Kampung Kelahiran


Coretan Mimpi
9

“Mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, sedangkan kehormatan seseorang adalah budi pekertinya”

(Umar bin Khattab)

Dan waktu seakan menarik seluruh ingtanku pada masa yang tak pernah bisa aku kembali padanya. Biarlah, setidaknya seluruh ingatanku masih tergambar jelas. Kampung cermai, begitulah aku menyebut nama kampung kelahiranku. Bertepatan pada tanggal 04 Maret 1994 Tuhan menakdirkan aku untuk lahir kedunia. Aku tidak terlalu tahu bagaimana proses kelahiranku, tidak ada seorangpun yang pernah bercerita, termasuk Ayah dan Ibu. Apakah aku lahir dengan cara yang mudah, atau sebaliknya. Aku juga tidak tahu apakah aku lahir dari tangan seorang dokter, atau dari dukun beranak. Mungkin itu tidak terlalu penting untuk diceritakan.
Kampungku adalah kampung yang terletak dibagian ujung timur Pulau Madura—Kabupaten Sumenep. Disanalah awal ceritaku bermula. Sebagai putra pertama merupakan sebuah tantangan yang harus aku hadapi. Karena adat yang berkembang secara tidak disengaja, lelaki adalah tonggak utama yang harus memikul beban keluarga. Ya, semua beban harus dipikul oleh anak lelaki tertua—untuk menanggung kehidupan adik, Ayah, dan Ibunya kelak setelah dewasa.
41Pada masa itulah pertama kalinya aku bisa membuat kedua orang tuaku bahagia dengan sunggingan senyum yang sumringah. Hati orang tua mana yang tidak bahagia melihat bayi pertama yang lahir dengan fisik sempurna, kecuali orang tua biadab yang rela menjual, bahkan membuang bayinya ke tong sampah. Dan orang tua seperti itu hanya segelintir orang saja, aku yakin begitulah adanya. Karena pada dasarnya setiap orang tua akan tetap bahagia, hanya saja nafsu angkara murka yang membelokkan semuannya.
***
Pagi yang cerah dikampungku memberikan sentuhan panorama indah, Tuhan menitipkan keindahan itu lewat hijaunya dedaunan yang menyatu pada pohon yang menghiasi tiap tanian--halaman perumahan warga. Hampir semua tanian ditumbuhi pepohonan berbuah—jambu air, mangga, sirsak, dan sejenisnya. Dan satu keasrian yang menambah keelokan kampungku adalah sikap warga yang ramah-tamah, saling berbagi, bahkan bila ada yang mau mengambil buah yang sudah ranum, tinggal meminta, pasti dikasih. Asal jangan mengambil sembarangan, bisa jadi caci makian yang akan didapat. Karena akhlak atau moral sangat dijunjung tinggi dikampungku.
Setinggi apapun kau bersekolah, sepintar apapun ilmu yang kau pelajari, selama apapun kau mendalami ilmu agama dipesantren, bila tidak memiliki akhlak jangan harap menjadi manusia terhormat, bisa jadi manusia paling nista yang dibiarkan hidup untuk dicaci maki. Itulah segelintir cerita dan adat yang berkembang dikampungku. Akhlak adalah hal kewajiban yang paling diutamakan untuk dimiliki warga.
Bisa dikatakan sekolah yang berbasis madrasah atau lembaga yang mengajarkan tentang pentingnya memiliki akhlak akan menjadi tujuan utama para orang tua untuk menitipkan putra-putrinya mendalami ilmu di tempat tersebut. Begitu agungnya akhlak dalam kehidupan kampungku, mungkin tidak hanya dikampungku saja, tapi semua tempat di dunia ini.
“Tidaklah aku diutus kedunia ini, kecuali hanya untuk menyempurnakan akhlak” sabda Nabi Muhammad yang sering diulang-ulang oleh guru ngajiku. Dan tak lupa biasanya ditambahi dengan lantunan ayat Al-Quran yang artinya “Sungguh ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik” tidak ada bosannya guru ngajiku mengulang salah satu bait dari dua wasiat Nabi Muhammad sebelum meninggalkan dunia ini.
42Beliau bersabda, ingatlah umatku, dunia akan berputar maju kedepan dengan berbagai kemajuan dan cobaan yang amat dahsyat. Orang beriman akan diuji dengan godaan yang tiada taranya, orang yang tetap teguh mempertahankan imannya akan diuji dengan cobaan seperti memegang bara api ditangannya. Hanya ada dua tali yang mampu terus membuat mereka kukuh akan imannya. Yaitu Al-Quran dan Hadits, barang siapa dari umatku tetap teguh menjalankan ajaran-ajaran yang terkandung didalamnya, sungguh kebahagiaan surga firdaus menanti kedatangan mereka. Kurang lebih seperti itulah pesan baginda Nabi Muhammad yang sering guru ngajiku fatwakan kepada santri-santrinya, termasuk aku.
Dikampung ini banyak kenangan masa kecil masih melekat dalam ingatanku, salah satunya adalah tentang tingkah nakalku yang banyak orang sulit mempercayainya. Sejak kecil aku terkenal dengan anak yang berbakti sama orang tua, apapun perintahnya, dengan sangat bangga aku kerjakan. Hampir semua masa kecilku aku habiskan dengan belajar, meskipun tidak pernah serius—mulai dari membaca Al-Quran, matematika, bahasa arab, ilmu fiqih, dan masih banyak lagi—Setelah solat subuh, mengaji ilmu nahwu-shrraf, dilanjutkan persiapan sekolah, pulangnya istirahat sebentar, sorenya belajar ilmu Al-quran dan Bahasa Arab, sepulangnya persiapan untuk ngaji lagi, dan selanjutnya harus belajar atau mengejakan PR dari sekolah. Coba bayangkan, mana mungkin ada yang percaya kalau aku adalah anak yang nakal. Bahkan orang tuaku sendiri tidak pernah tahu. Lain waktu akan aku ceritakan kenakalanku itu.
***
Konon, dulu dikampugku tumbuh bunga cermai yang menghiasi setiap pagar pembatas bukti kepemilikan tanah—warnanya merah, bentuknya bundar, kecil, dan menggerombol seperti buah anggur. Mungkin inilah salah satu penyebab kampungku diberi nama kampung Cermai, tapi karena logat yang berkembang akhirnya menjadi “Caremmi”. Atau mungkin saja karena kampungku terlihat elok nan permai, dan kata permai berubah menjadi kata cermai. Ada juga yang bilang, karena dikampungku orangnya “Caremi” (banyak bicara), Atau, entahlah, aku kurang tahu asal muasal nama kampungku itu.
43Aku terlahir dari keluarga petani, panorama terindah yang masih lekat dalam ingatanku adalah sawah. Hampir bisa dikatakan semua warga berprofesi sebagai petani. Suara cicit burung dipagi hari adalah nyanyian terindah yang bisa aku nikmati, hijaunya tanaman disawah adalah lukisan yang terhampar luas bak birunya lautan yang menggelepar. Hanya itu cerita kecil dari kampung dan masa kecilku.

“Pajjer laggu arena pon nyonara
Bapak tani setedhung pon jeghe’e”

Ya, fajar pada pagi hari tanda matahari akan bersinar, bapak tani yang tidur sudah hampir bangun.
Bait lagu yang menggambarkan watak kerja keras orang Madura. Pagi hari adalah waktunya untuk bekerja, bukan bermalas-malasan di atas kasur. Prinsip yang tertanam secara turun-temurun adalah “reng Madhure tak tako’ mate, tape tako’ kalaparan”—orang Madura tidak pernah takut yang namanya mati—itu sudah hak paten yang digariskan Tuhan. Akan tetapi takut kelaparan, dituntut untuk bekerja dan bekerja. Tidak heran bila banyak darah orang Madura menghiasi setiap pulau dan negeri pelosok dunia. Dimana ada kehidupan, disana pasti ada orang Madura, watak kerasnya banyak digambarkan dengan nada negatif, padahal semua itu tidak benar adanya. Tidak semua orang Madura berwatak mudah membunuh, mudah marah, dan bisanya hanya jadi babu—pekerja kelas bawah.
Aku cukup bangga menjadi keturunan darah Madura. Karena masih banyak orang-orang sukses yang sangat sedikit diperbincangkan kebaikannya, ini karena media massa sangat sedikit yang mau meliputnya. Bisa jadi ketakutan akan stereotip negatif menjadi salah satu penyebabnya. Mungkin. Itulah sebab mengapa kemudian aku ingin masuk bagian dari media massa.

***

Comments