Antara Gue, Aku, dan Saya



Bismillah dengan segala kegagahan yang dipaksakan saya nyatakan untuk mencoba menulis genre komedi. Ini tantangan baru buat saya dan pikiran saya, dan satu lagi calon pembaca saya (semoga aja ada).

Oke langsung saja, pada kesempatan yang semoga saja bahagia ini saya akan menulis tentang hal yang penting menurut saya dan bisa jadi tak penting buat kalian (pembaca yang terpaksa baca lantaran melihat judulnya yang kelihatan keren plus kece buangeeet). Yaitu tentang susahnya memilih kata pengganti penulis (rencannanya di pakai selamanya) antara Gue, Aku, dan Saya. Sehingga menimbulkan satu pertanyaan (dari saya sendiri) bahwa Memilih itu rumit.....?

Pertanyaannya, mengapa memilih itu bisa rumit, apa landasan utama yang membuat memilih itu rumit, dan bagaimana mengatasinya agar memilih tidak rumit lagi. Saya kira pertanyaannya sudah cukup sampai tiga aja, kalau empat takutnya gak bisa jawab, apalagi kalau lima (nanti dikira pancasila). Hahahahaha..... (jangan tertawa bila terpaksa).

Sebelum memasuki jawaban, ada baiknya bila kita simak terlebih dahulu contoh kasus berikut ini:

Pada saat saya ingin menulis genre komedi, pertama kali yang ada di dalam pikiran (yang letaknya di dalam kepala) adalah kata apa yang akan saya pakai untuk menjadi kata ganti saya (penulis).  Ada banyak pilihan yang membuat saya harus jungkir balik tiga kali sehari sambil makan mie instan pengganti nasi (lantaran harga mie lebih terjangkau daripada harga nasi yang jika dipaksakan membeli akan membuat hutang saya bertambah lagi). Pilihan itu diantaranya adalah : gue, aku, dan saya (sekedar info : artinya sama).

Gue

Kata gue sudah lumrah digunakan oleh mereka (penulis komedi, lihat saja tulisan Radityadika dkk.) . jika saya memilih kata “gue” jujur ada ketakutan terbesar dalam diri saya (yang tahu cuma saya dan Tuhan, malaikat sengaja gak dikasih tahu) bahwa jika saya tetap menggunakan kata “gue” nantinya tulisan saya malah di anggap pembaca hasil copasan dari tulisan Radityadika dan kawan-kawannya. Ketakutan itulah yang akhirnya membuka wawasan keilmuan saya, sekaligus menjadi jelmaan suara ribuan aktifis yang melantangkan suaranya, tepat mengarah langsung pada dua kuping saya “ Jangan pakai kata GUE, turunkan kata GUE, siapa GUE, bakar, bakar, bakar, bakar...........”

Intinya kata GUE tidak pantas untuk tulisan saya, dan memakainya hanya membuat saya risih, dan terasa geli (sebab saya bukan orang jakarta, anak gaul, apalagi anaknya anak gaul).

Aku

Kata aku juga lumrah di gunakan oleh mereka (penulis komedi  yang memakainya). Jika saya menggunakan kata “aku” itu sih sah-sah saja, tapi ada beberapa suara dalam hatiku yang mengatakan “kata AKU kata basi, buat kata yang baru, buat yang belum dibuat penulis lain, ini komedi, ingat.......... K-O-M-E-D-I, ”

Sekali lagi saya simpulkan, bahwa kata “aku” kurang pas untuk tulisan saya (alasannya belum kuat, tapi kurang suka aja).

Saya

Kata saya pun juga lumrah di kalangan penulis (penulis komedi ada gak ya?). jika saya menggunakan kata “saya” bisa diterima gak oleh pembaca. Ah sudahlah, kalau dicermati ulang sepertinya kata “saya” memang cocok buat tulisan saya. Lagi pula dari awal penulisan sudah menggunakan kata “saya”.

Okelah, kata “saya” aja yang cocok (tidak usah ikut ambil pusing, cukup saya aja yang pusing). Maka dari itulah, dengan tiga kali suara kentungan penjual ketoprak yang lewat depan rumah tetangga, saya nyatakan kata “saya” resmi jadi kata pengganti penulis. Tok, tok, tok............... sah. 

Kesimpulan Jawaban

Memilih bisa rumit karena di buat rumit, landasan utamanya adalah pikiran kita sudah terinfeksi virus rumit, dan cara mengatasinya adalah jangan di buat rumit (jangan banyak mikir, nanti malah tambah rumit).

Karena setiap pilihan yang di ambil adalah penentu dari akibat yang akan di rasakan. Jika salah dalam memilih, bersiap-siaplah untuk menjalaninya sendiri (gak usah ngajak-ngajak temen, apalagi ngajak mantannya temen). Apapun yang terjadi, komen pembaca akan jadi bahan pertimbangan untuk tulisan genre komedi selanjutnya. Antara Gue, Aku, dan Saya : pemenang sementara adalah Saya.

Selamat membaca, Selamat apa saja untuk kalaian yang telah merelakan membuang waktu berharga kalian hanya untuk membaca tulisan saya.

Salam hormat dari saya.



Comments