Pagi ini cuaca masih redup, tidak seperti lima tahun sebelum keberangkatanku ke kota impian. Seperti janji yang harus ditepati, berbalik mundur bukan jawaban untuk menuntaskan persoalan. Diluar gerimis mulai menampakkan wajahnya, ia seperti memanggil hujan untuk menggantikan posisinya. Sementara dikamar kecil ini, aku hanya bisa memandangi lalu-lalang orang lewat jendela, mereka berlarian mencari tempat berteduh. Aku bisa melihat perbedaan wajah-wajah mereka saat hujan benar-benar datang, ada wajah sumringah diwakili anak-anak komplek yang asyik bermain bola, ada wajah marah diwakili oleh bapak berdasi rapi yang bajunya terkena tendangan bola, dan ada wajah murung diwakili oleh diriku sendiri yang wajahnya masih menempel dijendela.
Setiap kali hujan datang wajahku
mendadak murung, dulu ada satu kejadian indah yang kulewati saat hujan, tapi
kejadian itu tidak bisa terulang kembali, wajar saja bila aku merasa sedih. Aku
masih ingat dengan satu perkataan tentang hujan, katanya hujan adalah simbol
datangnya rejeki yang sedang dikabarkan Tuhan. Dulu aku percaya dengan
perkataan itu, bukan karena rejekinya, tapi karena orang yang berkata tentang
hujan. Ya, aku masih ingat itu, ia adalah orang paling pendiam yang hemat
dengan kata, tapi sekali berkata itu adalah berkah yang tak terhingga, bagiku.
Aku masih ingat dengan
kebiasaannya ketika hujan datang. Ia akan memasak air, mengambil gelas,
memasukkan bubuk kopi dan sedikit gula, kadang tanpa gula, dan menuangkan air
mendidih dalam satu gelas, ia mengaduknya dengan santai, dan menyajikannya di
depanku.
“Minumlah, buat tubuhmu hangat.
Rasakan aromanya, rasakan kenikmatannya, rasakan kau berada disuatu masa ketika
kelak kau hidup sendiri, tapi kau tetap ingat dengan satu kejadian sederhana
ini.”
Kata-kata itu masih jelas, aku
merasakan keberadaannya disampingku. Ingatanku seolah terbawa pada suatu masa
ketika ia benar-benar ada di depanku, kami berhadapan, tanpa suara. Yang ada
hanya suara tegukan kopi hitam dan ia seruput dengan mata layu dalam pandang.
Garis keriput menggores setiap lempengan waktu, masih jelas dalam ingatan
sewaktu hujan tiba-tiba datang, tepat saat ia akan beranjak untuk pergi merawat
bakau.
“Tunggu setelah hujan reda”
ucapku setengah berbisik. Ia hanya tersenyum, kemudian pergi melawan dingin
menembus batas, selepas burung bermain air, selepas kicau para nelayan, selepas
jarak memisahkan antara keinginan dengan kenyataan.
Diluar petir menyambar memainkan
kilatnya. Sedikitpun tak membuat ia gentar untuk melawannya. Kupandangi
langkahnya tambah jauh, tambah jauh, dan tambah tak terlihat dalam pandanganku.
Aku gemetar, dari belakang seorang perempuan memeluk tubuhku dengan senyumnya
yang tegar.
“Kau kedalam saja, tak usah kau
hiraukan keadaannya, ia pasti baik-baik saja. Di meja sudah kusiapkan segelas
kopi hitam kesukaanmu, dan ada singkong rebus”
Aku berjalan mengikuti perempuan
itu. Kami banyak bicara tentang cita dan cinta, tapi obrolan kami tidak seasyik
obrolanku dengannya. Ia memang hemat dalam bicara, ia tida suka bercerita, tapi
ada saja rasa rindu itu, rindu akan suaranya, rindu akan kata bijak yang
terselip dalam tingkah nyatanya.
Kunyalakan televisi untuk sekedar
hiburan, tayangnnya tak ada yang bisa membuat ketakutanku reda. Tombol remote
memindahkan satu channel ke channel lainnya seperti putaran waktu yang tak
pernah jenuh untuk bergerak, seperti langkah yang ia tunjukkan, seperti isyarat
yang tak mampu kuterjemahkan.
Bosan menonton televisi, aku
beranjak kembali kedekat jendela. Tak ada tanda-tanda hujan akan reda, diluar
anak-anak sepertinya sudah bosan bermain bola. Tak ada siapa-siapa, sepi. Hujan
seolah mengusir mereka, aku rasa hujan sedang ingin menemuiku, aku merasakan
panggilan itu. Hujan sengaja mengusir anak-anak komplek, dan orang-orang yang
berlalu-lalang sepertinya lebih memilih untuk pulang.
Kuberanikan diri untuk
menemuinya, kamarku berada di lantai tiga, dan aku harus turun melewati tangga
untuk menemuinya.
Tiga tangga kuturuni dengan
perasaan yang tak kumengerti, aku merasa hujan benar-benar memanggilku. Sampai
dibawah kubuka pintu, diluar benar-benar sepi. Entah sihir apa yang merasuki
tubuhku, aku seperti terseret untuk berdiri dipinggir jalan menikmati guyuran
hujan. Aku ingin teriak, tapi tenggorokanku mengelak. Aku ingin bicara, tapi
pada siapa. Aku ingin berlari, tapi tak kutemukan tujuan pasti. Aku ingin
berdiri, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.
“Kemarilah” Hey, darimana suara
itu.
“Lihat di depanmu, aku disini
anak muda”
Siapa dia, aku tidak bisa melihat
wajahnya dengan jelas, tapi suaranya sangat khas. Ya, suara itu suara yang sama
seperti suara yang kurindukan.
“Apa yang kau lakukan, kemarilah,
nikmati hujan ini”
Aku memang ingin bermain dengan
hujan, tapi tidak untuk saat ini.
“Jangan ragu, jangan takut, hujan
tidak akan membuat tubuhmu lebur”
Sebentar, kemana lelaki itu. Ini
benar-benar gila, lelaki yang tak jelas wajahnya sudah tak jelas keberadaannya.
“Ayolah, jangan hanya berdiri di
depan pintu. Jangan takut, kau memang tak bisa melihatku, aku adalah suara
hatimu, dan kau sering mengabaikanku”
Benar, tapi darimana ia bisa
tahu. Ia pasti bohong, mana mungkin ia adalah suara hati. Bukankah suara hati
hanya ada dalam diriku, dan suaranya sangat mirip dengan suara yang kurindukan.
“Aku tahu apa yang sedang kau
bicarakan, tak usah takut, lawan rasa takutmu, mereka menunggu kedatanganmu.
Tapi kau harus menang terlebih dahulu, jangan biarkan mereka melihatmu kalah,
setidaknya biarkan mereka melihat perjuanganmu”
“Aku ingin melihatmu, aku ingin
berbicara denganmu, aku ingin.....”
“Bermainlah dengan hujan, rasakan
kenikmatan dan simbol rejeki Tuhan. Setelah itu aku akan menemuimu, buatkan
secangkir kopi hitam untukku”
Untuk memenuhi keinginanku dan
untuk memenuhi keinginannya, perlahan langkah kaki berjalan maju kedepan.
Dipinggir jalan mataku awas melihat arah sekitar, tidak ada siapa-siapa.
Tanpa kusadari hujan membasahi
tubuh dan pakaianku. Wajahku tengadah keatas, sementara kedua tanganku
membentang seperti sayap elang yang hendak terbang bebas. Aku berteriak sekeras-kerasnya,
kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ada energi baru merasuki tubuhku, energi
yang mampu meredakan rasa takutku, energi yang mampu mengembangkan senyum indah
dibibirku, dan energi yang membawaku pada satu ingatan pada suatu waktu.
“Tak terasa kau tumbuh begitu
cepat, sebentar lagi kau akan pergi”
“Bukan pergi, tapi....”
“Tetap saja namanya pergi, kau
akan meninggalkan rumah ini kan”
“Tapi aku akan kembali”
“Dan kau akan hidup sendiri, kau
akan jadi lelaki, nikmatilah seperti segelas kopi hitam ini”
Ya, percakapan itu adalah
percakapan dengannya yang tidak bisa kulupakan.
Tiga hari sebelum keberangkatanku
ke kota impian, ia banyak menghentikan aktifitasnya, ia lebih memilih untuk
duduk bersamaku menikmati secangkir kopi hitam. Kami tidak banyak bicara, hanya
duduk bersama, saling pandang, kemudian tersenyum.
Dua hari sebelum keberangkatanku
ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk bersamaku. Sore harinya ia mengajakku
jalan-jalan ke alun-alun kota. Seperti biasa, ia tidak banyak bicara. Kami
berjalan tanpa tujuan pasti, mengelilingi alun-alun, memandangi anak-anak yang
bermain air, memandangi remaja yang asyik berfoto, memandangi apa saja yang ada
di sekeliling kami. Setelah itu ia mengajakku ke warung terdekat untuk memesan
kopi. Secangkir kopi hitam dengan sedikit gula tersaji diantara kami. Kami
sengaja hanya memesan satu kopi, bukan karena tidak mampu membeli dua, tapi
karena kebiasaan yang tidak bisa kami hilangkan. Untuk apa dua jika satu
menyenangkan. Untuk apa dua jika satu menyatukan, sementara dua memisahkan.
Tubuhku menggigil, aku puas
bermain hujan. Sudah saatnya ia menemuiku, sudah saatnya ia memenuhi janjinya,
sudah saatnya aku tahu siapa dirinya, dan siapa yang memberitahu tentang
kenanganku bersama lelaki yang suaranya kurindukan itu. Aku akan segera
menemuinya di dalam kamar, dengan secangkir kopi hitam pesanannya, aku yakin ia
bukan suara hati.
“Segeralah mandi, aku tidak akan
mengingkari janjiku. Aku pasti menemuimu”
Baiklah, aku memang tidak tahu
dimana ia berada. Tapi suaranya sangat jelas, ia selalu tahu tentang apa yang
ada dalam pikiranku. Aku akan segera tahu siapa dirinya.
Badanku segar kembali setelah
tubuhku terguyur air dikamar mandi. Segera kupanaskan air untuk secangkir kopi
hitam yang akan membuka segala rahasia tentang lelaki yang tak jelas wujudnya,
namun suara itu seperti mengajakku untuk mengingat, menarikku pada satu ingatan
pada sosok pendiam yang suaranya selalu kurindukan.
“Secangkir kopi hitam pesananmu
sudah kubuat, kemana dirimu, aku menagih janjimu”
“Aku tidak pernah kemana-mana,
aku selalu bersamamu. Harus berapa kali kukatakan, aku suara hatimu”
“Karena aku masih waras, mana
mungkin aku berbicara dengan suara hati”
“Suara hati berbicara dengan
orang waras, bahkan orang tidak waraspun masih ada yang berbicara dengan suara
hatinya”
“Ok, lantas apa yang kau inginkan
dariku”
“Aku tercipta dari keinginanmu,
suaraku adalah suaramu, tapi kau lebih memilih suara-suara lain daripada suara
hatimu. Kau terjebak oleh suara ketakutan, takut pada kenyataan, takut bertindak,
takut salah, takut kalah. Karena takut itulah kau tidak lagi mengenalku, kau
mengabaikan keberadaanku, kau tidak mau lagi mendengarkan suaraku, padahal itu
suaramu, suaramu, suaramu, suaramu anak muda, suaramu”
“Aku tidak percaya padamu karena
suaramu mirip dengan suara yang kurindukan”
“Suara itu adalah suara yang kau
yakini, aku adalah bagian dari suara itu”
“Kau bohong”
“Suara hati tidak pernah bohong,
aku bahkan tahu jelas siapa suara yang kau rindukan itu”
“Siapa”
“Ayahmu”
“Darimana kau tahu”
“Suaranya adalah ruh dalam
suaraku, suara hatimu”
Ayah, suara yang kurindukan
adalah suaranya. Lelaki pendiam itu, suaranya sulit keluar, tapi sekali keluar
seperti mengajakku untuk berlayar, menjelajahi kehidupan, menjelajahi lautan
berkarang untuk menepi menikmati tegukan secangkir kopi, merasakan pahit
manisnya perjuangan.
Didalam kamar ini aku benar-benar
sendiri, aku sadar bahwa aku hanya berdialog dengan diriku sendiri. Seperti
janji yang harus ditepati, berjalan mundur bukan jawaban untuk menuntaskan
persoalan. Waktu itu aku berjanji pada ayah untuk tidak takut pada hujan, aku
akan bermain bersamanya, berteriak sekeras-kerasnya dan berlari
sekencang-kencangnya. Aku sudah memenuhinya pagi ini. Waktu itu aku berjanji
pada ayah untuk berangkat ke kota impian, menuntaskan segala ritual pertapaan,
berfoto bersamanya dengan seragam wisuda ketika nama belakangku tertulis gelar
sarjana. Aku belum bisa mewujudkannya. Aku hendak pulang dan minta maaf, tapi
ia seperti berada dihadapanku, memandangku dengan lekat, menyodorkan secangkir
kopi hitam dengan senyum mengembang.
Secangkir kopi hitam ini terus
memaksaku untuk mengingat pada satu hari sebelum keberangkatanku ke kota
impian. Di depanku ada ayah, ia mulai mengeluarkan suara. Cukup seteguk saja,
rasakan kenikmatan kopi hitam ini. cukup sekali saja, sukuri kenikmatan takdir
ini. Seteguk kenikmatan akan menjadi candu pada tegukan selanjutnya. Sekali
bersukur kau akan menemukan rahasia kehidupan sesungguhnya. Nikmati sisi
pahitnya kopi, nikmati kehidupan yang telah kau pilih. Jika cinta tak bertemu
dengan luka, cinta itu mungkin masih kecil. Jika mimpimu belum ada yang
meremahkan, mimpi itu mungkin masih kecil. Jika hidup yang kau jalani serba
mudah, mungkin kau masih anak kecil. Masih kuingat jelas suaramu, suara
bergemuruh riuh yang membawaku pada satu ingatan—seteguk kopi hitam pada satu
gelas yang kita seruput bersama-sama.
***
Sumenep,
20 Agustus 2016
x

Comments
Post a Comment