Rindu Telah Bergetah di Hatiku

Coretan Mimpi

“Tidak pernah kutakar kerinduanku
dengan pengukur yang berjubahkan
bebintangan.
Akupun tidak pernah menghitung
kedalamannya.
Sebab kutahu cinta akan mengantarai
Perhitungan ruang dan waktu
Manakala cinta sedang di baluri rindu.”

(Kahlil Gibran)


Semenjak mimpi pertemuan dengan Ibu. Aku semakin merasa rindu. Rindu akan kisah-kisah yang sering kulewatkan bersamanya. Juga kisah saat aku berpisah darinya. Aku rindu Ibu, aku rindu keluargaku. Setelah pertemuan itu, aku sempatkan membuat satu puisi untuk episode rindu.

Ombak mana yang mampu menerjang
Bila rindu telah bergetah di hatiku

Hatiku bukanlah karang yang bisu
Yang mudah di permainkan ombak kemanapun ia mau
Walau kau jauh
Doamu masih erat menyetubuhi
Membelai hangat dan mendesir di aortaku

Angin mana yang mampu menyapu
Bersihkan bongkahan rindu
Walau topanbadai bersatu
Takkan mampu
Karena rindu telah bergetah di hatiku

Malam ini, aku merasa berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Tak lagi ada keindahan dan ketenangan. Semua hitam. Tak lagi bisa aku menemukan cahaya kedamaian. Seperti pikiranku yang sampai saat ini belum bisa menerima kenyataan bila nanti tidak bisa melanjutkan kuliah. Aku tahu, akan datang masa dimana Tuhan akan memberikan jalan terbaik untukku. Namun aku belum tahu apakah keluargaku juga bisa menerima kenyataan ini.
Dingin udara yang menusuk pori-pori kulitku menambah kesunyian hati ini. Didalam ruangan kamar kupandangi setiap sudut dengan tatapan abu. Aku merasakan rindu, aku ingat rumah yang berukuran 4x5 meter yang sama persis dengan kamar yang kutempati saat ini. Hanya saja tak ada kamar yang terkotak. Di dalam rumah haya ada satu tempat untuk menampung dua lemari dan dua kasur. Satu kasur untuk ayah dan ibu, satunya lagi untuk aku dan adikku.tidak ada tabir yang menghalangi. Di dalam ruangan itu kami saling berbagi rasa, berbagi hati untuk bisa menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepada keluargaku. Aku rindu masa-masa itu, seperti baru kemarin mereka mengucapkan salam perpisahan atas keberangkatanku.
Jujur, baru dua kali aku merasakan rindu. Pertama saat aku mondok dan kedua saat aku berangkat merantau untuk kuliah. Meskipun dari dulu aku jarang berada dirumah, baru kali ini aku merasa benar-benar merasa jauh. Inilah yang membuat pikiranku masih belum bisa menerima jika nanti aku benar-benar putus kuliah. Hanya saja aku punya cara tersendiri untuk menetralkan rindu itu. Biasanya aku menulis bait-bait puisi untuk melukiskan rasa itu. Aku rindu, aku merasa asing di kota ini.

Tak lagi kuteguk asin laut yang bercerita tentang ikan dan nelayan
Juga cicit burungburung pada pagi siang sore hari
Usia menapaki jejak petualang
Bergelayutjingkraklompat menggagahi persinggahan demi persinggahan
Pada koridor kata dalam sukaduka luka citacinta

Dan cerita bergumul merangkai aksara
Narasi bergerak melayang terbang bersama liukan
Angin dan gelombang pasang
Sementara kesunyian merajam diam pelupuk waktu

Adakalanya puisi merupakan ruang peristirahatan sejenak untuk melupakan setiap permasalahan yang mendera.
Didalam ruangan kamar ini biasanya aku tidak sendiri. Ada empat temanku yang juga tinggal disini. Tapi untuk saat ini mereka masih menikmati masa liburannya dirumah masing-masing. Liburan kuliah adalah satu tempat peristirahatan tempat dimana otak tidak lagi banyak diperas oleh banyaknya tugas-tugas kampus. Tempat dimana kita bisa melepaskan rindu dengan dengan sanak family. Akan tetapi semua itu tidak berlaku untukku. Liburan kuliah adalah tantangan terberat yang harus aku hadapai. Karena tidak lama dari itu uang kuliah harus segera lunas. Bahkan aku selalu berharap agar liburan tidak cepat datang. Biar aku merasa tenang dan banyak ilmu yang aku dapat. Ah, itu hanya harapan yang selamanya tidak akan pernah terjawab. Jika tidak ada liburan adalah doaku, tentunya aku kalah telak, karena mahasiswa yang lain berdoa juga agar liburan cepat datang. Sudahlah.
Dikamar ini dulunya ada dua belas anak, tapi sekarang mereka keluar. Entah karena alasan apa. Kami hidup dengan saling mengasihi layaknya saudara kandung. Saling membagi kisah, tapi tidak untuk kisah yang satu ini. Aku memang sengaja untuk menyimpan kisah ini sendiri saja. Aku tidak mau mereka terlalu menaruh rasa kasihan kepadaku. Karena pantang bagiku untuk dikasihani.
 “Jangan sekali-kali kamu mengharap belas kasihan dari orang, sama saja kamu telah membiarkan dirimu hidup dalam pengharapan. Bertindaklah sebagai orang yang jantan. Kamu lelaki”. Itulah salah satu prinsip yang diajarkan oleh ayah dulu.
Hidup adalah perjuangan bukan pengharapan. Inilah salah satu tekat yang mengantarkanku sampai saat ini di kota Malang. Kota yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam benakku untuk hidup dan melanjutkan studyku di kota yang menyandang gelar kota pendidikan ini . Karena tempat yang sudah aku pikirkan matang-matang hanya ada dua. Antara Yogyakarta dan Bali. Aku ingin mendalami ilmu yang ada sentuhan seni. Dan kedua tempat yang aku dulunya ingin kutuju kental dengan budaya-budaya yang sangat kuat. Tentunya seni.
Seringkali aku bertanya kepada diriku sendiri. Mengapa aku harus memilih seni. Aku tak punya jawaban pasti. Hanya saja aku suka pada kata “seni”. Meskipun aku tidak tahu apa seni itu sendiri. Yang aku tahu seni itu indah dipandang dan asyik kalau bisa membuatnya. Karena yang aku tahu hanya itu, setiap yang di buat dengan indah itu seni. Dan pegetahuanku terbatas hanya pada seni pahat dan seni lukis. Aku ingin bisa membuatnya. Itu saja. Lagi-lagi pikiranku berkata, hanya dengan ke Yogyakarta atau Bali aku akan bisa mewujudkan keinginanku. Aku suka baca majalah sastra, dan sering pula aku melihat pahatan patung dan pajangan lukisan itu dibuat oleh orang Yogyakarta dan Bali.
Sayangnya setiap keinginan adakalanya tidak selalu bisa di wujudkan. Ada banyak kendala, pertama Ibu melarangku ke Bali. Ibu hawatir kalau aku tidak lagi menjalankan Shalat lima waktu. Ibu tahu kalau budaya di lingkungan itu tidak cocok untuk manusia sepertiku. Ibu banyak tahu tentang kehidupan Bali. Maklum, kakekku tinggal disana, juga Ibu dulunya sering disana pula. Kedua, aku memang di ijinkan untuk ke Yogyakarta. Sontak saat itu aku sangat bahagia. Namun ada salah satu dalam diriku yang sepertinya menolak. Ya, aku tidak mungkin kuliah disana. Aku tahu Ibu dan Ayah selalu saja menyemangatiku agar aku tetap kuliah. Dan mereka tidak pernah mau tahu tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan.
“Sudahlah, yang paling penting kamu kuliah. Masalah biaya belakangan. Insya Allah ada jalan” ucap ayah dengan tegas tanpa ada keraguan di raut wajahnya.
Aku tahu. Tapi tetap saja aku tak bisa kuliah jika masih mengharap biaya dari orang tuaku. Sama saja aku telah ingkar terhadapa perinsip hidup. Aku tak mau itu terjadi. Aku mau hidup dengan satu prinsip. Hidup adalah perjuangan bukan pengharapan. Sejenak aku berpikir. Kemudia aku putuskan untuk tetap ke Yogyakarta. Tapi bukan untuk kuliah, untuk belajar ilmu  seni pahat dan lukis. Aku akan mencari banyak teman disana, teman yang bisa mengajariku keterampilan itu. Aku bisa sukses dan aku bisa kuliah dengan kesuksesanku nanti.
Tibalah hari perpisahan itu. Kakak sepupuku, Imam telah datang dan akan mendampingiku berangkat ke Yogyakarta. Ia telah lebih dahulu kuliah di UIN Sunan Kalijaga mengambil jurusan Manejemen Dakwah. Berpisah dari keluarga merupakan hal yang sangat biasa dalam hidupku. Semenjak kecil aku tidak pernah dikekang didalam rumah. Aku dibiarkan kemana saja semauku asal pamit. Semenjak itu pula aku jarang berada dirumah. Jadi perpisahan yang cukup lama ini merupakan hal yang biasa. Tak ada rasa kehilangan atau acara menangis sebagaimana yang banyak dilakukan orang lain ketika berpisah.
Meskipun aku bebas melakukan apa saja semauku. Tapi orang tuaku memiliki senjata ampuh yang membuatku tidak bisa sebebas yang aku mau.
“Kamu boleh melakukan apa saja semaumu, tapi jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang sekiranya bila kami tahu kami akan kecewa.”
Satu pesan yang sangat sederhana. Aku sudah dididik dengan menjadi diriku sendiri sejak kecil. Tak pernah setiap yang aku inginkan dilarang oleh mereka. Termasuk ketika aku ingin kuliah. Kecuali satu tempat, Bali.
Bali adalah kenangan dan bongkahan kisah yang tak sempat aku menorehkannya. Biarlah, keberangkatanku ke Yogyakarta adalah obat dari setiap kesedihan. Setidaknya aku masih punya harapan untuk mewujudkan keinginanku menjadi seniman.
Tibalah waktu dimana aku berada pada posisi kebingungan saat itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa kepada Kak Imam disaat dia bertanya jurusan apa yang aku inginkan. Dan entah karena apa setiap aku ingin mengatakan kalau aku tidak mau kuliah selalu saja aku dapati lidahku kaku.
Hidup di Yogyakarta merupakan tantangan baru yang harus aku hadapi. Dengan bekal uang lima ratus ribu yang kudapat dari hasil akumulasi pemberian Ayah, Ibu, Nenek, dan keluarga dekatku yang lain. Aku harus bisa memenejnya dengan tepat. Aku tidak boleh menghambur-hamburkan uang dengan segala sesuatu yang tidak memiliki nilai guna. Bahkan untuk makan saja kadang aku harus mikir dua kali. Aku harus merelakan perutku berpuasa. Satu kali makan itu sudah cukup.
Pernah suatu hari Kak Imam bertanya kepadaku. Apakah aku sudah makan. Spontan aku jawab iya. Meskipun sebenarnya aku tahu perutku sangat sakit. Sakit sekali. Tapi lebih sakit lagi kalau aku membuang uang hanya untuk keperluan makan. aku tidak mau kalah dengan para Ulama yang mencari ilmu kadang harus rela tidak makan sampai tiga hari. Aku juga tidak mau kalah dengan Rasulullah SAW yang bisa menahan lapar dengan mengikat perutnya. Aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk menghemat uang. Aku pasti bisa.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kehadiranku di tengah-tengah kehidupan kota Yogyakarta telah membuatku semakin dewasa. Aku semakin tahu betapa sulitnya hidup. Meskipun aku sudah hemat dalam keuangan. Tak terasa uangku sudah tinggal dua ratus lima puluh ribu rupiah. Baru tiga hari yang lalu aku putuskan untuk kuliah. Dan harus kurelakan dua ratus ribuku untuk daftar SMPTN. Masih ditempat yang sama dengan Kak Imam. Hanya saja aku mengambil jurusan yang beda dengannya. Ya, jurusan yang aku sama sekali tidak minat dengannya.
Menjelang tesan Seleksi MasukPerguruan Tinggi Negeri (SMPTN) aku sama sekali tidak mempersiapkan diri. Aku pasrah meskipun nantinya lulus atau tidak. Waktu itu aku putuskan untuk kuliah sebenarnya aku tidak enak saja dengan Kak Imam yang telah rela meluangkan waktunya untuk pulang menemaniku berangkat ke Yogyakarta. Sampai akhirnya tiba saat dimana pengumuman hasil tes di keluarkan. Dan hasilnya, ya aku tidak lulus. Hasil itu aku terima dengan setulus hati. Karena aku punya rencana lain, kerja. Untungnya waktu itu aku sedang berada di Pondok Madura, dengan begitu aku terlepas dari pertanyaan Kak Imam tentang apa rencana selanjutnya setelah aku dinyatakan tidak lulus. Hasil itu sekaligus menjadi hasil akhir perpisahanku dengan Kota Yogyakarta. Aku tidak kembali lagi.
 Kehidupan yang telah kujalani di Yogyakarta telah banyak memberiku pengalaman dan pendidikan berharga tentang kehidupan. Dan aku baru paham betapa bodohnya aku selama ini. Betapa durhakanya aku kepada orang tuaku disaat aku mendesak agar dibelikan mainan mobil tempur. Meskipun hanya waktu itu aku mendesaknya.
Dan seperti kebiasaan yang sering aku lakukan, kegagalan di Yogyakarta aku tulis di buku catatan kisah kehidupanku.

Yogyakarta adalah harapan kedua setelah Ibu melarangku kuliah di Pulau Dewata Bali.dan harapan itu musnah seketika berterbangan menejlma puing-puing kenangan abu. Aku telah salah dalam melangkah. Tidak seharusnya aku membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Bisa jadi aku tidak suka dengan jurusan yang telah aku pilih dengan sangat terpaksa. Kegagalan yang aku alami tidak seharusnya terjadi dengan jalan tanpa perjuangan.bukan kegagalan yang aku sesalkan tapi keputusan langkah yang tidak bisa aku pertanggung jawabkan.
Kak, maafkan aku telah banyak berbohong kepadamu. Tapi aku telah banyak belajar dari kejadian ini. Ternyata adakalanya setiap keinginan tidak harus dimiliki dan diwujudkan, yang terpenting adalah bagaimana kita tetap berjuang dan berusaha dengan sesuatu yang tidak kita inginkan. Mulai saat ini aku beranji. Akan akan terus mencoba dan berusaha. Karena Tuhan sebenarnya tidak pernah menyuruh hambanya untuk sukses, melainkan mencoba.
Kak, aku sangat menyesal. Sekali lagi bukan karena kegagalanku melainkan karena aku tidak mau mencoba. Tapi mungkin ini adalah salah satu cara Tuhan agar aku bisa gagal dalam ujian. Mungkin Tuhan punya jalan yang lain untuk kesuksesanku, mungkin bukan di Yogyakarta, tapi itu mungkin, ya mungkin saja. Aku tak tahu dimana. Maafkan aku juga Ayah, Ibu, dan semua keluargaku. Maafkan aku.

Tak lupa, sbelum aku meninggalkan kota Yogyakarta. Aku tuliskan sebuah puisi untuk Ka’ Imam.
Ka’
Telah banyak kanvas yang kau lukis dari cairan cat peluh ibumu
Bibirnya yang lesu
Matanya yang sendu
Umurnya yang layu
Ia muntahkan demi kelancaran kuasmu


Ka’
Masih banyak hamparan kanvas
Yang bertebaran di balik pekatnya kabut
Kaupun cari atas titah Tuhanmu
Meski jarak melintang  jauh

Ka’
Lukislah kanvas putih itu
Selagi cairan cat peluh ibumu lancar mengalir
Sebelum kau putuskan untuk kehilir
Di bumi kehadiran tempat dimana ibumu menunggu

Hah, malam ini aku sedikit lega setelah membaca kembali buku catatan peralanan kisah hidupku di Yogyakarta. Aku berjanji untuk tidak lagi mengeluh atas segala permasalahan yang menimpaku. Aku tidak sendiri, masih ada Doa orang-orang yang mencintai dan mengasihiku dengan setulus hati. Dan aku masih punya Tuhan yang Maha tahu atas segala sesuatu. Termasuk hidupku.
Akupun bergegas melaksanakan Shalat dua rakaat, meminta petunjuk dan kesabaran dalam menjalani setiap batu ujian. di akhir doa aku berucap dalam hati “Ya Allah. Jika yang terbaik bagiku adalah berhenti kuliah aku telah siap. Jika tidak, berikanlah jalan terbaikmu. Aku pasrah.” Mataku masih terpejam membayangkan Tuhanku berada dekat denganku. Aku bisa merasakannya. Hatiku damai kembali.

***

Comments