Coretan Mimpi
4
“Agar ujian terasa ringan, engkau harus mengetahui bahwa Allah lah yang
memberimu ujian. Zat yang menetapkan beragam takdir atasmu adalah Zat yang
selalu memberimu pilihan terbaik”
(Ibnu Athaillah)
Membaca kembali kisah yang
tertinggal dimasa lalu merupakan sebuah reuni hati dan jiwa. Butuh sedikit
ketegaran dan keyakinan untuk kembali menyelam kedalamnya. Selepas membaca
kisah tentang kehidupanku di Yogyakarta. Aku menemukan keberanian untuk membaca
kembali kisah yang tertinggal lebih jauh. Bahkan sebelum aku terlahir menjadi
manusia seutuhnya. Tidak hanya itu mungkin pada saat itu Ayah dan Ibuku belum
cukup tahu tentang kehidupan. Ya, belum bisa merasakannya. Mungkin saja.
Setelah pengumuman tentang
ketidak lulusanku terdengar oleh kedua orang tuaku. Aku mendengar suara
ketegaran terlontar dari kata-kata Ibu yang sama sekali tidak kecewa atas hasil
dari apa yang telah aku lakukan.
“Sudahlah nduk jangan putus asa, mungkin masih
bukan rejekinya. Coba lagi, bagaimanapun hasilnya itu belakangan. Yang paling
penting kamu tetap berusaha dan tetap yakin kalau setiap hasil adalah jawaban
Tuhan yang terbaik untukmu”.
Suara ketegaran Ibu yang
kudengar lewat ponsel HP seketika membuat mataku mengembang. Tak terasa butiran
bening air mata mengalir membasahi wajah muramku. Aku tak tahu lagi harus
bagaimana. Ibu menyuruhku untuk mencoba lagi mengikuti tes masuk perguruan
tinggi. Sedangkan aku sudah tidak lagi berada di Yogyakarta. Aku tidak berani
pulang kerumah. Tidak kuat melihat raut wajah yang selalu berharap akan
keberhasilanku tiba-tiba berubah muram. Aku tak mau Ibu tahu kalau aku tidak
mau lagi melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku takut Ibu kecewa
terhadapku. Juga mereka—orang-orang yang sudah membekaliku dengan uang untuk
keberangkatanku.
Malam itu udara cukup
dingin. Dalam keheningannya aku memberanikan diri untuk bertawassul di pasarean ki
sepuh. Ya, ketidak beranianku untuk pulang telah mengantarkanku kembali ke
Podok Pesantren yang telah banyak mengajariku arti kehidupan yang sesungguhnya.
Seperti kebiasaanku dan santri-santri lain. Berziarah dan melantunkan ayat suci
Al-Quran di pasarean ki sepuh adalah
obat paling mujarab yang mampu memberikan ketenangan batin bagi setiap santri
yang merasakan kebimbangan dan kerinduan pada keluarga di rumah.
Berziarah mendatangi pasarean ki sepuh adalah sebagai
pengingat bahwa manusia semakin bertambahnya umur semakin mendekati kematian,
juga sebagai wujud dari ketidak pantasan seorang manusia yang banyak melakukan
dosa langsung meminta sesuatu pada Tuhannya. Karena itulah mengapa setiap kita
ingin berdoa tak lupa kita mengirim surat Fatiha, maka sepantasnya kami sebagai
santri percaya kalau doa kami akan sampai pada Dzat Maha pencipta jagat semesta
raya. Meskipun ada sebagian pendapat yang mengatakan itu sirik, tapi kami tetap
tidak percaya. Toh pada kenyataannya kami tidak menyekutukan-Nya.
Selepas ziarah dan bertawassul di pasarean ki sepuh aku lanjutkan dengan salat dua rakaat di Masjid
Aminah yang tidak begitu jauh dari pasarean
ki sepuh. Kembali bermunajat meminta kepastian dari tindakan yang akan aku
lakukan.
“Ya Allah, berikanlah yang terbaik bagi
hambamu ini”.
Doaku tidak terlalu
panjang. Hanya meminta yang terbaik, itu saja.
Pagi harinya aku putuskan
untuk pulang kerumah kecilku. Kedatanganku disambut dengan pelukan hangat Ibu. Juga
ayah dan semua keluargaku. Kembali aku rasakan kehangatan dalam keluarga.
Mungkin baru kali ini aku merasakan kehangatan yang membuat hatiku tentram.
Setentram ketika aku bermunajat kepada-Nya.
“Kamu kurusan nduk……?”
suara Ibu membuka percakapan.
“Perasaan Ibu saja kali”
ucapku datar, menimpali pertanyaan Ibu. Meskipun pada kenyataannya apa yang
dikatakan Ibu sama sekali tidak salah. Badanku sudah tidak seperti biasanya.
Akan tetapi aku tetap bangga, karena kekurusan badanku ini adalah bukti dari
perjuanganku menahan lapar. Seperti kisah para ulama ketika mencari ilmu yang
selalu diceritakan KH. Dahlan guru ngajiku.
“Ya sudah, cepat sana
makan dulu sudah Ibu siapakan. Biar tambah gemuk”
Secepatnya aku letakkan
tas yang masih tergantung dilenganku diatas kasur. Dan tanpa basa-basi aku
langkahkan kakiku menuju kedalam dapur. Ikan T2 (Tempe dan Tahu) seakan
menyambut kedatanganku. Ibu sangat tahu kalau kedua lauk itu merupakan lauk
faforitku. Tak lupa kecap yang sudah berbaur dengan cabe merah berbaris
disampingnya. Kecap pedas plus tahu tempe merupakan suatu koalisi yang tak bisa
terlepaskan dari menu makanku dari dulu. Tidak sama dengan teman-teman kecilku
yang sukanya makan ayam dan daging. Karena bagiku antara ayam dan daging
kelezatannya hanya sementara. Lain dengan tahu tempe yang kelezatannya bisa
terasa sampai perutku tidak kuat menampungnya.
Serba kekurangan dalam
kehidupan telah mengajariku banyak hal. Bahwa hidup bukan untuk disesali dan
didamkan. Hidup adalah rentetan batu yang berjajar menghalangi setiap keinginan
manusia. Hanya manusia dengan ketekunan dalam berjalanlah yang akan mampu
melemparkan setiap batu yang menghalangi. Bahkan menghancurkannya sebagaimna
tetesan air yang terus menerus menetesinya hingga terjadi retakan sampai
akhirnya terbelah.
Dan hidup akan terasa
menyenangkan bila kita mampu menikmatinya. Sebagimana tempe tahu yang
mengalahkan ayam daging dari lidahku.
Selesai makan aku
menghampiri Ayah dan Ibuku yang sudah menantiku di ruang tamu. Mataku tiba-tiba
terpusat pada kursi yang diduduki kedua orang tuaku. Tak ada kata yang bisa aku
ungkapkan untuk melukiskan rasa kesedihan dalam hatiku bila melihat kedua akar
yang selalu menyemangatiku dalam menjalani hidup tidak bisa menikmati masa tuanya dengan perasaan damai. Mereka
harus tetap bekerja untuk tetap bisa bertahan hidup. Belum lagi untuk kedua anaknya yang harus mengenyam pendidikan sampai
perguruan tinggi.
Seketika air mata
megembang. Tak sanggup aku menyaksikan potret kehidupan yang terbentang di
depan mataku.
“Loh, kok nangis?” Ayah
menghampiriku.
“Ah, tidak. Kecapnya
terlalu pedas” ucapku menimpali pertanyaan Ayah.
“Ya sudah, ayo duduk dulu.
Ceritakan pengalamanmu di Yogyakarta”
Dengan santai aku
ceritakan banyak pengalaman yang aku dapat di Yogyakarta. Penglaman ketika aku
pertamakali naik eskalator, lift, masuk gedung mewah, dan lima jam terjebak di
dalamnya—tidak menemukan pintu keluar. Satu pelajaran yang sangat berarti—malu
bertanya sesat di jalan. Kecuali pengalaman tentang bagaimana aku menahan lapar. Tidak sepantasnya
mereka mendengar kisah itu. Biarlah kisah perjuanganku menahan lapar tersimpan
hanya untukku. Mungkin akan aku ceritakan setelah berhasil menjadi orang
sukses.
***
Setiap malam datang
bertandang. Saat itulah aku selalu memikirkan langkah apa yang akan aku lakukan
selanjutnya.
Langkah yang belum ada kejelasan pasti—antara kuliah dan kerja. Akupun bingung
harus memilih yang mana. Jika aku kuliah, dengan apa aku bisa membayarnya.
Tidak mungkin aku terus-terusan meminta uang sama orang tua. Dan aku yakin
mereka tidak akan mampu membiayai kuliahku nanti.
Malam itu aku hanya pasrah pada
keadaan. Entah apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Setiap malam aku
merenungkan nasib apa yang akan menimpaku bila aku tetap di desaku—tidak
kuliah. Yang terbayang jelas saat itu adalah sawah, cangkul, arit, sapi, dan
segala pernak-pernik buruh tani. Oh, betapa malang nian nasibku. Jika
kehadiranku dimuka bumi ini hanya bisa melanjutkan derita nasib keluarga.
Haruskah anak buruh tani dan kuli angkut tepung akan menjadi seperti ayahnya.
Mungkinkah kodrat Tuhan sudah tergaris agar aku melanjutkan perjuangan ayahku
memperjuangkan hidup dengan cara yang sama. Mungkinkah. Begitulah saban malam
aku memikirkan nasibku.
Dan malam ini aku hanya bisa
mengingat masa itu dengan pikiran yang sama. Aku berandai-andai apa yang akan
terjadi denganku esok
hari, esoknya lagi dan seterusnya. Kembali aku dihadapkan pada pertanyaan yang sama
yang harus aku jawab dengan pilihan
yang membingungkan. Antara kuli dan kuliah.
***
Comments
Post a Comment