Coretan Mimpi
17
“Berperasangka baiklah kepada sesama mahluk, karena sesungguhnya rahasia
Tuhanmu tersebar pada seluruh mahluknya”
(Syeikh Abubakar bin Salim)
Tidak terasa waktu seakan lebih cepat dari biasanya,
ketika aku sadar tidak akan lama lagi Empat Serangkai akan segera berpisah.
Tepatnya setelah kami baru saja selesai menempuh Ujian Akhir Nasional. Tidak
ada satu kecemasanpun dari raut wajah kami tentang hasil UAN yang akan didapat.
Apakah akan lulus atau tidak, semua berjalan seperti biasanya, seperti tidak
ada apa-apa. Hanya saja kami hawatir dengan tidak bertemunya lagi Empat
Serangkai. Kalau Lukman dan Hadi sudah pasti untuk melanjutkan ke MAN Sumenep,
sedangkan Viqi katanya akan mendalami ilmu agama sekaligus sekolah di Ponpes
Mathali’ul Anwar, Pangarangan, Sumenep. Aku belum punya tujuan pasti.
Ada sedikit kecemasan bergolak dalam pikiranku,
apakah aku akan bertemu lagi dengan mereka, dan mungkinkah hari-hariku tetap
berwarna tanpa adanya Empat Serangkai. Tapi aku sama sekali tidak menampakkan
kecemasan itu saat bersama mereka, biar tidak ada rasa berat dalam keputusan
yang akan mereka ambil nantinya.
Sempat ada perbincangan tentang keputusan apa yang
akan aku ambil untuk melanjutkan pendidikanku. Lukman dan Hadi mengajakku untuk
ikut daftar di MAN Sumenep, sedangkan Viqi membiarkan aku untuk menentukan
pilihan sendiri “Ikuti kata hatimu”.
Jika berbicara hati, keinginanku cukup sederhana.
Aku hanya ingin pindah sekolah, dan merasakan yang namanya SMA—sekolah berbasis
umum, bukan dominan ke agamanya. Biar ada sedikit warna dalam perjalanan
pendidikanku, karena Mi dan MTs sudah aku lalui. Itu saja.
***
Tibalah hari pengumuman kelulusan yang sudah
dijadwalkan oleh sekolah, sengaja memang tidak disamakan dengan sekolah lainnya
yang diumumkan secara serempak seluruh Indonesia.
“Sebaiknya kalian harus tenang terlebih dahulu,
karena ada saja kemungkinan diantara kalian yang tidak lulus. Sengaja memang
pengumuman kelulusan kami tunda untuk beberapa hari, bukan karena apa, kami
dari pihak guru hanya ingin kalian bisa lebih baik dari sekolah lain dalam
merayakan kelulusan. Yang kami minta, agar kalian tidak meniru sekolah lain
yang sudah menjadi tradisi salah kaprah dengan mencorat-coret seragam sekolah”
Kepala sekolah memberikan ceramah. Kami yang sengaja
dikumpulkan didalam kelas sama sekali tidak bersuara, sibuk dengan pikiran
masing-masing. Menjaga kemungkinan namanya tidak tertulis dalam barisan siswa
yang lulus. Termasuk aku, mungkin juga ketiga teman akrabku. Sementara kepla
sekolah terus berbicara memperingatkan kami agar tidak membuat perayaan yang
tiada nilai guna.
“Pengumuman pada tahun ini sedikit berbeda, jika
pada tahun-tahun sebelumnya pengumuman ditempelkan didepan kantor, pada tahun
ini bentuknya dalam amplop. Kami berharap, amplop ini jangan dibuka sendiri,
hanya orang tua kalianlah yang berhak. Kami dari pihak guru memang tidak bisa
memantau kalian, tapi ingatlah Tuhan selalu tahu apa yang kalian lakukan. Ini
semacam amanah yang harus kalian jalankan, jangan sampai jadi orang munafik.
Kami tidak ikhlas semua ilmu yang kalian dapatkan bila kalian melanggar setiap
nasehat yang dari tadi kami amanahkan kepada kalian. Hanya itu, semoga kalian
lulus semua, dan tetap memiliki semangat untuk melanjutkan pendidikan sampai
kejenjang perguruan tinggi”
Ceramah usai, amplop yang berisi surat pengumuman
dibagikan satu persatu. Semua siswa dipanggil namanya untuk mengambil amplop
secara bergantian sesuai nomor urut absensi.
Hasilnya semua temanku lulus, dalam isi amplop itu
juga tertera surat undangan untuk wali murid tentang penetapan hari wisuda
sekaligus pembagian Surat Keterangan Lulus, sedangkan ijazah menysul pada hari
berikutnya, menunggu proses pembuatannya selesai.
Semakin dekat hari perpisahan dengan teman-temanku.
Ada yang mau melanjutkan sekolah, ada pula yang patut disayangkan, mereka
memilih untuk bekerja, ada pula yang berkeluarga. Sedangkan aku tetap bigung
untuk melanjutkan disekolah apa, pada intinya aku tidak mau melanjutkan
disekolah yang sama. Bukan kerana aku tidak suka, hanya saja aku mau lingkungan
yang baru.
“Bagaimana kawan, sudah ada pilihan” Tanya Viqi
ketika Empat Serangkai memutskan untuk berkumpul sebelum hari wisuda.
“Belum, aku masih bingung mau melanjutkan dimana”
“Makanya jangan terlalu banyak mikir, sudah ikut
kami saja daftar di MAN, biar tetap kumpul” bujuk Hadi.
“Atau ikut Viqi saja, jadi santri, calon kiai
pengganti KH. Dahlan, hahaha…” ucap Lukman sambil tertawa.
“Waduh, kalau usul Hadi masih bisa aku terima, tapi
kalau disuruh mondok, lebih baik aku tetap disekolah ini saja”
Aku memang enggan dengan yang namanya pondok, yang
ada dibayanganku adalah kitab gundul—tanpa harkat, Nahwu-Sharraf, yang
sebenarnya sudah diajarkan disekolah, dan aku jadi langganan dihukum berdiri
ketika disuruh menghapal. Sangat rumit untuk memahaminya, disekolah saja
pikiranku sudah seperti ditimpa berton-ton beras, apalagi kalau dipondok. Tak
bisa aku bayangkan nasibku disana.
***
Comments
Post a Comment