Coretan Mimpi
5
“Orang yang menyebut-nyebut pemberiannya
Berarti ia telah mengotori perbuatannya sendiri”
(Ali bin Abi Thalib)
Rembulan semakin
meninggi di atas kamarku, pertanda malam semakin tua. Angin semilir menusuk
tubuh melewati celah-celah lubang dari jendela yang tidak tertutup rapat.
Pikiran limbung melayang-layang tak tentu arah. Antara kuli dan kuliah adalah
pilihan yang seketika menjelma tumpukan beras yang harus kupikul. Dan entah
mengapa pikiranku kembali mengajakku untuk mengingat masa-masa indah bersma
salah satu orang yang banyak berjasa dalam perjalanan hidupku.
Satu hal yang tidak
bisa aku lupakan dalam perjalanan hidupku adalah sosok nenek. Dialah salah satu
penyepirit langkahku dalam dunia pendidikan. Dan jiwa lembutnya serta kekayaan
hatinya telah mengajariku banyak hal mengenai hakikat hidup. Samawiyah adalah
namanya, sesuai dengan namanya dialah langit yang menjadi atap dari setiap
langkah pendidikanku. Tak terbendung rasa kekagumanku padanya. Sosok manusia
yang tak mau kebaikan hatinya diketahui oleh siapapun. Cukup dia dan Tuhan.
Usaha yang dijalankan
nenek adalah pembuatan kerupuk mentah. Usaha itu dirintis berkat doa nenek
ketika melihat aku membuang air besar ditempat pengolahan kerupuk milik
tetangga. Pada waktu itu umurku sekitar satu tahun. Ibu dan nenekku bekerja
ditempat itu. Entah mengapa ketika nenek melihatku buang air besar, hatinya
seperti terpukul lantaran Ibu tidak bisa mengurusku secara on time .
dalam hatinya dia berdoa “Ya Allah, berikanlah aku kesempatan untuk bisa
menjalankan usaha pengolahan kerupuk sendiri. Agar Ibunya bisa mengurus cucuku
dengan baik”.
Berselang sekitar satu
minggu Tuhan telah menjawab doanya. Ada satu malaikat yang diutus untuk
mengabulkan doa nenek. Dia juga manusia, tapi lebih tepatnya malaikat karena
sudah menjadi perantara pembuka pintu rejeki nenek—dan keluargaku. Sayang aku
lupa siapa namanya, tapi dia adalah orang terdekat yang dulu sering mengajak
aku dan adikku jalan-jalan.
Hari itu adalah hari
paling bersejarah dalam keluargaku—sekaligus hari pengubah nasib nenek yang
dulunya tergolong keluarga teramat miskin menjadi keluarga yang berkecukupan.
Pada awalanya orang itu menawarkan kepada nenek agar membuat sendiri kerupuk
mentah. Dialah yang memberikan modal dengan kesepakatan keuntungan dibagi
rata—nenekku bagian produksi dan dia bagian pemasaran. Hari demi hari usaha
nenek mengalami perkembangan yang pesat. Sampai akhirnya orang yang telah
memberikan modal awal itu mundur—dia tidak mau lagi bekerja sama, dan
membiarkan nenek melanjutkan usahanya. Karena pada waktu itu pelanggan kerupuk
yang diolah nenek sudah lumayan banyak. Dan orang itu tergolong keluarga yang
cukup mapan. Sehingga membiarkan nenek memperoleh keuntungan yang lebih. “Sudah
lanjutkan sendiri usaha kerupuk ini, karena cucumu masih butuh banyak biaya
untuk pendidikannya kelak” ucap manusia berhati malaikat itu.
Sebelum itu;
Nenekku lahir dari
keluarga yang amat sangat miskin. Rumah yang dia tempati dulu sampai saat ini
masih utuh. Hanya saja sekarang dijadikan kandang sapi. Kebahagiaan yang bisa
menghiburnya adalah ketika dia bisa makan nasi. Dan kebahagiaan itu sangat
jarang bisa dia dapatkan. Tapi bukan nenek namanya bila dia cepat menyerah dan
mengeluh pada keadaan.
Penderitaan itu terus
berlanjut ketika nenek sudah menikah dan melahirkan ayah. Dia tidak mau ankanya
kelaparan dan kekurangan gizi. Sampai dia rela kembali memakan dedaunan hanya
untuk membiarkan anaknya bisa makan nasi. Karena bila dia ikut makan, takutnya
persediaan berasnya tidak cukup. Yang dia pentingkan adalah bagaimana anaknya
tetap bisa makan, itu saja.
Dari saking lugunya
dia tidak pernah merasa bahwa dirinya tenggelam dalam penderitaan. Dia hanya
menjalani hidup dengan ketabahan hati dan menerima setiap keadaan yang
menimpanya. Sempat pada suatu hari dia teringat pesan Ibunya ketika minta
makan.
“Jika mau makan
bersihkan tanian dan kumpulkan dedaunan keringnya, masukkan dalam tomang,
lalu bakar biar mengepul. Itu akan
mengundang makanan”
Yang ada dipikiran
nenek saat itui hanyalah meyakini apa yang dikatakan Ibunya, tidak peduli
apakah itu benar adanya. Dengan tabah, sambil menahan rasa lapar nenek
mengambil dedaunan kering yang ditumpuknya, dimasukkannya kedalam tomang[1],
kemudian membakarnya. Asappun mengepul melewati celah tembok dan atap yang
terbuat dari anyaman bambu. Tak henti dalam hatinya terus berdoa berharap apa
yang dikatakan Ibunya benar-benar akan terjadi.
Tidak berselang lama,
ada sosok misterius dengan pakaian serba putih, dari wajahnya terpancar rona
kesejukan ketika memandangnya. Entah dari mana dia datang, dan ada perlu apa.
Pertanyaan itu yang seketika memenuhi pikiran nenek.
“Assalamualikum” sosok
miterius itu mengucapkan salam.
“Waalikum salam” ucap
nenek menimpali. “Ada perlu apa ya, apa ada yang bisa saya bantu” dengan
pikiran yang disesaki tanda tanya, nenek mencoba mencari tahu dari mana asal
usulnya, dan ada perlu apa mendatangi gubuk tempat tinggalnya.
“Saya santri dari Songenep,
sudikah kiranya bila saya sedikit saja diberikan beras untuk makan. Saya
diutus oleh kiayi untuk berdakwa ditempat ini, tapi saya tidak punya bekal sama
sekali” ucapnya memelas.
“Oh, sebentar ya nak,
saya ambilkan dulu” tanpa ragu nenek berjalan kedalam mengambil persediaan
beras yang sebenarnya beras itu nenek simpan khusus untuk anaknya. Bukan nenek
namanya bila hatinya tidak tersentuh ketika ada orang yang membutuhkan
pertolongannya.
“Ini nak, tapi maaf
hanya sedikit. Hanya itu yang bisa saya berikan”
“Terimakasih bu,
semoga Allah membalas kebaikan Ibu”
“Iya nak, sudah jadi
kewajiban sesama muslim saling tolong menolong. Bukankah agama telah mengajar
kan kita seperti itu”
“Oh iya bu, sepertinya
Ibu punya potensi untuk berbisnis”
“Bisnis, apa itu”
“Maksudnya, rejeki Ibu
akan lancar bila berdagang. Ibu punya potensi besar untuk jadi pedagang”
“Dari mana anda tahu
kalau rejeki saya dari berdagang”
“Wallahu a’lam hanya
Allah yang Maha Tahu. Dari bisikan hati saya berkata seperti itu, rejeki itu
akan datang asalkan ibu tetap sabar sampai lahir anak yang kedua” ucap sang
santri dengan paras yang meyakinkan. Tak sempat nenek membalas perkataan
santri, sang santripun melanjutkan perkataanya “Dan anak Ibu yang laki-laki
tidak bisa berdagang seperti Ibu, potensi dia bertani. Setiap bertani pasti
rejekinya lancar. Insya Allah”
Nenek hanya diam.
“Jangan lupa untuk
membayar upah karyawannya nanti sebelum keringatnya mengering”
Nenekpun tercengang,
bukan karena tebakan santri yang mengatakan bahwa nenek punya potensi dalam
berdagang. Tapi perkataan tentang anak laki-lakinya. Dari mana dia bisa tahu
kalau nenek punya anak laki-laki. Sedangkan anaknya saat itu sedang bermain
bersama temannya.
“Sekali lagi terimakasih
Bu, saya pamit dulu. Assalamualikum”
“Waalaikum salam”
Santripun pergi
melangkah menghilang dari pandangan nenek. Dan entah mengapa nenek ingin
melihatnya lagi. Nenekpun beranjak dari tempatnya berdiri. Mencari dimana
keberadaan sang santri. Anehnya santri itu tak bisa dilihatnya. Santri itu
hilang seketika. Tak sedikitpun jejak langkahnya bisa diketahui. Santri itu
berkelebat layaknya ninja yang cepat langkahnya. Tidak seperti kebanyakan orang
pada umumnya.
Beribu tanda tanya
memenuhi pikiran nenek. Selama dia hidup baru kejadian itulah yang membuat
pikirannya tak bisa diterima oleh akal sehat. Kejadian aneh dengan datanganya
sosok misterius yang mengaku santri secara tiba-tiba, kemudian menghilang
secara tiba-tiba pula.
Tak henti sampai
disitu pikiran nenek. Tak lupa tebakan yang dilontarkan sosok santri misterius
itu juga ikut menghantui pikirannya kembali. Ribuan tanda tanya yang tak juga
bisa ditemukan jawabannya. Kejadian aneh, muskil, mustahil yang nyatanya benar
keberadaannya. Puji syukur kepada Sang Maha Segala tak lupa dipanjatkan. Inilah
jawaban dari setiap janji-janji Tuhan yang kebanyakan orang tak bisa
menjumpainya, karena terinfeksi virus syak yang melemahkan keyakiannya. Innallaha
dhanna abdihi, bukankah Allah sesuai dengan perasangka hambanya. Ah, betapa
kejam virus syak itu. Hanya keraguanlah penyebab dari setiap kehancuran.
Dan nenek telah membuktikan dengan tetap meyakini bahwa segala kebaikan telah
diberikan jatah oleh Tuhan dengan balasan yang berlipat-lipat.
***
Cerita yang menarik
dan inspiratif telah mendorong langkah demi langkah perjalanan hidup yang tak
semulus aliran air. Cerita tentang Rasulullah SAW. Yang menahlukkan hati para
musuhnya dengan kebaikan.
Tatkla saban hari Rasullullah selalu dicemooh, dilempari batu, di hina
dengan mengotori halamannya denga kotoran busuk, tak sedikitpun tampak dari
diri Rasulullah rasa benci terhadap orang hina itu. Bahkan ketika orang yang
selalu mengganggu Rasulullah seketika tidaklagi menampakka batang hidungnya.
Terbersit tanda Tanya dalam dirinya, dan bertanyalah Rasul pada para sahabat
“Wahai para sahabat, tahukah kalian kabar tentang oarang yang selalu
menghinaku. Mengapa sampai hari ini aku tidak melihatnya” sahabatpun menjawab
“Ya Rasulullah, sungguh Allah telah membalas orang tersebut dengan
menjadikannya sakit. Dan tak ada seorangpun yang mau menjenguknya”
“Bisakah salah satu diantara kalian bersedia mengantarku ketempatnya”
“Untuk apa ya Rasul. Bukankah selama ini dia selalu menghina, dan
melempari batu padamu”
“Aku tahu wahai sahabatku, tapi sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjenguknya. Sekejam apapun orang
terhadap kita, jangan sekali-kali kita langsung membencinya. Siapa tahu mereka
itu tidak tahu kalau perbuatnnya salah. Doakanlah orang yang menghinamu, semoga
Allah memberikan hidayah padanya”
“Sungguh mulia dan suci hatimu ya Rasul, baiklah akan kutunjukkan jalan
menuju kediamannya”
Rsulullah pun beranjak dari tempatnya menuju kediaman orang yang selalu
menghinanya. Sontak, kagetlah orang tersebut melihat Rasulullah menghampirinya.
“Mengapa kau menjengukku, bukankah aku selalu menghinamu, melemparimu
batu, mengotori halaman rumahmu”
“Sudah menjadi kewajibanku untuk menjenguk orang sakit”
“Apakah itu termasuk dari ajaran agama yang kau bawa”
“Benar, Dialah Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak pantas
bila aku sebagai hambanya bersikap dengki dan mudah marah”
“Sungguh semenjak aku sakit baru engkaulah yang menjengukku. Bahkan
orang-orang terdekatku sama sekali tidak peduli dengan keadaanku. Saat ini pula
aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusannya.
Ashadualla ilaha’illallah waashaduanna Muhammdarrasulullah”
Kebaikan Rasulullah
telah menjadikan orang yang selalu menghinanya mendapatkan hidayah dari Allah.
Begitulah cerita yang
sering aku dapatkan. Terkadang cerita tentang perjuangan para pahlawan ketika
dalam masa penjajahan, cerita tentang Abu Nawas sang pujangga yang banyak
mengundang gelak tawa, cerita tentang kancil yang cerdik, cerita tentang
legenda Joko Tole, Ke’lesap, Adi Podai, Adi Rasa, asala usul Sumenep, dan
cerita apa saja yang membuatku semakin dekat dengan nenek.
***
Malang yang dingin dan
malam yang menua mengantarku pada alam tidur dan menghiasinya dengan mimpi
indah ketika aku kembali dalam dekapan lingkungan keluarga.
***
Comments
Post a Comment