Percakapan dengan Tuhan

Coretan Mimpi
2

“Jika pikiranmu serupa mawar, engkaulah taman mawar;
Dan jika pikiranmu seutas duri, engkaulah minyak untuk sang api.”

(Jalaluddun Rumi)
 

Suara bising kenalpot semakin lantang menghantam gendang telingaku. Aku hanya terdiam memandangi lalu lalang berbagai macam kendaraan melintasi lorong panjang yang melintang dihadapanku. Tak heran jika keberadaanku seketika menarik perhatian banyak orang untuk melototi sikap yang aku sendiri bingung mengapa aku harus duduk merenung ditempat ini.
Soehart1 begitulah orang-orang menamai sepanjang lorong ini. Tentang asal muasal pemberian nama lorong ini aku belum mengetahuinya secara pasti. Mungkin saja untuk mengenang sosok pahlawan yang telah memberikan konstribusi nyata dalam Negeri tanah tumpah darah tempat dimana Ayah, Ibu, aku dan semua orang yang tidak pernah menganggapku sebagai musuhnya terlahir disini. Negeri yang dhiasi oleh hamparan lautan, dan beraneka bahasa, budaya, dan kepulauan yang tak terhingga indahnya. Mereka adalah Soekarno dan Hatta. Pahlawan yang telah mencatat sejarah dengan tinta emas, yaitu kata merdeka.
Entah sudah berapa lama aku duduk bergeming di atas trotoar ini, aku tak menghiraukannya. Pandanganku lurus kedepan dengan kedua tangan saling berpegangan merangkul kedua lututku. Pikiranku melayang pada suatu malam, ketika aku melihat bayangan Ibu melambai-lambaikan tangan lembutnya yang dulu selalu mengelus dan membelai rambutku disaat aku rebah dalam dekapannya. Wajah itu semakin dekat dan seketika aku seperti terseret dalam ingatan masa lalau. Tanpa sadar aku telah kembali pada masa itu. Bersama Ibu.
***

Malam itu, aku terbangun dari tidur nyenyakku. Jam menunjukkan angka 02.00 WIB. Biasanya akau melewati mala mini bersama teman-temanku, sayang untuk malam ini mereka masih dirumah masing-masing. Kebiasaanku bangun jam dua mungkin diwarisi oleh kedua orang tuaku yang tanpa mengenal kantuk berusaha untuk bangun untuk bermunajat pada sang Khalik. Selekas mungkin aku beranjak menuju kamar mandi. Air sangat dingin. Apalagi malang adalah kota yang terkenal dengan udara dinginnya. Tapi itu bukanlah penghalang untukku. Tidak mungkin Tuhan tega membuat hambanya sakit dengan air dingin yang sangat menusuk menembus tulang rusukku ini.
Setelah selesai berwudhu’ kulanjutkan dengan salat dua rakaat seperti malam-malam sebelumnya dan terakhir dilanjutkan dengan shalat witir untuk mengganjilkan ibadah Shalatku. Tuhanku katanya senang dengan angka-angka ganjil. Bukti sederhanyanya terdapat dalam Asma’ul Husna. Begitulah guru ngajiku berkata.
Tak lupa selepas shalat tanganku tengadah dengan diikuti kepala menunduk kebawah merendahkan diri atas segala kelemahan seorang hamba. Mulutku kembali merapal doa. Dan entah kenapa mataku tiba-tiba tidak kuat untuk tetap terbuka. Rasa kantuk yang sudah tidak sanggup lagi aku menahannya. Kelopak mataku seperti menahan muatan besi berpuluh-puluh ton. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa, dan............
Mak” ucapku setengah berbisik.
 Ada dua keanehan yang mengganjal dalam memory file otakku. Pertama tempat yang ada disekelilingku tak pernah aku lihat di planet bumi yang kudiami. Dan kedua, mengapa ibu bisa berada disini.
Mak, benarkah engkau Emmakku” kuperkeras ucapanku dengan nada pertanyaan. Namun sosok misterius yang parasnya sangat mirip dengan Ibuku hanya diam seribu kata. Sesekali ia menoleh, tapi tetap tak ada suara. Hening.
Sejenak kudiamkan sosok di sampingku. Kepalaku tolah-toleh celingukan tak ada tujuan. Sungguh merupakan pemandangan yang tak seperti biasanya. Tak pernah aku merasakan hal yang seaneh ini.
“Kamu dulu pernah kesini” tiba-tiba sosok misterius yang menyerupai wajah Ibu membuka percakapan.
“Kapan?”
“Dulu, tidak hanya kamu. Bahkan semua manusia pernah ketempat ini”
“Oh, ya. Dari mana kamu tahu”
“Tak perlu di bahas, sekarang kau lihat bayi dan cahaya putih itu. Dengarkan apa percakapannya. Pasti nantinya kau akan paham, mengapa aku mengajakmu ketempat ini”
 Aku diam saja, sesekali mataku melihat kearah sosok misterius disampingku. Kemudian bayi dan cahaya putih yang dimaksud sosok misterius itu mengeluarkan suara. Ya, suara percakapan.
“Sebentar lagi kau akan diturunkan kedunia” cahaya putih itu mengawalinya.
“Mengapa harus kedunia, disini aku sudah merasa tenang dan damai” Sang bayi menimpali perkataan cahaya putih.
“Ini perintah, dan aku juga tidak bisa menolak perintah ini”
“Tapi aku takut”
“Mengapa”
“Dunia sangat mengerikan, ada banyak manusia yang membuat dunia itu sangat mengerikan, aku takut”
Sejenak percakapan itu berhenti. Ada cahaya lebih dahsyat dan entah karena apa mataku terasa sejuk melihatnya. Tak lama kemudian cahaya itu juga mengeluarkan suara. Aku hampir saja tak sanggup untuk berdiri. Seluruh tubuhku kaku. Dan......
“Wahai cucu Adam, tenanglah. Di bumi telah kuturunkan banyak malaikat penolongmu”
“Tuhan, hamba takut. Disini hamba sudah merasa damai”
“Jangan khawatir, malaikatmu akan mendamaikan hatimu juga”
“Terus, bagaimana hamba bisa bertahan hidup. Hamba sangat kecil dan lemah”
“Malaikatmu akan megorbankan jiwa raganya hanya untuk kamu”
“Apa yang dapat hamba lakukan, jika ingin berbicara dengan-Mu?”
“Malaikatmu pula yang akan mengajarimu bagaimana cara untuk berbicara denganku”
“Tapi hamba masih takut, katanya di bumi banyak orang jahat. Hamba takut tidak bisa kembali bertemu dengan-Mu lagi. Dan bagaimana bila hamba tidak mengenal-Mu lagi. Bagaimana......” anak kecil itu kebingungan. Tampak dari raut wajahnya memelas ketakutan untuk turun ke bumi.
“Sekali lagi malaikatmu akan bercerita tentang siapa Aku. Dan Aku akan selalu dekat denganmu bila kau mematuhi perintah-Ku juga malaikat yang Aku sandingkan bersamamu”
“Bolehkah hamba mengetahuinya?”
“Katakan, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah. Setelah itu, Nanti ketika kau turun ke bumi malaikatmu akan mengajarimu tentang apa yang boleh dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan”
“Baik, jika hamba harus turun sekarang. Bolehkah hamba tahu, siapa malaikat itu”
“Nanti kau akan tahu, banyak malaikat yang akan menjagamu ada yang terlihat ada juga yang tidak, salah satunya adalah Ibumu”
Suasana kembali hening, taka ada lagi percakapan. Sepertinya pertanyaan sang bayi sudah cukup, kecuali raut wajahnya yang masih menyimpan ketakutan. Dan kedua cahaya itu sirna seketika. Pandanganku kembali kualihkan pada sosok misterius disampingku. Terlihat dia menyunggingkan senyum, senyum yang sangat aku kenal, senyum Ibu. Ingin sekali aku memeluknya, tapi sebelum keinginanku sempat terucap dia telah ikut sirna, entah kemana.
Sekarang tinggal aku dan bayi mungil yang masih ketakutan. Aku ingin menghampirinya, dan sekali lagi keinginan itu tak sempat terwujud, dia juga sirna. Lama aku terdiam, tak ada suara yang bisa aku keluarkan. Aku terperangah dari setiap kejadian ganjil yang kudapat saat ini. Sampai akhirnya aku dapati tubuhku melayang dan ikut sirna.
“Bangun.....sudah subuh”

Aku terkejut, suara temanku seketika menjelma petir yang membuat bulu kudukku berdiri ketakutan. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, seperti halnya pertemuanku dengan sosok misterius yang menyerupai wajah Ibu. Aku ingin kembali menemuinya, masih banyak hal yang ingin kutanyakan. Tetapi seketika aku sadar, itu hanyalah mimpi. Dan suara yang membangunkanku. Dari mana suara itu. Seperti suara temanku. Tapi tidak mungkin. Mereka masih menikmati hari liburnya. Mungkin suara dalam Mimpi.......
***
Tak terasa raja bintang mulai rebah ke peraduan. Terlihat di sepanjang lorong berbagai merek lampu mengeluarkan sinar cahaya. Panorama yang cukup indah bila kita bisa merasakannya. Sayang, sangat sedikit manusia yang sadar akan keindahan dan pemberian Tuhan ini.
Aku putuskan untuk pulang. Namun, tetap saja ada yang mengganjal dalam benakku. Ya, mengapa aku bisa betah berjam-jam duduk merenung tanpa tujuan pasti.
Aku baru ingat, aku belum bayar uang kuliah. Memang ini yang aku takutkan dari dulu, ketika aku putuskan untuk memasuki bangku kuliah. Setiap pilihan tidak jauh dari konsekuensi yang harus ditanggung. Dan pilihan yang sudah aku ambil adalah hasil dari apa yang aku dapat saat ini. Beginilah perputaran hidup seterusnya. Kadang terbersit dalam benak “Seandainya waktu bisa berputar mundur” tapi sudahlah. Aku harus kuat, sekuat ayah bekerja, sekuat ketulusan  Ibu mengorbankan seluruh waktunya untuk keluarga kecilnya.
Meminta adalah pekerjaan hina. Satu wejangan khas yang selalu ayah lontarkan kepadaku. Inilah alasan mengapa semenjak aku putuskan untuk memasuki bangku kuliah aku sudah terlepas dari kata meminta. Meskipun aku harus berbohong kalau aku masuk kuliah dapat beasiswa sampai lulus. Aku hanya tidak mau tetap menjadi anak kecil. Aku sudah dewasa, dan aku tahu jika aku jujur kalian tidak akan mampu. Maafkan anakmu.
Dalam situasi seperti ini. Tak ada yang bisa mengobati rasa kegalawanku. Kecuali buku catatan. Buku yang selalu menemaniku. Entah karena apa aku selalu berharap dengan menuliskan setiap permasalahan yang aku hadapi akan menemukan titik terang jalan menuju pintu keluarnya. Aku harap seperi itu.
Secepat mungkin aku raih buku dan bolpoint dalam tas kecilku. Segera kutuliskan catatan kisah membasahi lembaran demi lembaran kertas putih dengan tinta hitam. Hanya buku catatanlah yang pantas menjadi sahabat terbaikku. Sahabat yang tidak pernah jenuh menyimpan lembaran-lembaran kisah perjalanan hidupku.
Shobat..........
Hari ini adalah hari dimana aku tidak lagi menemukan keberanian. Aku mudah putus asa. Tidak lagi ada kata pasti bisa. Hanya sesekali aku tetap teguh dalam pendirian, siap menanggung beban dari pilihan yang aku ambil. Ya, hidup adalah pilihan. Aku terlahir dari pilihan, dan aku menjalani hidup dengan pilihan pula.
Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Kecuali tetap percaya akan pertolongan Tuhan. Aku selalu menanti janji-Nya. Setiap kesulitan ada kemudahan. Aku yakin, karena aku tahu pasti ada pintu keluar dari setiap permasalahan yang menimpaku. Aku tahu, setiap permasalahan yang diberikan adalah sesuai takaran kemampuan. Aku tahu itu.
Aku sudah siap, mungkin jalan kesuksesanku bukanlah dibangku kuliah. Tapi, hanya saja aku tak mau orang tuaku dan semua keluargaku tahu kalau aku tidak kuliah. Tuhan, maafkan hambamu jika tulisan ini melemahkan keyakinanku pada-Mu. Tapi aku selalu yakin Kau akan memberikan jalan terbaik dalam hidupku. Sekali lagi maafkan aku, jika nanti aku memang tidak bisa melanjutkan kuliah. Aku terpaksa untuk sementara akan berbohong pada mereka. Sampai akhirnya Kau memberikanku jalan terbaik dengan menjadi manusia yang sukses (Dunia dan Akhirat). Amin................
Ah, puas rasanya. Saatnya aku kembali melangkah. Aku harus putuskan apa yang akan aku lakukan jika nanti pada saatnya aku benar-benar tidak bisa kuliah. Sebentar, ada yang terlupa. Aku belum mencatat pertemuanku dengan Ibu.
Oh, ya. Aku baru ingat. Kemarin malam aku bermimpi bertemu Ibu. Dia mengajakku pada suatu tempat yang tak pernah aku tahu sebelumnya. Tapi dia bilang bahwa semua manusia pada awalnya pernah ketempat itu. Berarti semua manusia juga pernah berdialog dengan Tuhan. Ah, sudahlah. Yang penting aku tahu semua yang berada di sekelilingku adalah malaikat penolongku. Baik itu sebuah peristiwa atau orang-orang yang memberiku pelajaran. Oh, malaikat penolongku, terimakasih telah menjagaku..................
Selesai menulis, aku melangkah menuju masjid yang berada disekitar kampusku. Sepertinya tidak cukup waktu maghrib bila aku langsung pulang. Tempat tinggalku lumayan jauh. Terimakasih Tuhan............ ucapku dalam hati.
***


Comments