Coretan Mimpi
7
“Jagalah imanmu dari keraguan, karena sesungguhnya keraguan itu akan
merusak iman, sebagaimana garam merusak madu”
(Ali bin Abi Thalib)
Hari
Minggu adalah hari libur dimana setiap pekerjaan dan pelajaran dihentikan untuk
sementara.Hari itulah yang dijadikan kesempatan oleh para pelajar, buruh, dan
pegawai untuk merefres otak yang saban hari disesaki oleh beban tanggung jawab.
Lari pagi adalah salah satu cara yang digunakan untuk melepas penat dan menambah
kebugaran jasmani-rohani.
Ditengah
keramayan kerumunan orang-orang yang berlari pagi disekitar taman perumahan
Vila Bukit Tidar, Malang. Aku termenung duduk diam, sesekali aku pandangi
mereka yang menikmati kesejukan udara pagi dengan riang.Terlihat juga beberapa
pasangan keluarga dengan putra-putrinya berjalan santai beriringan sambil
bersenda gurau.Pemandangan yang harmonis, namun terkadang membuatku iri bila
terlalu lama memandangnya.
Ada
perasaan sedih yang kuraskan.Masa kecil yang tak pernah aku lewatkan dengan ayah-ibuku
dengan berjalan bersama sekedar menikmati kesejukan pagi dengan melihat embun
yang masih basah.Masa yang sangat mustahil keinginan itu bisa terjadi seperti
yang aku inginkan.Karena tidak ada yang namanya hari libur untuk keluargaku,
libur sama saja membiarkan kemiskinan terus bersama mendampingi kehidupan
kami.Sehabis solat subuh ayah harus berangkat sepagi mungkin kesawah.Menjaga
padi dari gangguan burung bila hampir mendekati masa panen, membajak sawah
dengan cangkul, atau mencari rumput untuk pakan sapi.Setelah itu melakukan
aktifitas lainnya, seperti mengangkut tepung, dan kerja serabutan
lainnya.Sedangkan ibu juga sibuk dengan urusan rumah tangga, dan juga membantu
ayah untuk menambah penghasilan.Dimana ada peluang disitulah ayah dan ibu berada.
Pemandangan
itu semakin menambah daftar kegalauanku.Karena hari senin esok adalah hari
penentu dari nasib pendidikanku.Hari terkahir pembayaran uang kuliah, dan jelas
aku ingat pengumuman yang tertera di website kampusku. Bagi yang telat membayar
uang kuliah dinyatakan mengambil cuti akademik, dan harus mengurus izin
pengambilan cuti, bila satu minggu terhitung dari terakhir pembayaran kuliah
belum mengurus surat perizinan, maka mahasiswa dinyatakan mengundurkan diri
atau droup out dari kampus. Sebenarnya
aku masih bisa bernafas lega setelah membaca pengumuman itu. Aku sudah
mengambil keputusan untuk mengambil cuti akademik, dan waktu satu semester akan
aku pergunakan untuk kerja. Akan tetapi setelah membaca kelanjutan pengumuman
itu.Napasku seperti tersengal dan cukup kaget mengetahuinya.Bagi yang mengambil
cuti akademik uang semester tetap berlaku.
Aku
tidak bisa setegar ibu dan nenek yang tak bisa membedakan antara kesulitan dan
kemudahan, karena bagi mereka yang terjadi adalah rencana Tuhan yang terbaik,
dan ujian untuk menyeleksi siapa saja yang pantas mendapatkan firdaus-Nya. Aku
tahu kalau mereka pasti bisa menerima segala yang terjadi, bahkan kenyataan
putus kuliah yang kemungkinan besar akan menimpaku. Akan tetapi terlalu sulit
untukku bisa menerimanya.Aku tidak bisa menyaksikan kebahagiaan mereka
melihatku bisa merasakan pendidikan sampai perguruan tinggi, tiba-tiba runtuh
akibat putus kuliah.Apalah artinya merantau jauh bila tak ada hasil untuk bekal
pulang, dan apalah arti semua pengorbanan yang selama ini mereka berikan, bila
aku tetap dalam kondisi jalan ditempat—hanya meminta belas kasihan dan
mengharap bisa hidup menopang pada keluarga.Apalah arti kehidupanku, terlahir
hanya untuk dikasihani.
Hembusan
udara pagi yang dibawa angin menghantam kedalaman nurani.Mencoba menghiburku
dengan hawa sejuk, memaksa kepalaku untuk tegak dan memerintahkan mataku untuk
melihat barisan pemandangan yang berbaris rapi dengan lambaian dedaunan hijau
yang bertengger pada pucuk reranting pepohonan.Berdiri tegak diantara hamparan
tanah pegununan, memainkan ritme musikalisasi alam. Ada isyarat segar yang aku
rasakan. Tuhan yang aku sembah seketika mulai menampakkan kekuasaannya,
mengabarkan kedamaian hanya untuk mereka yang bisa berdiri tegak seperti pohon,
membawa kesejukan seperti daun dipucuk reranting—tetap melambai tidak
memperdulikan bahwa dirinya akan jatuh.
Tubuhku
seperti mendapat energi baru, mulai kulakukan pemanasan, menghirup udara pagi
dalam-dalam, kemudian kuhempaskan lewat mulut dengan perlahan. Kurentangkan
kedua tangan, kemudian menyatukannya diatas kepala, dilanjutkan dengan
peregangan otot yang lain. Membiarkannya lemas seperti kehidupan tanpa beban.
Sudah
hilang ingatanku tentang peristiwa yang belum terjadi padaku.Aku terlalu
mendramatisasi keadaan yang menimpaku.Tanpa sadar aku telah melupakan Tuhan
yang saban waktu berada dekat—bahkan dari nadiku sendiri.Aku juga telah mencoba
melawan arus dengan menciptakan praduga negatif .Astagfirullahaladhim,terlontarlah
ucapan istigfar sebanyak tiga kali.
Tuhan telah memberikan petunjuk lewat metafora
ciptaan-Nya. Aku adalah bagian mahluk yang diciptakan lebih sempurna dari
mahluk lainnya. Sudah sepantasnya aku bisa lebih baik dalam menyikapi setiap
permasalahan yang coba Tuhan ujikan, aku harus bisa selalu bertasbih dan
memperbanyak dzikir, sebagaimana
rumput, pepohonan dan jutaan miliar mahluk lainnya yang tiada waktu sedetikpun
dilewatkan untuk berdzikir. Aku juga harus bisa setegar-sepasrah daun yang siap
jatuh kapan saja dan mengakhirinya dengan liukan senyum akan jalan yang
digariskan Tuhan.
Mulailah aku langkahkan kaki sambil berlari kecil mengelilingi pinggir perbatasan jalan yang melintang
seperti jembatan membelah lautan. Udara segar kuhirup sekuat hidungku sanggup menahan
napas, aku rasakan segala kerisauan ikut larut bersama segarnya udara pagi,
kemudian ikut terhempas melayang terbang entah kemana. Setelah terasa keringat
mulai membasahi tubuh kurusku, aku belokkan langkah menuju arah jalan pulang
ketempat asrama Rumah Motivasi tempat dimana aku berdiam tinggal bersama dengan
kawan-kawanku. Apapun yang terjadi, terjadilah. Ucapku dalam hati.
***
Comments
Post a Comment