Siapa yang Salah ?

Coretan Mimpi
15

“Satu-satunya jalan untuk menang dalam
perdebatan, ialah menghindarkan
perbantahan”

(Dr. Dale Carnegie)

Keesokan harinya setelah aksi nekat yang kami lakukan. Kegiatan belajar-mengajar dikelas dihentikan untuk sementara. Para guru mendatangi kelas kami untuk mengurus permasalahan yang menjadi penyebab kami kabur dari kelas.
Ruangan kelas menjelma kuburan dimalam hari, tak ada suara, hening. Aku melihat semua kepala temanku tertunduk lemas. Hanya sesekali saja aku jumpai mata mereka saling melirik satu sama lain. Seolah bertanya siapa yang pantas untuk disalahkan.
“Saya sungguh tidak percaya bahwa kalian akan melakukan perbuatan seperti itu. Bertahun-tahun lamanya saya jadi guru disini, belum pernah ada yang berani satu kelas kabur dari sekolah. Sebenarnya apa yang kalian inginkan, mengapa tidak dibicarakan baik-baik dengan kami. Apa kalian sudah tidak menganggap kami sebagai guru kalian”
Kata-kata Pak Sukri semakin menambah kesunyian ruangan kelas. Kepala kami makin tertunduk. Kami seperti mendapatkan pengajian atau mendengar khotbah saat hari jumat. Tidak ada yang berani bersuara.
“Kami tidak suka cara Pak Dian mengajar Pak” ada sedikit keberanian untukku bisa menanggapi perkataan Pak Sukri. Meskipun cukup berat, aku seperti mendapatkan kekuatan untuk membela mana yang benar dan mana yang salah.
“Jika memang tidak suka, apakah dengan cara kabur dari sekolah merupakan cara yang baik”
70“Kami tahu itu perbuatan yang tidak baik. Tapi dengan cara apa lagi kami bisa mengungkapkan ketidaksukaan itu”
“Kalau bicara baik-baik dengan kami kan bisa”
“Bisa saja, tapi itu tidak menjamin keinginan kami akan terpenuhi”
“Siapa bilang, apakah sudah ada bukti kalau kami mengabaikan keinginan siswa”
Aku kehabisan alasan untuk membela pendapatku. Waktu itu aku tidak tahu sebenarnya siapa yang salah, tapi aku tetap yakin kalau pendapatku itu benar.
“Saya mewakili teman-teman meminta maaf atas kelancangan perbuatan kami kemarin, lain kali kami berjanji untuk membicarakan baik-baik dengan para guru.” Ucapku dengan perkataan yang tertekan. Karena aku tetap dengan pendirianku. Hanya saja, aku tidak mau para guru tetap berada dikelasku. Bisa jadi kepala kami akan sakit bila harus menunduk terus-menerus.
“Untuk kali ini kami maafkan perbuatann kalian. Tapi jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali”
Para guru meninggalkan kelas. Ruangan seketika menjelma pasar, penuh suara canda tawa. Kami seperti narapidana yang baru saja mendapatkan udara kebebasan. Dan kami tetap bersikukuh kalau apa yang kami lakukan adalah tindakan yang benar.

***

Comments