Aksi Nekat

Coretan Mimpi
14

“Katakanlah terlebih dahulu kesalahan-kesalahan Tuan sendiri, sebelum Tuan mengkritik orang lain”

(Dr. Dale Carnegie)

Persahabatan Empat Serangkai tetap bertahan bertahun-tahun lamanya. Sampai akhirnya tidak terasa kami telah menginjak kelas enam. Tidak lama lagi kami akan lulus, dan perbincanganpun mengarah pada ranah yang serius. Bukan karena kami akan segera berpisah, karena kami sudah saling sepakat untuk tetap melanjutkan Mts-nya disekolah yang sama—Mambaul Ulum Gapura.
“Bagaimana kalau sebelum kita lulus Mi, kita buat semacam perayaan untuk sekolah yang sekiranya sekolah bisa bangga kepada kita” usulku pada suatu pagi waktu jam istirahat.
“Boleh juga, tapi apa?” jawab Viqi dengan tatapan yang membingungkan. Sementara Lukman dan Hadi hanya manggut-manggut saja.
“Nah itu dia masalahnya, sebaiknya kita musyawarahkan bersama teman-teman yang lain, kali aja ada yang punya ide”
Sebenarnya keinginan dari rencana itu adalah agar kami memiliki kenang-kenangan bersama sebelum berpisah dengan teman yang mau melanjutkan pendidikan disekolah lain.
***
Satu minggu sudah kami berpikir, akan tetapi belum ada kepastian perayaan apa yang akan kami buat.
65Pada malam harinya di langgar tempat aku, Lukman, dan Hadi mengaji pada KH. Dahlan, kebetulan rumah Viqi cukup jauh, sehingga ia tidak ikut ngaji ditempat yang sama. Aku menyempatkan waktu untuk memperbincangkan tentang perayaan yang akan kami buat. Sambil menunggu Lukman yang masih ngaji Al-Quran pada KH. Dahlan, aku mencoba untuk berpikir. Tapi tetap saja, pikiranku buntu. Sementara Hadi tidak masuk, ia sedang perjalanan ke Wongsorjo mendatangi sanak familinya yang akan mengadakan perayaan pesta pernikahan.
Akhirnya Lukman selesai juga mengajinya. Tanpa ada intuksi ia menghampiriku.
“Kamu masih ingat gak kejadian tadi siang”
Tiba-tiba saja Lukman mengajukan pertanyaan yang sesekali membuatku bingung. Bukan karena aku lupa kejadian tadi siang, tapi maksud dari pertanyaan itu. Nadanya agak serius, aku menangkap ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
“Tentu, kenapa” jawabku santai
“Begini, kamu merasa dendam gak”
Ya, aku masih ingat kejadian tadi siang, bagaimana aku bisa lupa. Toh, yang jadi korbannya aku sendiri.
Tadi siang adalah pelajaran Pak Dian—beliau adalah guru yang jarang masuk, tapi sekali masuk, dapat dipastikan lama—melebihi jam yang ditentukan. Kami sangat tidak senang dengan metode cara mengajar beliau. Apalagi semenjak tadi siang, lantaran terlalu lama mengajar. Secara tidak sengaja aku berkata “Saatnya pulang, hore….” Tentu saja beliau marah.
“Hey, siapa yang barusan bilang saatnya pulang” aku melihat raut wajah Pak Dian memerah. Semua siswa diam, ruangan kelas jadi hening.
“Kalau tidak ada yang mau ngaku, semuanya dihukum tidak boleh pulang”
66Ancaman dari Pak Dian sama sekali tidak berpengaruh pada kami, semua temanku tetap bungkam. Lama kelamaan aku merasa tidak tega melihat teman-temanku yang mau ikut menanggung risiko dari perbuatanku. Senakal apapun tingkahku, jika sama KH. Dahlan aku sangat takdim dan tidak mau membantah setiap wejangan yang diberikan padaku. Katanya setiap tindakan harus dipertanggungjawabkan. “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang berbuat salah tapi mau betobat untuk tidak mengulangi lagi dan mengakui kesalahannya” begitulah kurang lebih wejangan dari guru ngajiku.
“Saya yang bilang tadi pak” aku acungkan telunjuk jariku sambil posisi berdiri.
“Bagus, cepat kesini kamu. Berdiri didepan, dan kalian tetap dihkum karena tidak mau jujur kalau ada teman kalian yang berbuat salah”
Ruangan riuh dengan suara kasak-kusuk teman-temanku yang merasa tidak menerima dengan sikap Pak Dian yang kasar dan tidak mendidik.
Dengan mengakui kesalahanku, aku pikir Pak Dian akan membiarkan temanku yang lain pulang, tapi ternyata tidak. Katanya biar mereka bisa menyaksikan hukuman yang akan diberikan padaku. Sedangkan yang mau pulang, harus menghapal satu hadits yang lumayan panjang, sedangkan hukuman bagiku selain berdiri, aku juga kebagian menghapal hadits, tapi dua. Dengan begitu aku bisa terbebas dari hukuman itu.
Baru menit kelima Pak Dian memanggilku untuk langsung membaca hadist yang disuruh hapalkan tadi. Lagsung saja aku katakan kalau aku tidak bisa dan belum hapal. Aku malah dikatai siswa yang tidak benar, dilanjutkan dengan todongan tongkat yang biasa beliau bawa menghujam hidungku. Disodok-sodokkan beberapa kali dengan tetap menyertai ucapan yang membuat kupingku panas mendengarnya.
Karena tidak tahan, aku langsung menuju bangku tempat dudukku untuk mengambil tas dan berlalu pergi keluar. Pak Dian memanggilku, aku tetap berlalu pergi dengan sesenggukan tangisan kecil.
“Kalau dendam pastinya ada, tapi bagaimanapun beliau adalah guru kita” ucapku menimpali pertanyaan Lukman.
“Bagus, bagaimana kalau besok kita tidak usah masuk saja. Dan lagi pula aku tidak mau menganggapnya sebagai guru”
“Kalau aku sih, oke-oke saja. Sebentar kawan, bagaimana kalau kita ajak teman-teman yang lain. Sekalian kita mogok belajar”
“Wah ide yang bagus itu”
Percakapan berakhir. Adzan isyak berkumandang. Semua teman ngajiku bersiap untuk shalat, dan pulang.
67***
Keesokan harinya setelah jam pertama selesai, aku dan Lukman mulai memperbicangkan kembali rencana tadi malam. Dibelakangku, Hosni salah satu temanku ternyata mendengar perbincangan kami. Dan ia pun mau bergabung untuk tidak masuk kelas.
Tidak disangka ternyata Hosni mengumumkan tentang rencana kami sebelum dikasih tahu kalau sebenarnya aku juga punya niat yang sama untuk mengajak teman yang lain.
“Bagi siapa yang mau ikut mogok belajar silahkan unjuk tangan keatas. Tapi bagi yang tidak mau ikut, jangan sekali-kali bilang kalau kami mogok belajar”
“Saya ikut”
“Saya juga”
“Males aku sama Pak Dian”
Ruangan kelas jadi gaduh, tidak aku sangka ternyata satu kelas yang berjumlah lima belas siswa mau ikut mogok belajar semua. Hanya saja Hadi tidak bisa ikut aksi nekat ini. Setidaknya ia juga tidak masuk. Aku cukup lega, ketika rencana mogok belajar ini akan begitu mudah untuk mempengaruhi teman yang lain. Sepertinya bukan hanya aku saja yang tidak suka dengan cara Pak Dian mengajar. Tapi semua temanku juga punya pandangan yang sama.
Kami pun bersiap-siap untuk meninggalkan ruangan kelas. Semua temanku bertanya-tanya kita hendak pergi kemana. Karena tidak mungkin bila kami pulang kerumah masing-masing. Pastinya orang tua kami akan menyelidiki dengan pertanyaan yang memojokkan kami. Bisa dipastikan salah satu diantara kami ada yang mengaku. Dan itu bisa berbahaya.
“Begini saja, bagaimana kalau kita pergi kesungai dekat sekolah ini” usul Hosni yang memang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Jadi ia cukup paham dengan tempat yang sekiranya cocok untuk kami sembunyi.
68Tanpa banyak cakap kami langsung menyetujui usulan Hosni. Kami pun berjalan menuju sungai mengikutinya dari belakang, seperti pasukan semut yang bebaris rapi menjadi satu banjar. Karena disekolahku merupakan area bebas—tidak ada pintu gerbang utama, jadi cukup mudah bagi kami untuk keluar dari sekolah.
Aku pikir rencana ini akan berjalan dengan lancar tanpa ada masalah. Ternyata semua tidak semulus yang aku kira, ketika aku merencanakan untuk membujuk teman-temanku mogok belajar. Diluar dugaanku, aksi nekat ini ketahuan oleh guru-guru kami. Mereka pun berpencar untuk mencari keberadaan kami.
Sepertinya memang ada yang bilang tentang aksi nekat ini. Tidak mungkin bila guru-guru kami langsung tahu sendiri. Entah, apakah dari teman sendiri atau karena gerak-gerik kami memang cukup mencurigakan. Bagaimana mungkin para guru tidak curiga bila melihat segerombolan siswanya pergi dari sekolah.
Pada akhirnya kami menyerah, kami putuskan untuk kembali kesekolah, dengan satu sarat kami tidak mau lagi diajari Pak Dian. Para guru pun sepakat.
Hilang sudah rencana baik kami untuk mengadakan perayaan untuk sekolah, dimasa akhir Mi telah tergores kenang-kenangan memilukan dan menyedihkan akibat aksi nekat itu. Setidaknya kami telah memiliki satu kenangan yang bisa membuat kami tetap ingat satu sama lain, sepahit apapun masa itu, sejahat apapun tingkah itu, paling tidak kami bisa mengambil pelajaran dari padanya.

Bahawa cara terbaik dalam menyapaikan ketidaksukaan, cukuplah hanya dengan membicarakannya baik-baik.

Comments