Coretan Mimpi
8
“Pendidikan terbaik dalam hidup kita, bisa jadi adalah satu kenangan yang
tertinggal dari masa kecil”
(Fyodor Dostoyevsky)
Seandainya
aku bisa memilih untuk menentukan hidupku sendiri, yang pertama kali akan aku
lakukan hanya mengubah waktu berjalan mundur. Aku tidak ingin memilih hidup
dikeluarga yang serba kecukupan, karena aku sudah sangat cukup bangga dengan
keluargaku saat ini. Yang aku inginkan hanya kembali kemasa kecil dimana aku
belum cukup tahu tentang kehidupan. Aku ingin bermain, bermanjaria, tertawa,
menangis, makan, minum, tidur, bangun lagi, ngompol dan seterusnya. Sekalipun
aku berbuat nakal seperti mengencingi Ibu, Ayah, Nenek, pokoknya orang-orang
yang ada disekitarku—terutama pastinya yang menggendongku, tetap saja tak ada
yang membenci sikapku itu. Malah, mereka bahagia. Percaya tidak percaya memang
seperti itulah kenyataan pada titik besarnya.
Apapun
yang dilakukan anak kecil semuanya adalah hiburan dan pertunjukan terbaik yang
mampu melunturkan segala kejenuhan orang-orang dewasa. Meskipun pada akhirnya
akan berujung kehawatiran bagi sang anak kecil, lantaran pastinya akan ada
cubitan gemes pada endingnya. Entah mengapa mereka tidak mau berhenti mencubit
sebelum tangisan berdengung seperti alunan melodi yang dimainkan secara nyleneh
oleh para pemusik tentunya. Setelah itu mereka kebingungan sendiri, mencari
beribu akal untuk membuat sang anak berhenti menangis. Aneh bukan, itulah
kehebatan anak kecil.
Tahukah
kalian, anak kecil adalah contoh sederhana yang bisa diambil titik pembelajaran
yang terkandung dalam isyarat keberadaannya. Tuhan sudah memberikan jawaban
untuk orang yang tidak memiliki dosa; ia akan disukai banyak orang. Tidak
peduli dari keturunan siapa dan dari golongan apa. Bukankah kita sudah mafhum
bahwa setiap anak kecil terlahir dalam keadaan suci, hanya saja lingkungannya
yang kemudian merubahnya menjadi kotor ketika ia beranjak dewasa. Dan pada saat
itulah ia mulai mendapati segala kegundahan dan kerisauan, sebab banyak noda
dalam setiap tingkah lakunya. Sangat jauh berbeda ketika ia masih anak kecil
yang berstatus suci dari noda. Setiap tindakannya selalu membuat orang sekitar
terkagum dan bangga dengan keberadaannya. Itulah mengapa sebabnya aku sangat
ingin menjadi anak kecil kembali.
Aku
hanya bisa berharap Tuhan memberiku kesempatan memberikan kekuatan seperti
sinetron di TV yang sering aku tonton—punya kemampuan mengendalikan waktu,
merubah sesuka hatinya. Akan tetapi tetaplah tidak bisa aku mendapatkan
keinginan itu, keinginan orang gila lebih tepatnya.
Dikamar
yang tertutup rapat, aku terbujur dengan napas yang terengah-engah. Masih ada
sisa keringat yang mengalir membasahi sekujur tubuh. Puas rasanya aku berlari
pagi ini, sepuas hatiku merasakan kedamaian melepas segala kerisauan
gundah-gulana yang cukup lama menghantui perjalanan hidupku. Mungkin aku tidak
bisa kembali pada masa kecilku, lantaran hakikat hidup adalah proses perjalanan
melangkah maju kedepan, bukan berjalan mundur. Kembali kebelakang adalah ciri
pengecut, kehidupanpun sama. Jika kita berharap ingin kembali mengulang masa
yang lalu, sama saja kita ingin menjadi pengecut, begitulah kiranya kata yang
cocok. Tapi tidak ada salahnya bila mengenang masa itu sebagai wujud
pembelajaran—mengambil yang baik, menggubah yang salah. Kesalahan bukan untuk
diratapi melainkan dipermak sedemikian rupa—menjadikannya wujud yang lebih
baik, petuah bijak yang sering aku baca dari buku pembangkit percaya diri.
Tetap semangat dan selalu bersukur, itu yang
harus aku lakukan. Tidak ada lagi jeritan atau suara menakutkan. Dunia adalah
cerminan dari tingkah laku setiap mahluk. Apa yang diperbuat adalah apa yang
akan diterima. Sikap buruk akan mendapatkan perlakuan buruk, sebaliknya,
perlakuan positif akan membuat dunia memberikan hal-hal yang positif pula.
Saban
hari tingkahku terlingkup dalam jerat tanda tanya, tentang apa yang akan
terjadi selanjutnya. Aku terlalu larut dalam dramatisasi lakon aktor yang
menghayati skenario tak bertuan—terlalu takut melangkah, terlalu takut mencoba,
terlalu takut menatap impian. Padahal Tuhan telah menggariskan segala kebaikan
hanya bagi mereka yang percaya. Dan mau melangkah.
Pikiranku
terfokus pada satu titik, pasti ada cahaya Tuhan dari lingkungan sekitar. Aku
yakin malaikat-malaikat-Nya akan segera tiba menghampiriku, entah seperti apa
wujudnya.
***
Untungnya
aku punya hobi yang mampu melunturkan segala kejenuhan. Apalagi kalau bukan
membaca dan menulis. Tahukah sobat,tulisku dalam buku catatan, orang yang tidak memiliki
hobi tidak akan pernah menemukan peristirahatan sejenak melepas segala
kegundahan. Maka aku sarankan, sesegera mungkin yakini dan jalani secara rutin
segala rutinitas yang menurut kalian adalah hobi yang tepat. Jika merasa
tentram ketika melakukan satu rutinitas, maka itulah hobi kalian. Ada cahaya
yang selalu hidup diantara kegelapan jiwa yang remuk-redam. Hobi itu adalah
salah satu cahayanya. Bisa jadi hobi itulah jalan kesuksesan yang tak terlihat,
ada didepan kita, siapa yang tahu.
Antara
membaca dan menulis aku tidak terlalu memberikan waktu atau jam, kapan, dan
harus mendahulukan yang mana. Semua berjalan tergantung kondisi yang ada. jika
ada buku bacaan aku baca, jika tidak aku menulis. Dan setiap aku pergi dapat
dipastikan selalu ada kertas dan bolpoint.
Pagi ini
aku sudah kehabisan buku bacaan, jadi menulis adalah hal yang harus aku
lakukan. Aku yakin tulisan ini akan menjadikanku bisa hidup selamanya;
setidaknya meskipun aku sudah tiada. Seperti yang pernah ditulis oleh khalifah
Ali Ibn Abi Thalib “Semua penulis akan mati, tapi karyanya akan tetap hidup”
kurang lebih seperti itulah pesannya.
Aku
putuskan untuk menulis kembali kehidupan masa kecilku, kisah dari salah satu
dusun di Pulau Madura sampai saat ini aku berada di kota Malang, mengejar
impian, mengejar ilmu, dan mencari Ridho-Nya. Tak lupa untuk senyum
Ayah, Ibu, Nenek, dan malaikat-malaikat Tuhan lainnya. Simaklah kisah kecilku……
***
Comments
Post a Comment