Awal Masuk Sekolah

Coretan Mimpi
11

“Kulihat para penghuni dunia, walau tampak menetap, sesungguhnya ia adalah musafir yang sedang melakukan perjalanan, namun ia tidaklah sadar”
                                                
(syair)

Masa awal sekolah adalah masa paling indah bila kita bisa mengenangnya kembali. Masa dimana kita mendapat
 dunia baru, masa pertama mengenal sahabat, angka, huruf, dan sosok guru. Itulah yang bisa aku ingat, karena pada waktu itu pendidikan kanak-kanak—TK belum jadi kewajiban dalam dunia pendidikan. Aku belum pernah mengenyam yang namanya pendidikan bermain sambil belajar itu.
Pada usia 4 tahun aku sudah ingin masuk sekolah. Entah karena apa aku sangat ingin seperti teman sepermainanku yang dengan gagah memakai seragam sekolah—mereka dua tahun lebih tua dariku. Maka pada usia itu, bangku sekolah telah aku enyam.
Keinginan itu berawal dari kejenuhanku ketika tidak bisa bermain dengan teman-temanku waktu pagi. Mereka sedang belajar, sedangkan aku hanya bisa diam dirumah. Tak ada mainan yang aku punya. Karena aku selalu menolak ketika mau dibelikan maianan.
Tahukah kalian, sejak kecil temanku perempuan semua, jadi mainanku adalah main masak-masakan, dan segala permainan anak perempuan lainnya. Sebenarnya aku juga punya teman lelaki, tapi bagiku bermain dengan laki-laki sangat membosankan. Aku lebih suka mainan anak perempuan, dan semenjak itu pula aku punya cita-cita ingin menjadi chef yang mempunyai restoran seperti film-film disinetron drama FTV.
53Aku ingat, pagi itu kedua orang tuaku mengantarku ke sekolah.
“Kamu harus belajar yang benar, biar jadi anak pintar” Ibuku berbisik dikupingku ketika aku mau masuk ke kelas.
Aku hanya bisa diam. Pandanganku tertuju pada teman-teman baruku yang berada di kelas satu. Tak ada tegur sapa, karena kami baru bertemu. Kecuali teman perempuanku.
“Ayah dan Ibu pulang dulu ya, nanti pulangnya akan dijemput” Ibu berkata lagi, sedangkan aku tetap memandang teman-teman baruku. Dan kedua orang tuaku berlalu pergi.
Dengan langkah malu-malu aku berjalan mendekati guruku yang memanggil agar aku berada disampingnya.
“Ayo nak kesini, kenalkan siapa namamu”
Aku tetap diam, tak kuhiraukan perkataan guruku. kegembiraanku seketika punah. Aku pikir dengan ikut sekolah aku bisa bermain selayaknya ketika berada dirumah. Akan tetapi semua teman-temanku duduk diam tanpa memegang mainan atau sedang kejar-kejaran.
“Baiklah, mungkin teman kalian ini masih malu. Silahklan duduk, bergabunglah dengan teman-temanmu” guruku menggandeng tanganku menuju salah satu bangku yang kosong.
“Aku tidak mau duduk disini”
“Baikalah, cari sendiri kamu mau duduk dimana”
“Aku mau duduk bersama temanku, Ida”
“Loh, laki-laki duduknya sama laki-laki juga, lagian tempat duduk Ida sudah penuh”
“Pokoknya aku ingin duduk disitu”
Dengan sangat terpaksa akhirnya guruku ngalah juga.
Aku cukup lega ketika guruku mengizinkan aku duduk bersama teman sepermainanku, Ida. Pada usia itu aku belum cukup mengenal yang namanya malu. Karena hanya Idalah yang aku kenal. Sebenarnya Masku juga satu kelas denganku, namanya Hadi. Entah mengapa aku lebih senang bila bersama Ida, mungkin karena dialah salah satunya teman dekatku, sedangkan Mas Hadi, aku selalu bertengkar bila dekat dengannya.
54Awal pertama masuk sekolah aku cukup berbeda dengan temanku yang lain. Pertama, aku tidak menggunakan seragam sebagaimana yang lain—aku lebih senang menggunakan kaos kebanggaanku yang bergambar Yoko—pahlawan disinetron yang rambutnya panjang. Kedua, niatku sekolah hanya untuk bermain, jadi ketika teman-temanku sudah bisa baca dan tulis, aku masih sibuk menggambar lidi, cacing, dan balon yang bundar.
Dan satu lagi, aku suka berantem dan usil terhadap teman-temanku. Jika ada yang menangis karena ada permen karet yang melekat dicelananya, guruku pasti sudah tahu siapa biang keladinya, ya, aku. Bila kelas dalam keadaan sepi, aku kunyah permen karet dan kutaruh ditempat duduk teman-temanku. Tapi anehnya guruku sama sekali tidak pernah memberitahu kedua orang tuaku. Hanya saja aku dipanggil dan diancam akan diberhentikan sekolah bila aku tetap nakal.
Sejak saat itulah aku berhenti mengusili teman-temanku. Bukan karena aku takut tidak bisa sekolah lagi, karena aku tahu guruku adalah guru paling baik dan sabar yang aku kenal. Pak H. Masduki namanya. Beliau selalu dinobatkan sebagai guru terbaik tiap tahunnya. Aku tahu itu hanya gertakan agar aku jerah, tapi dengan kebaikan itulah akahirnya aku bisa luluh.
Itulah cerita ketika aku baru masuk sekolah, ada banyak kenangan dan pelajaran berharga yang bisa aku dapatkan dimasa kecilku itu. Mungkin tidak terlalu banyak, tapi setidaknya aku sadar, bahwa manusia adalah budak kebaikan. Dengan kebaikan yang kita berikan, maka orang yang merasa dibantu akan memiliki rasa sungkan bila tidak mengikuti kemauannya. Dan aku selalu berandai-andai, seandainya kehidupan bisa dijalani sebagaimana anak kecil, mereka melakukan apa saja tanpa rasa malu dan sungkan, semua berjalan apa adanya. Ya, terutama percaya diri—tidak minder dengan yang diperbuatnya.
Dan sepertinya penyakit yang di derita bangsaku saat ini adalah kurangnya rasa percaya diri. Sepertinya.

***

Comments