Coretan Mimpi
6
“Kami selalu tidak dapat membangun masa depan bagi generasi muda kita,
tetapi kita dapat membangun generasi muda kita untuk masa depan”
(Franklin D. Rosevelt)
Ketika kita berbicara tentang malam yang tidak mungkin
kita lewatkan adalah tentang tidur dan mimpi. Mimpi seringkali dikatakan
sebagai bunga tidur. Bunga yang menjadi pernak-pernik disaat kita lemas dalam
kondisi tak berdaya. Banyak misteri yang tersimpan didalamnya, dan orang
terdahulu dalam suatu adat perkampungan tak luput juga menjadikan mimpi sebagai
acuan, pedoman, dan isyarat dalam kehidupan. Sehingga tak dapat dipungkiri lagi
bila mana kita bermimpi indah dan baik, maka kehidupan kita akan membaik.
Sebaliknya bila mimpi kita buruk, saat itulah pikiran kita selalu dihantui
ketakutan. Pikiran yang terlahir akibat suatu keyakinan yang ditanamkan sejak
usia dini. Dan tanpa kita sadari kebaikan dan keburukan sebenarnya pikiran dan
prasangka kita sendiri yang menciptakan—Tuhan hanya bisa mengiyakan, karena
hambanya sendiri yang meminta.
Lain halnya dengan pikiranku memaknai sebuah mimpi. Mimpi
adalah serpihan kisah yang sengaja diciptakan Tuhan yang tak ada satu mahlukpun
mampu menangkapnya. Satu kebesaran yang coba Tuhan persembahkan untuk
orang-orang yang mau berpikir dan mengakui kesempurnaan-Nya. Tadi malam setelah
aku mengembarakan ingatanku pada jejak yang nenek torehkan dalam perjalanannya.
Telah menemani tidurku dengan mimpi yang Tuhan kasih tentang sosok ayahku yang
pendiam.
“Ingat nak, jangan
sekali-kali kamu mengeluh pada setiap keadaan yang menimpamu. Teruslah berusaha
dan sabar untuk menghadapinya. Apapun yang terjadi terimalah dengan lapang.
Karena pada hakikatnya keinginan bukanlah tujuan yang harus kita rangkul dan
kita miliki, tapi proses yang kita jalani adalah inti dari keinginan itu sendiri.
Disitulah letak ilmu berada, dan Tuhan telah mempersiapkan hadiah tak terduga
yang lebih baik dari keinginan itu” harapku itu terlontar
dari mulut ayah.
Akan tetapi aku hanya mendapatkan suatu
perbincangan yang sama sekali tidak aku harapkan. Karena yang ayah bicarakan
hanya bertanya bagaimana keadaanku, dan hal remeh temeh lainnya, setelah itu
diam, hening. Pada saat itulah aku selalu merasa ayah adalah sosok misterius
yang memerlukan interpretasi kearah tasawuf untuk memahaminya. Sekalipun ayah
seperti itu, aku tetap kagum dan menyayanginya. Bisa jadi karena semenjak aku
kecil sampai sekarang, sedikitpun tidak pernah aku jumpai ayah memarahiku,
apalagi memukulku. Siapa tahu, bisa jadi pula, itulah salah satu trik cara ayah
mendidik anaknya.
Bila
mengingat namanya yang tergambar dalam pikiranku adalah ketika dia bekerja
tanpa kenal lelah. Tidak peduli betapa panasnya matahari membakar kulit, dan
betapa dingin angin malam berhembus. Dipikrannya hanya bagaimana agar
keluarganya bisa bertahan hidup dan anaknya bisa tetap mengenyam pendidikan
setinggi mungkin. Ayah tidak pernah berkata “Kejarlah pendidikan setinggi
mungkin, jangan seperti ayah, nasibnya kurang baik. Cukup ayah saja yang
merasakan hidup melarat, jangan kau wariskan kehidupan ayahmu ini pada keturunanmu
kelak. Sekolahlah yang rajin, ubahlah nasib keluarga ini dengan pendidikan yang
tinggi” mungkin terlalu berlebihan bila ayah berbicara seperti itu.
Sering
aku berpikir dan bertanya-tanya sendiri tentang profesi ayah sebagai kuli
angkut tepung, padahal di kartu keluarga
dan KTP yang aku baca, pekerjaan ayah adalah petani. Tapi mengapa ayah
lebih terkenal sebagai kuli angkut tepung. Entahlah, percuma memikirkan itu.
Sampai akhirnya aku cukup paham, petani adalah pekerjaan biasa yang hampir
semua masyarakat dikampungku berprofesi sama. Jadi satu jawaban telah aku
pecahkan, jawaban dari pertanyaan yang aku ciptakan sendiri. Tinggal jawaban
sikap pendiamnya terhadapku yang sampai saat ini tak juga aku temukan
alasannya. Mengapa ayah bersikap seperti itu, mengapa dengan warga yang lain
tidak.
Untungnya
aku masih memiliki ibu yang cukup lincah dan senyuman yang tidak pernah
menampakkan rasa sedih dalam menghadapi cobaan apapun. Kedekatanku dengan ibu
dan kehangatan berada dalam pelukannya, menjadi relaksasi tersendiri disaat
pikiran kacau-meracau, disaat beban terasa berat, disaat tidur terasa susah,
disaat perut mulai lapar, disaat keinginan ingin dicapai, disaat itulah ibu
selalu menyemangatiku.
Dari
senyum ibu pulalah aku mulai memahami sikap pendiam ayah. Ternyata aku didik
bukan dengan cara banyak bicara, melainkan banyak bertindak. Saban hari dan
malam ayah banting tulang mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak peduli
seberapa banyak upah yang diterima, tidak peduli seberapa lelah ia melangkah,
tidak peduli seberapa panas terik matahari menyengat kulitnya, tidak peduli
seberapa dingin angin malam menusuk pori-pori tubuhnya, tidak peduli seberapa
rendah pekerjaannya, yang paling penting halal dan keluarganya bisa makan, dan
anak-anaknya bisa menempuh pendidikan setinggi mungkin adalah tujuan yang telah
meleburkan rasa malas, panas, dingin, lelah, dan putus asa. Tujuan mulia demi mendapat
keridhoan Ilahi. Tujuan yang ingin ia
sampaikan pada anak-anaknya, tujuan memberikan pendidikan dan bekal berharga
untuk menjalani kehidupan dunia tanpa harus menggunakan rangkaian kata-kata
indah. Aku mulai memahaminya dari pancaran senyum ibu.
Untuk
mengenang jasa dan isyarat pendidikan yang tak terangkai lewat kata-kata.
Seperti hari-hari yang berlalu, dengan puisi aku belajar tentang keindahan,
dengan mengaji aku mengenal keindahan
itu, dan dengan musik aku sering mengembara pada masa-masa yang telah tiada,
termasuk masa indah menyaksikan perjuangan ayah. Diantara sepi yang menikam,
sering kali aku mendengar lantunan bait-bait indah dan suara merdu dari salah
satu penyanyi kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah yang bergenre balada, salah
satu lagunya selalu mengajakku untuk kembali mengenang masa perjuangan ayah.
Ebiet G Ade, itulah nama populernya, lewat lagu Titip Rindu Buat Ayah aku
beranikan diri mengingat masa itu.
Di matamu masih tersimpan Selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm …
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban ho ho
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah adalah pendobrak nyata yang mengajariku
bahwa dalam menjalani hidup kita tidak perlu banyak bicara, melainkan kerja, kerja,
dan kerja. “Jangan terbuai oleh konsep belaka, buktikan dengan kerja nyata”
mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Aku rindu ayah, juga
senyum ibu.
Comments
Post a Comment