Api yang Sengaja Kami Nyalakan


“Api itu menakutkan, kulitku pernah terbakar waktu kecil. Aku takut dengan api”
“Air itu dingin, kucingku selalu kabur kalau terkena air. Kucingku takut dengan air”
Begitulah percakapan sederhana yang kami perbincangkan. Tak ada arah yang benar, pembicaraan kami kehilangan tujuan, buntu. Tapi kami selalu tertawa, menyadari kekonyolan yang baru saja terjadi. Mulutku tak bisa menahan gugup ketika berduaan dengannya. Begitu juga dengan dirinya.
Dia adalah wanita kedua setelah ibu, yang singgah menyapa hatiku, dan bertandang didalamnya. Wanita yang membawa cahaya dengan kobaran asmara. Tidak lama kami saling kenal, hanya beberapa minggu, itu sudah cukup bagi kami untuk bersatu.
“Apa yang lebih spesial dari pertemuan” ia hanya tersipu, tak memberikan respon dari pertanyaanku. Sengaja aku diamkan, sambil mempelajari hakikat menunggu. Sesekali ia menatap kedalaman mataku, menyelam kedasar yang paling dalam. Ada yang ia temukan, sorot mata yang tak pernah berbohong. Aku juga menemukan itu dikedalaman matanya.
“Apa yang lebih spesial dari pertemuan” untuk kedua kalinya aku bertanya, ia masih diam, tapi senyumnya mengembang. Ia sudah tahu mengapa aku ulangi pertanyaan yang sama.
“Apa yang lebih spesial dari pertemuan” ia mengulangi pertanyaanku, menggeleng-gelengkan kepala, memegang tanganku, tersenyum, kemudian tertawa.
“Aneh, kau masih waras” aku juga tersenyum, tanganku belum ia lepaskan. Ia sudah tahu apa yang sebenarnya ingin aku ungkapkan.
“Apalah artinya jawaban, bila pertanyaan cukup dibalas dengan senyuman” ia balik bertanya.
“Apalah artinya senyuman, bila menyimpan keambiguan” aku tak mau kalah.
“Mungkin senyuman terasa ganjil, tapi sorot mata tak pernah berbohong”
Ya, sorot mata tak pernah berbohong. Ia memang sudah tahu, begitu juga aku.
Semua berawal dari penasaran, penasaran menawarkan ingin, ingin menawarkan perkenalan, perekenalan menawarkan pertemuan, pertemuan menawarkan kebersamaan, kebersamaan menawarkan penyatuan. Kami bersatu, kami berpadu dalam langkah yang menggebu.
Tidak lama dari itu akhirnya ia menjawab.
“Yang lebih spesial dari pertemuan adalah kerinduan, dalam rindu ada keinginan untuk penyatuan”
Kami tertawa bersama.Kami resmi jadian. Api cinta baru saja berkobar.
“Api itu menakutkan, kulitku pernah terbakar waktu kecil” Aku mengulangi perbincangan yang dulu tak terarah.
“Api tidak selalu menakutkan, api adalah petunjuk, menjadi penerang kegelapan ”
“Tapi kulitku pernah terbakar, api itu kejam, ia juga pernah membakar rumah kakekku”
“Apakah kamu lupa, nasi yang kau makan dulu masih menggunakan jasanya”
Dia selalu saja menang dalam perdebatan, eh, bukan berdebat, maksudnya setiap pertanyaan yang aku ajukan.
Aku jadi tidak takut lagi dengan api. Ia yang mengajariku untuk berani. Sebenarnya api adalah simbol dari keberanian, katanya menjelaskan. Api adalah keberanian, ia berkobar dengan tangkas, cahayanya menyebar menembus kegelapan. Api memang menakutkan, tapi tidak semua api selalu membuat kesedihan. Tergantung bagaimana api itu ditempatkan, termasuk juga keberanian. Itu penjelasannya, aku hanya mengulang saja.
“Apakah api cinta ini benar-benar berkobar , kita kan tidak menyalakannya, kita hanya sepakat dengan senyuman”
Matanya menerawang jauh memandang awan. Aku cukup memandang sorot matanya, keindahan yang ia lihat bisa juga aku rasakan, tanpa harus ikut melihat awan. Ia adalah awan itu sendiri, indah, tetap mempesona sekalipun tak tersentuh. Memandangnya sudah cukup bagiku.
“Senyuman adalah isyarat, isyarat yang mampu diterjemahkan sudah mewakili kobaran api, dan itu alami, buat apa dinyalakan kalau ia bisa menyala sendiri” jawaban yang indah, seindah apa yang baru saja ia lihat.
Tapi hukum alam tidak bisa ditentang, keindahan bisa berubah kapan dan dimana saja. Padahal keindahan itu tidak pernah berubah. Ya, keindahan adalah keindahan, ia tetap mempesona. Yang berubah bukan dirinya, tapi pandangan kita, juga pandangan kami. Pandangan telah membelokkan kearah yang semu.
Dulu tempat pertemuan itu begitu mempesona, kami bersepakat menjadikannya monumen bersejarah, kami menyempatkan setiap waktu senggang untuk duduk bersama, membicarakan apa adanya. Tak ada yang seru, perbincangan kami tetap tidak berubah, tidak menemukan arah. Kami kehabisan bahan perbincangan, jika serius, paling tidak itu hanya sepuluh persen dari perbincangan kami, sisanya tak ada. Tapi tempat itu selalu saja menawarkan aura manisnya, kami tidak pernah bosan.
Mempesona, itu dulu, sebelum pandangan kami berbeda arah. Tempat pertemuan itu bagi kami adalah sampah, menjijikkan. Jangankan melihatnya, mengingat saja kami tak mau. Bukan tempatnya yang salah, tapi pandangan kami tidak lagi sama.
“Apa yang lebih spesial dari pertemuan”
Ada kata yang belum kami pahami, sebenarnya kami mengerti, tapi antara aku dengannya secara diam-diam sengaja tidak mau membahasnya. Karena kami tidak menginginkan. Siapa yang mau membahas, kalau ternyata yang lebih spesial dari pertemuan bukanlah kerinduan, melainkan menyambut datangnya perpisahan. Setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan, siapa yang mau menyambutnya, tak ada. Itulah mengapa kami secara diam-diam tidak mempersoalkannya. Kami tahu, kami sepakat untuk bisu.
***
Api adalah keberanian.
Keberanian harus berkobar, kelemahan hanya akan membuat diri kami terbakar.
Api itu sengaja kami nyalakan, membiarkannya membakar serpihan kenangan.
Api itu bergolak, kami paksakan berdiri gagah sambil menyorak:
Selamat tinggal.
Malang, 25 Januari 2015
Catatan:
(kado spesial untuk mereka yang ditinggal pergi)

Comments