Coretan Mimpi
3
“Tidak pernah kutakar kerinduanku
dengan pengukur yang berjubahkan
bebintangan.
Akupun tidak pernah menghitung
kedalamannya.
Sebab kutahu cinta akan mengantarai
Perhitungan ruang dan waktu
Manakala cinta sedang di baluri rindu.”
(Kahlil Gibran)
Semenjak mimpi pertemuan dengan Ibu. Aku semakin merasa rindu. Rindu akan kisah-kisah yang sering kulewatkan bersamanya. Juga kisah saat aku berpisah darinya. Aku rindu Ibu, aku rindu keluargaku. Setelah pertemuan itu, aku sempatkan membuat satu puisi untuk episode rindu.
Ombak mana yang mampu menerjang
Bila rindu telah bergetah di hatiku
Hatiku bukanlah karang yang bisu
Yang mudah di permainkan ombak kemanapun ia mau
Walau kau jauh
Doamu masih erat menyetubuhi
Membelai hangat dan mendesir di aortaku
Angin mana yang mampu menyapu
Bersihkan bongkahan rindu
Walau topanbadai bersatu
Takkan mampu
Karena rindu telah bergetah di hatiku
Malam ini, aku merasa
berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Tak lagi ada keindahan dan ketenangan.
Semua hitam. Tak lagi bisa aku menemukan cahaya kedamaian. Seperti pikiranku yang sampai
saat ini belum bisa menerima kenyataan bila nanti tidak bisa melanjutkan
kuliah. Aku tahu, akan datang masa dimana Tuhan akan memberikan jalan terbaik
untukku. Namun aku belum tahu apakah keluargaku juga bisa menerima kenyataan
ini.
Dingin udara yang menusuk
pori-pori kulitku menambah kesunyian hati ini. Didalam ruangan kamar kupandangi
setiap sudut dengan tatapan abu. Aku merasakan rindu, aku ingat rumah yang berukuran
4x5 meter yang sama persis dengan kamar yang kutempati saat ini. Hanya saja tak
ada kamar yang terkotak. Di dalam rumah haya ada satu tempat untuk menampung
dua lemari dan dua kasur. Satu kasur untuk ayah dan ibu, satunya lagi untuk aku
dan adikku.tidak ada tabir yang menghalangi. Di dalam ruangan itu kami saling
berbagi rasa, berbagi hati untuk bisa menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepada keluargaku. Aku rindu masa-masa itu,
seperti baru kemarin mereka mengucapkan salam perpisahan atas keberangkatanku.
Jujur, baru dua kali aku
merasakan rindu. Pertama saat aku mondok dan kedua saat aku berangkat merantau
untuk kuliah. Meskipun dari dulu aku jarang berada dirumah, baru kali ini aku
merasa benar-benar merasa jauh. Inilah yang membuat pikiranku masih belum bisa
menerima jika nanti aku benar-benar putus kuliah. Hanya saja aku punya cara
tersendiri untuk menetralkan rindu itu. Biasanya aku menulis bait-bait puisi
untuk melukiskan rasa itu. Aku rindu, aku merasa asing di kota ini.
Tak lagi kuteguk asin laut yang bercerita tentang ikan
dan nelayan
Juga cicit burungburung pada pagi siang sore hari
Usia menapaki jejak petualang
Bergelayutjingkraklompat menggagahi persinggahan
demi persinggahan
Pada koridor kata dalam sukaduka luka citacinta
Dan cerita bergumul merangkai aksara
Narasi bergerak melayang terbang bersama liukan
Angin dan gelombang pasang
Sementara kesunyian merajam diam pelupuk waktu
Adakalanya puisi merupakan
ruang peristirahatan sejenak untuk melupakan setiap permasalahan yang mendera.
Didalam ruangan kamar ini biasanya aku tidak sendiri. Ada empat temanku yang juga
tinggal disini. Tapi
untuk saat ini mereka masih menikmati masa liburannya dirumah masing-masing. Liburan kuliah adalah satu tempat peristirahatan
tempat dimana otak tidak lagi banyak diperas oleh banyaknya tugas-tugas kampus.
Tempat dimana kita bisa melepaskan rindu dengan dengan sanak family. Akan
tetapi semua itu tidak berlaku untukku. Liburan kuliah adalah tantangan
terberat yang harus aku hadapai. Karena tidak lama dari itu uang kuliah harus
segera lunas. Bahkan aku selalu berharap agar liburan tidak cepat datang. Biar
aku merasa tenang dan banyak ilmu yang aku dapat. Ah, itu hanya harapan yang
selamanya tidak akan pernah terjawab. Jika tidak ada liburan adalah doaku,
tentunya aku kalah telak, karena mahasiswa yang lain berdoa juga agar liburan
cepat datang. Sudahlah.
Dikamar ini dulunya ada dua belas anak, tapi sekarang mereka keluar.
Entah karena alasan apa. Kami hidup dengan saling mengasihi layaknya saudara kandung.
Saling membagi kisah, tapi tidak untuk kisah yang satu ini. Aku memang sengaja
untuk menyimpan kisah ini sendiri saja. Aku tidak mau mereka terlalu menaruh
rasa kasihan kepadaku. Karena pantang bagiku untuk dikasihani.
“Jangan sekali-kali kamu mengharap belas
kasihan dari orang, sama saja kamu telah membiarkan dirimu hidup dalam
pengharapan. Bertindaklah sebagai orang yang jantan. Kamu lelaki”. Itulah salah
satu prinsip yang diajarkan oleh ayah dulu.
Hidup adalah perjuangan bukan
pengharapan. Inilah salah satu tekat yang mengantarkanku sampai saat ini di kota Malang. Kota yang sama
sekali tidak pernah terbersit dalam benakku untuk hidup dan melanjutkan studyku
di kota yang menyandang gelar kota pendidikan ini . Karena tempat yang sudah aku pikirkan matang-matang hanya ada dua. Antara Yogyakarta dan Bali. Aku ingin mendalami ilmu yang ada sentuhan
seni. Dan kedua tempat yang aku dulunya ingin kutuju kental dengan budaya-budaya yang sangat kuat. Tentunya seni.
Seringkali aku bertanya
kepada diriku sendiri. Mengapa aku harus memilih seni. Aku tak punya jawaban
pasti. Hanya saja aku suka pada kata “seni”. Meskipun aku tidak tahu apa seni
itu sendiri. Yang aku tahu seni itu indah dipandang dan asyik kalau bisa
membuatnya. Karena yang aku tahu hanya itu, setiap yang di buat dengan indah
itu seni. Dan pegetahuanku terbatas hanya pada seni pahat dan seni lukis. Aku ingin
bisa membuatnya. Itu saja. Lagi-lagi pikiranku berkata, hanya dengan ke
Yogyakarta atau Bali aku akan bisa mewujudkan keinginanku. Aku suka baca
majalah sastra, dan sering pula aku melihat pahatan patung dan pajangan lukisan
itu dibuat oleh orang Yogyakarta dan Bali.
Sayangnya setiap keinginan
adakalanya tidak selalu bisa di wujudkan. Ada banyak kendala, pertama Ibu
melarangku ke Bali. Ibu hawatir kalau aku tidak lagi menjalankan Shalat lima
waktu. Ibu tahu kalau budaya di lingkungan itu tidak cocok untuk manusia
sepertiku. Ibu banyak tahu tentang kehidupan Bali. Maklum, kakekku tinggal
disana, juga Ibu dulunya sering disana pula. Kedua, aku memang di ijinkan untuk
ke Yogyakarta. Sontak saat itu aku sangat bahagia. Namun ada salah satu dalam
diriku yang sepertinya menolak. Ya, aku tidak mungkin kuliah disana. Aku tahu
Ibu dan Ayah selalu saja menyemangatiku agar aku tetap kuliah. Dan mereka tidak
pernah mau tahu tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan.
“Sudahlah, yang paling
penting kamu kuliah. Masalah biaya belakangan. Insya Allah ada jalan” ucap ayah
dengan tegas tanpa ada keraguan di raut wajahnya.
Aku tahu. Tapi tetap saja
aku tak bisa kuliah jika masih mengharap biaya dari orang tuaku. Sama saja aku
telah ingkar terhadapa perinsip hidup. Aku tak mau itu terjadi. Aku mau hidup
dengan satu prinsip. Hidup adalah perjuangan bukan pengharapan. Sejenak aku
berpikir. Kemudia aku putuskan untuk tetap ke Yogyakarta. Tapi bukan untuk
kuliah, untuk belajar ilmu seni pahat
dan lukis. Aku akan mencari banyak teman disana, teman yang bisa mengajariku
keterampilan itu. Aku bisa sukses dan aku bisa kuliah dengan kesuksesanku
nanti.
Tibalah hari perpisahan
itu. Kakak sepupuku, Imam telah datang dan akan mendampingiku berangkat ke
Yogyakarta. Ia telah lebih dahulu kuliah di UIN Sunan Kalijaga mengambil
jurusan Manejemen Dakwah. Berpisah dari keluarga merupakan hal yang sangat
biasa dalam hidupku. Semenjak kecil aku tidak pernah dikekang didalam rumah.
Aku dibiarkan kemana saja semauku asal pamit. Semenjak itu pula aku jarang
berada dirumah. Jadi perpisahan yang cukup lama ini merupakan hal yang biasa.
Tak ada rasa kehilangan atau acara menangis sebagaimana yang banyak dilakukan
orang lain ketika berpisah.
Meskipun aku bebas
melakukan apa saja semauku. Tapi orang tuaku memiliki senjata ampuh yang
membuatku tidak bisa sebebas yang aku mau.
“Kamu boleh melakukan apa
saja semaumu, tapi jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang sekiranya bila
kami tahu kami akan kecewa.”
Satu pesan yang sangat
sederhana. Aku sudah dididik dengan menjadi diriku sendiri sejak kecil. Tak
pernah setiap yang aku inginkan dilarang oleh mereka. Termasuk ketika aku ingin
kuliah. Kecuali satu tempat, Bali.
Bali adalah kenangan dan
bongkahan kisah yang tak sempat aku menorehkannya. Biarlah, keberangkatanku ke
Yogyakarta adalah obat dari setiap kesedihan. Setidaknya aku masih punya
harapan untuk mewujudkan keinginanku menjadi seniman.
Tibalah waktu dimana aku
berada pada posisi kebingungan saat itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa
kepada Kak Imam disaat dia bertanya jurusan apa yang aku inginkan. Dan entah
karena apa setiap aku ingin mengatakan kalau aku tidak mau kuliah selalu saja
aku dapati lidahku kaku.
Hidup di Yogyakarta
merupakan tantangan baru yang harus aku hadapi. Dengan bekal uang lima ratus
ribu yang kudapat dari hasil akumulasi pemberian Ayah, Ibu, Nenek, dan keluarga
dekatku yang lain. Aku harus bisa memenejnya dengan tepat. Aku tidak boleh
menghambur-hamburkan uang dengan segala sesuatu yang tidak memiliki nilai guna.
Bahkan untuk makan saja kadang aku harus mikir dua kali. Aku harus merelakan
perutku berpuasa. Satu kali makan itu sudah cukup.
Pernah suatu hari Kak Imam
bertanya kepadaku. Apakah aku sudah makan. Spontan aku jawab iya. Meskipun
sebenarnya aku tahu perutku sangat sakit. Sakit sekali. Tapi lebih sakit lagi
kalau aku membuang uang hanya untuk keperluan makan. aku tidak mau kalah dengan
para Ulama yang mencari ilmu kadang harus rela tidak makan sampai tiga hari.
Aku juga tidak mau kalah dengan Rasulullah SAW yang bisa menahan lapar dengan
mengikat perutnya. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghemat uang.
Aku pasti bisa.
Tak terasa waktu begitu
cepat berlalu. Kehadiranku di tengah-tengah kehidupan kota Yogyakarta telah
membuatku semakin dewasa. Aku semakin tahu betapa sulitnya hidup. Meskipun aku
sudah hemat dalam keuangan. Tak terasa uangku sudah tinggal dua ratus lima
puluh ribu rupiah. Baru tiga hari yang lalu aku putuskan untuk kuliah. Dan
harus kurelakan dua ratus ribuku untuk daftar SMPTN. Masih ditempat yang sama
dengan Kak Imam. Hanya saja aku mengambil jurusan yang beda dengannya. Ya,
jurusan yang aku sama sekali tidak minat dengannya.
Menjelang tesan Seleksi
MasukPerguruan Tinggi Negeri (SMPTN) aku sama sekali tidak mempersiapkan diri.
Aku pasrah meskipun nantinya lulus atau tidak. Waktu itu aku putuskan untuk
kuliah sebenarnya aku tidak enak saja dengan Kak Imam yang telah rela meluangkan
waktunya untuk pulang menemaniku berangkat ke Yogyakarta. Sampai akhirnya tiba
saat dimana pengumuman hasil tes di keluarkan. Dan hasilnya, ya aku tidak
lulus. Hasil itu aku terima dengan setulus hati. Karena aku punya rencana lain,
kerja. Untungnya waktu itu aku sedang berada di Pondok Madura, dengan begitu
aku terlepas dari pertanyaan Kak Imam tentang apa rencana selanjutnya setelah
aku dinyatakan tidak lulus. Hasil itu sekaligus menjadi hasil akhir
perpisahanku dengan Kota Yogyakarta. Aku tidak kembali lagi.
Kehidupan yang telah kujalani di Yogyakarta
telah banyak memberiku pengalaman dan pendidikan berharga tentang kehidupan.
Dan aku baru paham betapa bodohnya aku selama ini. Betapa durhakanya aku kepada
orang tuaku disaat aku mendesak agar dibelikan mainan mobil tempur. Meskipun
hanya waktu itu aku mendesaknya.
Dan seperti kebiasaan yang
sering aku lakukan, kegagalan di Yogyakarta aku tulis di buku catatan kisah
kehidupanku.
Yogyakarta adalah harapan
kedua setelah Ibu melarangku kuliah di Pulau Dewata Bali.dan harapan itu musnah
seketika berterbangan menejlma puing-puing kenangan abu. Aku telah salah dalam
melangkah. Tidak seharusnya aku membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bisa
jadi aku tidak suka dengan jurusan yang telah aku pilih dengan sangat terpaksa.
Kegagalan yang aku alami tidak seharusnya terjadi dengan jalan tanpa
perjuangan.bukan kegagalan yang aku sesalkan tapi keputusan langkah yang tidak
bisa aku pertanggung jawabkan.
Kak, maafkan aku telah
banyak berbohong kepadamu. Tapi aku telah banyak belajar dari kejadian ini.
Ternyata adakalanya setiap keinginan tidak harus dimiliki dan diwujudkan, yang
terpenting adalah bagaimana kita tetap berjuang dan berusaha dengan sesuatu
yang tidak kita inginkan. Mulai saat ini aku beranji. Akan akan terus mencoba
dan berusaha. Karena Tuhan sebenarnya tidak pernah menyuruh hambanya untuk
sukses, melainkan mencoba.
Kak, aku sangat menyesal.
Sekali lagi bukan karena kegagalanku melainkan karena aku tidak mau mencoba.
Tapi mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan agar aku bisa gagal dalam ujian.
Mungkin Tuhan punya jalan yang lain untuk kesuksesanku, mungkin bukan di
Yogyakarta, tapi itu mungkin, ya mungkin saja. Aku tak tahu dimana. Maafkan aku
juga Ayah, Ibu, dan semua keluargaku. Maafkan aku.
Tak lupa, sbelum aku
meninggalkan kota Yogyakarta. Aku tuliskan sebuah puisi untuk Ka’ Imam.
Ka’
Telah banyak kanvas yang kau lukis dari cairan cat peluh
ibumu
Bibirnya yang lesu
Matanya yang sendu
Umurnya yang layu
Ia muntahkan demi kelancaran kuasmu
Ka’
Masih banyak hamparan kanvas
Yang bertebaran di balik pekatnya kabut
Kaupun cari atas titah Tuhanmu
Meski jarak melintang
jauh
Ka’
Lukislah kanvas putih itu
Sebelum kau putuskan untuk kehilir
Di bumi kehadiran tempat dimana ibumu menunggu
Hah, malam ini aku sedikit
lega setelah membaca kembali buku catatan peralanan kisah hidupku di
Yogyakarta. Aku berjanji untuk tidak lagi mengeluh atas segala permasalahan
yang menimpaku. Aku tidak sendiri, masih ada Doa orang-orang yang mencintai dan
mengasihiku dengan setulus hati. Dan aku masih punya Tuhan yang Maha tahu atas
segala sesuatu. Termasuk hidupku.
Akupun bergegas
melaksanakan Shalat dua rakaat, meminta petunjuk dan kesabaran dalam menjalani
setiap batu ujian. di akhir doa aku berucap dalam hati “Ya Allah. Jika yang
terbaik bagiku adalah berhenti kuliah aku telah siap. Jika tidak, berikanlah
jalan terbaikmu. Aku pasrah.” Mataku masih terpejam membayangkan Tuhanku berada
dekat denganku. Aku bisa merasakannya. Hatiku damai kembali.
***
Comments
Post a Comment