariku sebuah gagasan : hiduplah dengan kebebasan yang kau yakini, tapi yang perlu di ingat, bahwa akibat tercipta lantaran ada sebab).

Comments
Post a Comment