Coretan Mimpi
24
“Kenangan masa lalu dan antisipasi masa depan hanya ada sekarang, dan
dengan demikian mencoba hidup sepenuhnya di saat ini adalah berusaha untuk
menjalani apa yang sudah ada”
(Alan Watts)
Hari yang ditunggu-tunggu tiba. Perpisahan antara
aku dengan gadis biruku memberikan kesan yang mendalam. Satu hari sebelum
keberangkatanku ke Yogyakarta kami sepakat untuk bertemu ditaman adipura. Dan
tak lupa aku juga berziarah ke pasarean K.
Sepuh. Aku meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran yang aku lakukan
dipesantren. Sekaligus minta doa restu agar aku di doakan menjadi orang yang
berguna bagi kehidupan.
Tidak lupa hubunganku dengan gadis biruku.
“Doakan yang terbaik untuk perjalanan hidup ini, dan
jika memang aku berjodoh dengan gadis biruku. Semoga diberikan jalan yang mudah
untuk kami bersatu. Jika tidak, pisahkan kami dengan cara yang baik.”
Ternyata hubunganku dengan Miming tidak berjalan
mulus. Aku sempat menuliskan kisahku dalam bentuk cerpen; ”Surat Yang Tak
Sempat Kau Baca[1]”.
Hemm....! udara pagi ini tak seperti biasanya. Tak pernah sebelumnya aku
merasakan hal yang seaneh ini. Seperti ada hal ganjil yang menggrogoti benakku.
Hal yang sudah sekian lama aku mencoba untuk menepis dan tidak mengingatnya
kembali. Entah mengapa dan karena apa dinginnya udara ini seolah menghantarku
mengembara kemasa yang telah lalu. Masa dimana aku pernah melukis kisah dengan
seseorang yang sama sekali tidak pernah kuharapkan kehadirannya. Dan kali ini
dia kembali hadir menjelma bayang semu sembari mengajakku tuk mengulang
peristiwa indah yang pernah kulukis bersamanya.
Akan tetapi ada salah satu dari diriku yang enggan dan menolak tuk
kembali melukis kisah. Meskipun jiwaku yang lain tak sanggup untuk memebendung
bongkahan rindu yang ingin buncah menjadi puing dan terbang bebas menjelajahi
ruang dan waktu. Kemudian bersatu saat menemukan kebahagiaannya.
Jumat adalah
hari dimana dulu aku selalu bertukar surat dengannya. Hari yang membuat rinduku
menjadi adem ayem seolah tak ada hal terberat yang aku emban meskipun terkadang
pada hari itu banyak tugas dan kewajiban yang belum terselesaikan. Dan hari
ini, entah mengapa dan karena apa aku ingin dan berharap ia bisa membaca surat
yang tak sempat ia baca. Surat yang tak sempat aku kirim, karena terlambat
oleh peristiwa yang tak pernah kuharapkan datangnya yang akhirnya menjadi
pemicu perpisahan kita. Akan tetapi dengan apa kau bisa membacanya, sedangkan
surat itu sudah dilahap kobaran api dan sekarang jadi sampah yang tiada nilai
harganya.
***
Dengan merantau jauh, aku berharap bisa melupakan kenangan masa lalu yang
tak sepantasnya hadir kembali. Dan ternyata aku salah, sejauh apapun kaki
melangkah masa lalu akan tetap hidup dan sulit untuk dilupakan. Sampai akhirnya
aku teringat dengan perkataan temanku dulu, masa lalu adalah daging atau darah
yang tidak akan pernah terpisah dengan tubuh sampai kematian mengakhirinya,
kehidupan kita adalah tubuh itu sendiri. Ya, seperti itulah aku saat ini.
“Kapan berangkat?” Ucapmu suatu waktu. Ketika
kau tahu bahwa tidak mungkin salamanya aku tetap dikota kelahiran ibu.
“Mungkin tiga hari lagi”
“Secepat itukah?”
“Karena waktuku tidak banyak lagi, aku harus cepat
sebelum terlambat”
“Kapan balik lagi”
“Hati-hati, doaku selalu hangat menyertaimu”
“Ya”
Percakapan singkat yang begitu berat untuk dilupakan. Terkadang, aku bosan
dan muak jika mengingatnya lagi. Tapi terkadang pula aku selalu ingin mengulang
percakapan itu. Percakapan yang endingnya dilumuri linangan air mata. Sehingga
sampai kapanpun kenangan itu akan tetap hidup dan abadi dalam memory otak
manusia. Karena perpisahan yang di sertai linangan air mata akan pelik untuk di
lupakan, begitulah orang bijak berkata.
***
“Perpisahan
bukanlah akhir segalanya” pesan terkahir yang kukirim lewat SMS. Semenjak saat
itu tak ada lagi kabar burung yang bercerita tentang dirimu. Semua terasa hampa
dan kegelisahan mulai nampak adanya. Entah apa yang terjadi dengan dirimu.
Sikap diammu seakan menjelma misteri yang menimbulkan tanda tanya.
Satu hari sebelum
keberangkatanku. Kita sepakat untuk bertemu di alun-alun kota. Suasana sore
yang indah tak bisa membuat mata kita bisa melihatnya. Dunia terasa suram tanpa
hiasan bunga, pepohonan, dan semua terasa hitam. Tak ada kata, taka ada suara.
Dunia ikut diam. Matahari pun seperti engggan untuk beranjak. Kita duduk
bersama, mata saling memandang, senyum yang tertahan terlihat sangat
dipaksakan.
“Kau sanggup untuk
menungguku” suaraku membuka percakapan membuyarkan suasana yang sedari tadi
hening.
“Pastilah, kau
pergi kan untuk kuliah. Tidak ada alasan yang logis untuk melarangmu”
“Baiklah. Tapi
jangan lupakan janji kita”
“Yang mana”
“Untuk saling
setia”
“Sebaliknya”
“Janji untuk
ditepati, bukan di ingkari” ucapku dengan gelak tawa. Dan sama sekali tidak ada
reaksi apapun darimu.
***
Ah, entah mengapa
dan karena apa aku ingin menulis kembali surat yang tak sempat kau baca. Surat
yang tak sempat aku kirim, karena terlambat oleh peristiwa yang tak pernah
kuharapkan datangnya yang akhirnya menjadi pemicu perpisahan kita.
Segera aku
hidupkan laptop kesayanganku. Dan jari seketika menari diatas keyboard
menuliskan gelisah segala kegundahan hati. Biarlah tulisan ini menjadi bukti
bahwa aku tidak pernah mengingkari janji. Bisikku dalam hati.
Teruntuk :
Bunga yang gugur sebelum cuaca memanggil
kemarau
Aku tulis surat
ini saat jarak memisahkan kita. Waktu seperti malaikat pencabut nyawa yang
tanpa permisi meningalkan jejak air mata.
Perpisahan
bukanlah akhir segalanya. Seperti salah satu ungkapan “Bukan perpisahan yang
aku tangisi, tapi pertemuan yang aku sesali”.ya, pertemuan yang berjalan dengan
irama keindahan yang tidak bisa terulang kembali.
Sebenarnya adakah
yang pantas untuk disesalkan dari setiap pertemuan dan perpisahan?. Sepertinya
tidak. Bukankah dari dua keadaan itu kita sama-sama mendapat pelajaran.
Pelajaran berharga yang tidak kita dapatkan di bangku sekolah.
Tuhan telah
menciptakan segala isi dunia dengan berpasang-pasangan.manis dengan pahit, Adam
dengan Hawa, tentu saja bila ada pertemuan pasti ada yang namanya perpisahan.
Itulah kodrat yang taka ada satu manusiapun mampu mengelak darinya. Itulah
bunga dari indahnya hidup.
Pertemuan dan
perpisahan adalah bunga itu sendiri. Saat pertemuan, saat itulah bunga mekar
dengan indahnya. Seindah canda tawa saat kita duduk bersama.
Selamat tinggal
kasih, belajarlah untuk mengerti aku disaat jarak memisahkan kita. Janganlah
sekali-kali melakukan tindakan yang sekiranya bila aku mengetahuinya membuat
hatiku sakit
Kepergianku bukan
untuk meninggalkanmu, tapi untuk mengajariku hakikat hidup yang sebenarnya.
Karena kebersamaan tidaklah cukup hanya dengan ungkapan rasa kasih sayang.
Melainkan dengan tindakan nyata untuk mencapai hakikat cinta yang sesungguhnya.
Ketika kau sudah
paham akan hakikat cinta, sebenarnya kau sudah tahu bahwa itu merupakan
keputusan terbesar dalam hidupmu. Yang pada akhirnya harus dipilah dan dipilih
dengan menggunakan hati nurani, akal sehat, dan pertimbangan yang matang.
Termasuk hadirnya perpisahan di akhir kisah.
Kini perpisahan
telah memanggil kita. Tak perlu kau bersedih dan merasa takut kalau aku bisa
bebas sebagaimana burung yang terbang di agkasa.
Dan ingatlah,
bunga yang layu akan kembali bersemi jika kita masih setia menyiramnya dan
memupuknya dengan kesabaran menunggu datngnya cuaca. Sebagimana pelangi yang
datang setelah hujan dan kilatan petir menyambar.
Jika perpisahan
adalah gelombang
Aku akan menyatu
pada riak deburnya
Sejauh apapun ia
berderai
Akan kembali pada
bibir pantai.
Dari :
lelaki yang kau tunggu
***
Terima kasih telah
bertandang ke gubukku. Kehadiranmu adalah penyepirit langkah untuk menembus
batas kesadaran. Biarlah kisah yang tak sempat selesai aku simpan di kedalaman
relung jiwa yang terdalam. Kepergianmu adalah perintah untukku agar tetap
berjalan menatap masa depan menemui kekasih yang ditakdirkan Tuhan.
***
Jika mengingat masa itu, aku kembali ingat dabuna kiyae “Tidak akan pernah rukun
bahtera rumah tangga yang diawali dari cara yang tidak baik, cara yang dilarang
oleh syari’at karena mendekatkan pada nilai-nilai keburukan.”
Mungkin perpisahanku dengan gadis biruku adalah
peringatan sekaligus pembelajaran. Agar aku berhati-hati dalam memaknai cinta.
Cinta hanya milik Tuhan, hanya kepada-Nya seharusnya
kita mencinta, karena hakikat cinta adalah ingin memiliki. Sedangkan kepada
mahluk-Nya, kita hanya bisa sebatas menyayangi, menjaga dan merawatnya dengan
baik. Karena ia hanya titipan semata, yang kapan saja bisa diambil, dan kita
harus merelakannya.
“Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang
baik, begitu pula sebaliknya. Setiap jodoh, rejeki, dan mati sudah ada
kodratnya, kita pernah menyepakatinya dengan Tuhan setelah ruh ditiupkan
kedalam jasad kita sewaktu masih dalam kandungan.”
Satu pesan yang aku ingat sewaktu mengikuti seminar.
Selamat tinggal, sayang. Semoga kita bisa mengambil
pelajaran dari setiap kejadian hari kemarin, biarlah kisah ini terkubur dan
tidak pernah ada. Jika kita memang jodoh,
tidak akan ada satu mahlukpun yang mampu untuk menghalanginya. Termasuk
perpisahan ini.
Aku masih punya banyak impian yang belum sempat aku
tuntaskan semua, memikirkanmu hanya akan menghambat langkah ini, jadi maafkan
bila aku lebih memilih untuk menghindar. Biarlah kisah itu berjalan sebagaimana
kodratnya.
***
[1] Cerpen ini terkumpul dalam antologi bersama (KAMUFLASE), dalam
event yang diadakan oleh Group Lavirza Azzahra (FB), Pena House.
Comments
Post a Comment