Coretan Mimpi
22
“Diantara tanda-tanda orang yang tulus dalam persahabatan adalah menerima
kekurangannya, menutupi aibnya, serta memaafkan kesalahannya”
(Imam Syafi’i)
Tak pernah aku sangka sebelumnya, ternyata Viqi juga
memilih pesantren yang sama denganku. Empat Serangkai mungkin ditakdirkan untuk
tetap ada, meskipun tidak lagi bisa berkumpul dengan lengkap. Keberadaan Viqi
aku rasa sudah cukup untuk mengisi kekosongan dan mewakili kedua temanku itu.
Seperti prinsip pada awal pembentukannya, Empat Serangkai hanyalah sebuah
wadah, sedangkan sahabat tidak ada yang boleh membatasinya.
Satu minggu berada dipesantren, aku belum bisa
menguak misteri dari maksud doa Ibu. Ya, Ibu tidak mengharapkan agar aku bisa
baca kitab gundul, hafal Al-Qur’an, dan pandai berpidato. Yang Ibu inginkan
agar aku bisa memahami hakikat hidup sebenarnya. Apakah dengan aku berada
dipesantren aku bisa memahaminya. Pertanyaan itu terus bergentayangan dalam
pikiranku. Hakikat hidup, maksudnya apa.
Pernah aku bertanya pada Viqi tentang keinginan Ibu
itu.
“Apa, hakikat hidup. Setahuku sih, hidup itu harus
disukuri. Jangan pernah sia-siakan setiap waktu yang kita miliki dengan
perbuatan yang tidak berguna. Karena kita tidak akan tahu kapan kita akan mati.
Dan apakah pahala yang kita miliki sudah cukup apa belum untuk dijadikan bekal
menghadap-Nya.”
“Ya, kalau itu aku juga paham. Yang jadi masalah,
mengapa harus dipesantren.” Aku kurang puas dengan jawaban Viqi.
***
Diantara pengakuan teman-teman baruku, aku mulai
sedikit memahami bagaimana pikiran menjadi kunci utama dalam membangun
ketenangan batin.
“Aku tidak betah dipesantren, ditempat ini aku tidak
bisa bebas seperti dirumah”
“Kalau aku selalu terbayang-bayang wajah kedua orang
tuaku.”
“Aku rindu kebebasan.”
“Aku ingin pulang.”
“Kepalaku pusing belajar kitab gundul.”
Apa yang teman-temanku rasakan juga sama denganku.
Hanya saja aku berpikir ulang bila harus pulang kerumah. Siapa yang tidak suka
kebebasan.
“Kita harus bertahan, semua orang ingin bebas, bisa
berbuat semaunya. Tapi perlu kita ingat, tujuan pertama kita berada disini
adalah mencari ilmu. Meskipun ada yang terpaksa, kata Ke Aziz, lebih baik
terpaksa untuk kebaikan daripada ikhlas untuk keburukan.” Aku seolah-olah pengurus
yang menasehati anak didiknya. Meskipun pada kenyataannya aku juga ingin cepat
pulang.
Didalam ruangan kamar asrama yang sempit, kami
saling berbagi kisah, saling menguatkan, tidak lupa terawa bersama-sama,
sejenak untuk melepas beban pikiran yang tak menentu.
Pesantren bagi kami adalah sebagai ujian dimana
ketegaran dan semangat juang kami di uji. Dan diantara teman-temanku ada yang
kuat, meskipun hatinya tidak tenang. Ada pula yang memilih untuk berhenti,
menghentikan perjuangannya demi kepuasan pribadinya semata.
***
Sebenarnya apa yang Ibu inginkan, berhari-hari aku
mencoba terus mencari tahu tentang hakikat hidup. Benarkah aku bisa
mempelajarinya dipesantren ini. Dan sampai kapan aku harus mencari. Aku seperti
pengembara yang mulai resah, tidak mendapatkan apa-apa dari tempat
pengembaraanku. Hanya dengan menulis puisi aku bisa menumpahkan semua keresahan
itu.
di pagi buta kokok
ayam melengking
menemani langkah
pengembara yang merindukan
rembulan diipucuk
samudra
setapak langkah
timbulkan jejak; jejak merambat menjelma akar
jauh sudah langkah
pengembara
ombak dan badai
dipeluknya dengan mesra
diatas perahu ia bersiul
dan bernyanyi
bercengkrama dengan
ikan dan asin laut
tapi rembulan belum
juga ditemuinya
bertahun sudah hidup
pejuang
pengembara mulai
resah dan bimbang
mungkin rembulan
tetap diangkasa
samudra hanya
memantulkan bayangannya
pada laut ia
pasrahkan hidupnya—pada gelombang
asin dan badainya
“Tuhan, beri aku
bekal untuk sangu pulang”
Hanya saja aku tetap betah tinggal dipesantren. Aku
tetap merasa nyaman dan damai, lingkungan yang berkembang dipesantren telah
mengajariku bnayak hal. Tentang artinya persahabatan, kebersihan, kerja sama,
disiplin, dan berbagi. Mungkin ini yang dimkasud Ibu tentang kehidupan. Antara
percaya dan tidak, pengetahuanku cukup bisa menagkapnya sampai disitu saja.
Tidak apalah bila aku tidak terlalu pandai dalam
urusan agama, toh itu kesalahanku sendiri yang malas untuk belajar. Setidaknya
pesantren telah membangun kebiasaan-kebiasaan baik sebagai bekal untuk
menghadapi hidup yang sesungguhnya.
Dengan adanya sahabat kita bisa membagi rasa suka
maupun duka, dengan bersih kita akan merasa nyaman, dengan kerja sama kita bisa
lebih cepat dalam mengerjakan sesuatu, dengan disiplin kita bisa tegas, dan
dengan berbagi kita akan mengetahui betapa nikmat rasanya menerima. Inilah
hidup. Ucapku menguatkan keyakinanku tentang maksud Ibu.
***
Comments
Post a Comment