Jangan lagi kau tanya apa
keinginanku, tanpa kuberitahu kau pasti sudah tahu. Coba kau ingat lagi, segala
yang kuberi kau lebih memilih untuk membenci. Segala yang kukorbankan kau lebih
memilih untuk mengabaikan. Masih pantaskah kau kembali bertanya apa
keinginanku?
Seperti kemarin, ingin aku menjelma
cahaya meski kau tetap memilih gulita, ingin aku menjelma suka meski kau tetap
memilih duka, ingin aku menjelma kata meski kau tetap memilih nada, ingin aku
menjelma segelas nira meski kau tetap memilih dahaga.
“Masih adakah keinginan selain
keinginanmu itu”
“Untuk apa?”
“Untuk membuatmu bahagia”
“Aku bahagia melihatmu bahagia”
“Berhentilah berdusta, sebenarnya
apa keinginanmu?”
“Karena inginku ingin senyummu,
meski kau tak ingin bersamaku”
Setelah percakapan itu, kau mulai
berhenti bertanya apa keinginanku. Dan aku mulai tahu, bahagiamu sirna bersama
jawabanku. Sebab itulah aku memilih untuk menjauh, maaf.

Comments
Post a Comment