Keinginan Ibu

Coretan Mimpi
18

“janganlah kita mencari ilmu dengan kekuasaan dan kemuliaan diri. Namun hendaknya mencari ilmu itu dilakukan dengan mengorbankan jiwa, sanggup menghadapi kesulitan hidup dan berkhidmat kepada para ulama”

(Imam syafi’i)

Dua hari lagi wisuda akan dilaksankan, pertanda pelepasan sekaligus perayaan bagi siswa yang lulus Ujian Akhir Nasional. Aku semakin bingung akan melanjutkan kemana, sementara KH. Dahlan guru ngajiku yang sangat aku hormati setiap wejangan darinya, mengusulkan agar aku mondok. Dari dulu aku tidak pernah mengabaikan setiap usulan yang diberikan padaku ketika aku minta pendapatnya, dan aku selalu mendapatkan yang terbaik darinya“Salah satu tatakrama dalam memilih setiap keinginan, ada baiknya guru dilibatkan. Guru adalah orang yang sangat berjasa dalam hidup manusia. Tanpa guru kita akan mudah ditipu, karena bodoh. Dan guru selalu lebih tahu mana yang terbaik bagi muridnya” ucap KH. Dahlan waktu pengajian kitab Ta’lim Muta’allim.
Sementara itu aku sama sekali tidak berminat dengan yang namanya pondok.
“Sudahlah kawan, tak perlu kau risaukan tentang petunjuk guru ngaji kita” ucapan Lukman cukup membuat pikiranku dilemma. Tidak ada yang bisa aku lakukan, kecuali hanya diam. Dan membiarkan sahabatku itu melancarkan argumennya.
“Bagaimanapun petunjuk beliau dari dulunya selalu jadi yang terbaik bagiku” jawabku setelah beberapa kali diam.
80“Paling ketepatan saja, sudah ikuti saja keinginanmu mau kemana” Hadi menengahi pembicaraanku.
“Kalau aku sih, ingin masuk SMA. Hanya itu keinginanku, tidak lebih.”
“Negeri atau swasta” Viqi ikut bertanya.
“Terserah, aku tidak peduli itu”
Aku tidak terlalu berminat untuk memilih Negeri atau Swasta, bagiku semua sama. Hanya saja aku ingin suasana berbeda.
“Bgaimana kalau kita liburan saja dulu” Lukman memberi usul.
“Kemana” tanyaku penasaran.
“Pantai Lombang, biar pikiran fresh”
“Boleh juga”
Hari itu kami berangkat menuju Pantai Lombang, letaknya berada diujung timur, Desa Legung. Pantai yang indah dengan jajaran pohon cemara udang yang berbaris rapi menghiasinya. Baru pertama kali aku mengunjunginya, ada kebanggaan tersendiri ketika aku tiba disana. Bertahun-tahun aku tinggal di pulau Madura, tapi tak pernah mengunjunginya. Jika dibandingkan dengan Pantai Kute, aku lebih memilih Pantai Lombang, tidak peduli orang berkata apa. Jujur keindahan panorama yang tersaji disana begitu anggun dan alami.
Pernah sesekali terbersit dalam pikiranku waktu itu, mengapa Pantai Lombang tidak bisa mashur seperti Pantai Kute, Bali. Apakah belum ada media yang memperkenalkannya, atau ketakutan akan warga Madura yang terkenal garang dan mudah membunuh. Siapa yang mengklaim seperti itu, apakah benar kata “Carok” yang membuat orang-orang luar Madura merasa takut.
Padahal Carok adalah sebuah tradisi yang menurut Pak Sukri merupakan sebuah keberanian yang menjadi ciri khas orang Madura. Carok hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki konflik, karena harga dirinya tertindas dan diremehkan. Dan itupun dilakukan secara terang-terangan, dengan perjanjian sesuai kesepakatan. Meskipun tetap merupakan tindakan kriminal, setidaknya itu terjadi bila harga diri diinjak-injak.
81“lokana daging gi’ bisha ejhai’ tape lokana ate tadhe’ tambhena, kajhebena dhere ngalecer”daging yang terluka masih bisa dijahit, tapi hati yang terluka tidak ada obatnya, kecuali ada darah yang mengalir. Kurang lebih seperti itulah semboyan yang sering terucap bagi mereka yang merasa harga dirinya diabaikan.
Pada saat itulah aku punya mimpi, pada suatu hari nanti akan memperkenalkan kemata dunia, kalau Orang Madura juga manusia biasa yang bisa bergaul seperti manusia pada umumnya.
***
Pikiranku cukup tenang, tak lagi memikirkan kemana aku akan pindah sekolah. Tetap disekolah yang sama, mengikuti Lukman dan Hadi, ikut Viqi mendalami ilmu agama, aku tidak peduli. Yang terpenting aku bisa melanjutkan sekolah, dan bisa mencapai impianku untuk memperkenalkan Madura kemata dunia sebagai pulau yang indah dan kental akan tradisi dan budaya yang mampu bersaing serta dapat diakui di tingkat internasional.
Akan tetapi aku cukup terkejut, ketika Ibu juga menginginkan agar aku mondok. Ibu memang tidak pernah secara langsung memaksakan kehendaknya. Seringkali ia menyindir dengan cerita anak-anak dikampungku yang mondok “Betapa tentram hati orangtuanya ya, ketika melihat anaknya seperti Jamil yang Hapal Al-Quran, pandai baca kitab, dan tingkah lakunya sangat sopan” ucap Ibu waktu itu.
Aku cukup paham siasat itu, bukan hanya sekali, bahkan aku sampai lupa untuk mengingatnya, tapi tetap saja sama sekali tidak membuatku merasa terkesan oleh cerita Ibu.
Alasannya cukup sederhana, ketika suatu waktu ada salah satu santri dari kampong tetangga yang sudah selesai mendalami ilmu agama dipondoknya. Ia cukup terkenal pandai dalam membaca kitab, selain itu terkenal pula kealimannya. Berbagai macam perlombaan seperti pidato dan tartil Al-Quran tak luput dari genggamannya, awalnya aku sangat tertarik dan merasa kagum ketika pada lain hari sebelumnya Ibu menceritakan tentang kehebatan santri itu.
82Sayang, tingkah lakunya tidak sama dengan cerita ketika ia berada dipondoknya. Dikampungnya ia hanya menjadi pengangguran, berbagai macam kritik dan ucapan pedas menjadi makanan pokok baginya. “Apa aku bilang, ngapain mondok jauh-jauh, bila hanya mencetakmu jadi pengangguran” satu sampai tiga hari ia cukup sabar, dan menganggap itu hanya sebatas cobaan yang coba Allah ujikan.
“Apa yang kau dapat dipondomu nak, kenapa tidak jadi kiai, biar banyak mendapat penghasilan dari ceramah, kan lumayan. Katanya kamu selalu juara ketika mengikuti lomba pidato. Mana bakatmu itu, tunjukkan kalau itu berguna. Hahahaha….”
“Dulu aku sudah katakan sama ibunya, agar lebih baik ia disuruh merantau saja kejakarta. Coba lihat Sunarto, sekarang ia sudah membangunkan rumah untuk orang tuanya”
“Lebih baik kau ikuti Sunarto ke Jakarta, siapa tahu ia bisa membantumu”
Mungkin karena merasa tidak nyaman dengan gunjingan para tetangganya, santri itu akhirnya merantau ke Jakarta. Tapi ternyata nasib berkata lain, Jakarta tidak memberinya apa-apa, ia tidak seberuntung Sunarto. Satu minggu setelahnya ia kembali kekampung halamannya. Kembali jadi pengangguran, dan menjadi bahan gunjingan tetangganya.
“Paling sewaktu mondok ia hanya bisa mendalami ilmu agama saja, tapi tidak bisa mempraktikannya. Pantas bila rejeki menjauh darinya”
Lantaran tidak kuat dan merasa harga dirinya dijatuhkan, ia akhirnya nekat menyabet leher orang-orang yang sering menertawakannya dengan celurit yang biasa ia pakai untuk ngare’ rebbe[1]. Jadilah ia pembunuh, dan menamatkan riwayatnya dijeruji Tahanan.
Aku takut kejadian itu menimpaku juga. Aku tidak mau jadi pembunuh.
Bebagai macam siasat selalu Ibu susun dengan cerita, sepertinya tidak ada bosan-bosannya Ibu bercerita.
83Sampai pada akhirnya ketika jam dua dini hari aku terbangun, melihat Ibuku memanjatkan doa. Aku pura-pura tetap tidur, sambil menguping doa apa yang dipanjatkan Ibuku “Ya Allah, hamba sudah berjanji untuk membiarkan anak hamba menjadi seperti yang ia inginkan, bukan apa yang hamba inginkan. Tapi apakah hamba salah bila meminta pada-Mu agar diberikan petunjuk agar ia mau mondok. Hamba hanya takut lingkungan masa remajanya bila dihabiskan didunia luar, akan ikut dan menjadi anak yang kerjaannya tidak memiliki nilai guna. Bisanya cuma keluyuran malam, mabuk-mabukan. Berikanlah hidayah-Mu, hanya pada-Mulah hamba meminta, berharap, dan memohon”
Air mata mengalir membasahi bantal yang aku tiduri. Hatiku terasa seperti tertusuk oleh ribuan duri. Doa Ibu membuatku merasa seperti anak yang tidak berguna, anak yang tidak bisa memberikan kebahagian, anak yang terlahir secara percuma. Aku tutupi wajahku dengan sarung yang kujadikan selimut, untuk menutupi air mata yang terus mengalir. Dan aku mendengar sesenggukan Ibu dalam doanya.
“Hamba tidak menginginkan agar anak hamba bisa baca kitab, hapal Al-Quran, atau jago pidato. Hamba hanya berharap dengan ia mondok, anak hamba bisa memahami makna hidup yang sebenarnya”
Meskipun aku sempat menangis, tapi tetap tidak bisa membelokkan keinginanku untuk menolak keinginan Ibu. Yang bisa aku katakan seandainya Ibu secara tegas memaksaku untuk memenuhi keinginannya, hanya kata “Maafkan anakmu yang tidak bisa menjadi seperti yang Ibu inginkan”.
Bukan Ibu namanya bila lebih mementingkan keinginannya daripada keinginan anaknya. “Ibu tidak akan pernah memaksamu untuk jadi apa, akan kemana, harus seperti ini dan itu, kamu telah cukup tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan satu lagi, kamu memiliki sejarah sendiri” ucapan itu yang selalu aku ingat. Dan aku berjanji untuk menjadi anak yang berguna, tapi bukan dengan mondok.
Aku tahu, dalam mencari ilmu kita dituntut untuk sabar, tapi aku takut tidak sanggup bila harus mondok.
Maafkan anakmu Ibu.
***



[1] Menyabit rumput

Comments