Coretan Mimpi
23
“Apabila matamu tak lagi dapat melihat orang yang engkau cintai, maka
janganlah telingamu tak pula mendengar kabar tentangnya”
(Al-Imam Al-Bushiri)
Dalam setiap kisah, romansa percintaan selalu
menjadi hal yang memang harus ada. Dan sesuatu akan menjadi semu bila tidak ada
yang namanya cinta. Pesantren sangat melarang keras bindara[1] berhubungan dengan binderi[2] dalam area pesantren. Apalagi yang namanya pacaran,
bahkan agama tidak memperbolehkan. Akan tetapi budaya salah kaprah yang
berkembang dalam pikiran remaja seringkali mengatakan “Larangan diciptakan
untuk dilanggar”, dan aku termasuk dalam deretan remaja itu.
Tiga tahun lamanya aku mendalami ilmu agama
dipesantren, sama sekali aku tidak pernah melanggar aturan-aturan yang
diterapkan. Apalagi berhubungan dengan binderi.
Namun pada tahun ke empat—tepatnya setelah aku dan teman angkatanku diresmikan
sebagai pengurus, aku melanggar aturan pesantren yang satu itu, berhubungan
dengan binderi.
Kisah itu berawal ketika polean ponduk[3], secara tidak sengaja aku mendengar kasak-kusuk
tentang seorang binderi yang katanya
kenal denganku, ia menitipkan salam pada temanku. Sontak aku kaget dengan
berita tersebut. Aku ingin memastikan tentang berita itu bohong atau benar. Aku
meminta nomornya.
“apkh bnar ni no.a Miming?” bunyi sms yang aku kirim. Detak jantungku tak
menentu, takut kalau temanku cuma ingin mengerjaiku.
“y, 5f dg cp?” jawabnya singkat.
“Affandi, nak gpura”
“qw g’ knal dg x nma.a Affandi”
“i2 nma k-2, lw dpndk biasa d’panggl
Rifki”
Perbincangan semakin akrab. Aku hanya mengenalnya
lewat sms, tapi perasaanku sudah merasa yakin kalau dia orangnya asyik kalau
diajak bicara.
***
Tidak kusangka, ternyata kabar perkenalanku sama
Miming menjadi topik pembicaraan hangat dikalangan para bindara dan binderi waktu
balien ponduk[4]. Padahal aku belum mengenalnya begitu dekat,
wajahnya saja aku tidak tahu.
“Cie-cie ada yang baru jadian nie..” Faishal menyindirku. Ia adalah sahabat terdekatku, bahkan
keberadaannya sudah aku anggap sebagai taretan
dibhi’.
“Nyindir, emangnya kamu tahu darimana”
“Apa sih yang tidak aku ketahui tentangmu, berita
itu bisa lebih cepat dari angin”
“Dan sayangnya kabar yang kamu ketahui sedikit
meleset”
“Berarti ada benarnya, cie-cie…”
Viqi sudah memiliki prinsip agar tidak terlalu dekat
denganku, katanya biar mempunyai dunia baru, dan aku menyepakatinya. Semenjak
itulah Faishal menjadi sahabat curhatku. Kami saling berbagi pengalaman, mimpi,
termasuk masalah-masalah yang kami hadapi.
Satu minggu berada dipesantren setelah liburan,
tepat pada hari Jumat, dimana pada hari itu adalah para orang tua menjenguk
anaknya, aku mendapat kiriman dari Miming yang dititipkan kepada orang tua
temannya, sebuah buku yang dilapisi kertas kado. Didalamnya berisi tulisan dan
dua buah foto.
“Apa yang kau lakukan, sangatlah tidak adil bila aku
tidak melakukannya pula” bila kami berbicara sering kali bernada lebay.
“Janganlah kau ikuti perbuatanku ini than, sebab tak baik rasanya bila kau
ini ikut-ikutan melanggar”
“Deritamu deritaku juga, YPH”
“Apa itu”
“Yang Penting Happy”
“Hahahahaha……” kami tertawa bersama.
***
Setiap malam selepas aktifitas pesantren usai. Aku
dan faishal seringkali tidak tidur, kami berbagi cerita, seputar permasalahan
yang kami hadapi.
“Tak pula aku bisa pahami, mengapa aku jadi begini.
Saban hari pikiranku selalu terpusat kepadanya.”
“Mungkin kau ini sedang jatuh cinta.”
“Tak bisa aku katakana secepat itu, tapi bila
mengingatnya hatiku terasa tentram. Oh gadis biruku”
Aku memanggilnya dengan sebutan gadis biru, karena
ia memiliki warna kesukaan yang sama denganku, biru.
Diluar dugaan, Faishal menyindirku dengan membaca
salah satu puisinya Jamal D Rahman “Oh Biru yang Menghempaskan Hatiku.”
sedalam inikah langit
menggali jurang waktu? Terlalu banyak
yang mesti dikubur.
tapi kenangan harus tetap dikibarkan,
agar hatimu
senantiasa terpancang, menyentuh langit, dan menunjuk
di ketinggian berapa
gelora bumi akan kau ledakkan
kau toreh bintang
hingga biru ulu hatiku. resah pun menetes
di ujung pisau yang
menatapmu dengan sayatan diam
berapa dalam lagi
langit akan menggali jurang waktu?
adakah biru langit,
biru laut, biru hatiku
tak cukup dalam bagi
gelora bumi dan resah pisau itu?
oh biru yang
menentramkan hatiku
“Jangan pura-pura nanya, tanda-tanda kalau kau
menginginkan gadis itu sudah nampak dari raut wajah, tingkah laku, dan gaya
bicaramu. Sudahlah akui saja”
Mungkin yang dikatakan Faishal benar, tapi aku tidak
yakin bila kembali ingat dabhuna kiyae
“Saya tidak ridho semua ilmu yang kalian peroleh dipesantren ini, bila
melanggar aturan pesantren.”
Perasaanku limbung. Aku dilema oleh dua pilihan yang
sangat berat untuk aku pilih salah satu diantaranya. Jika aku memilih untuk
bertahan dengan mematuhi aturan yang berlaku, sama saja aku telah membiarkan
diriku tertekan oleh perasaan yang bisa saja membuatku tidak peduli lagi dengan
kesehatanku. Dalam percintaan itu adalah hal yang bisa saja mungkin.
“Barang siapa mencintai seseorang, ia akan
menempatkan dirinya sebagai budak” ucap Faishal suatu waktu. Begitulah
keadaanku, aku seperti budak yang siap melakukan apa saja yang diperintah oleh
tuannya. Termasuk bila aku harus melanggar aturan pesantren.
Oh biru yang menghempaskan jiwaku.
***
Pada minggu-minggu selanjutnya kami sering bertukar
surat. Kedekatan hubunganku dengan Miming membuat hari-hariku berwarna, apalagi
ketika merindukan adanya pertemuan. Sekalipun aku mengenal wajahnya di foto
saja, aku sudah bisa menangkap sebuah kesimpulan kalau dia adalah gadis terbaik
yang harus bisa aku tahlukkan hatinya. Entah itu perasaan cinta atau hanya sekedar
nafsu birahi saja. Aku tidak tahu.
Cinta memang sering membuat orang seperti orang
gila. Tidak mau tahu apa yang dilakukannya itu salah atau benar. Yang
terpenting adalah bisa tentram hati dan pikirannya. Semenjak aku mengenal gadis
biruku itu, banyak pelanggaran-pelanggaran pesantren yang aku abaikan. Tidak
lagi peduli dengan risiko yang bisa saja membuatku malu, kepala botak sebelah
itulah hukuman bagi para santri yang keluar tanpa adanya ijin dari pengurus.
Aku sering keluar pesantren bila mendengar kabar gadis biruku akan pulang
karena sakit atau sekedar untuk pijat.
Selain itu, jika solat berjamaah di masjid. Kami
sudah janjian agar ia berangkat belakangan. Ketika yang lain sedang
melaksanakan solat jamaah, itulah kesempatan untuk aku bisa melihatnya. Kami
saling pandang, kemudian tersenyum bersama. Hampir setiap hari kami lakukan hal
yang sama.
Sampai akhirnya tiba lebaran Idul Adha, pada waktu
itu binderi pulang duluan, sementara
untuk bindara diwajibkan untuk
melaksanakan solat Id dipesantren. Karena aku adalah pengurus, aku bisa bebas
membawa HP tanpa harus takut akan dirampas, sekalipun itu juga larangan, aku
tidak peduli.
“Apa kabar?” sapaku mengawali perbincangan. Aku
menelfonnya setelah solat subuh menjelang solat Id yang akan dilaksanakan pada
pukul enam pagi.
“Baik, kamu sendiri”
“Sebaik keadaanmu saat ini”
Kami berbicara tentang hal-hal sederhana. Saling
tukar cerita tentang kehidupan pesantren, juga cerita yang berkembang mengenai
hubunganku dengannya.
Berjam-jam kami mengobrol, sedikitpun tidak terasa
kalau itu lama. Sampai aku lupa untuk petsiapan solat dimasjid. Aku mulai
benar-benar gila, banyak urusan yang aku abaikan hanya demi mendengar suaranya.
“Mmmm, boleh. Kok sepertinya serius”
“Ya, ini serius. Tapi….”
“Tapi apa?” ia memotong pembicaraanku. Pikiranku tak
karuan, entah mengapa tiba-tiba saja bibirku terasa berat untuk
mengungkapkannya.
“Tapi kamu jangan marah bila tidak suka dengan
perkataanku nanti”
“Ok, asalkan jangan meminta yang bukan-bukan”
Aku semakin bingung, kata yang bukan-bukan begitu
ambigu dalam pikiranku.
“Nanti aku sms aja, gak enak banyak teman-temanku
disini”
Aku sudahi perbincangan itu. Dilanjutkan dengan
mengirimnya pesan lewat via sms.
“5f sblm.a
jk qw mgtkn.a lwt sms.
ju2r smnjk qw mngenl u, hatiq bg2 dmai.
Jk u brkenan,
maukh u mnjd gdis pndmping hdupq?”
Lama aku menunggu jawaban darinya. Aku takut pesan
yang aku kirim membuatnya benci padaku. Karena selama ini hubungan kami hanya
sebatas teman.
“sbnr.a qw sdh brhrap lama agr u brkt
spt i2. Tp qw mch tkut
Apkh cnta u akn tetap ha.a untkq,
mengingt sbntr lg u akn
Brhnt dr psntren”
“slm qt bs sling mnjga n brjnj untk
stia, khwtran i2
Tdk lg brarti”
“klw bg2, qw mau mnjd gdis pndmpingmu”
“smg, cnt ini seputih hati santri”
“amin…”
***
Comments
Post a Comment