Saat mereka bertanya, aku selalu
bilang tidak tahu kapan terakhir kita bertemu, dan sudah berapa lama kita
saling menjauh. Aku selalu bilang dengan suara lantang bahwa sedikitpun kau tak
pantas untuk di kenang. Tapi satu yang harus kau tahu, semua kulakukan demi
membuang semua bayang tentang senyuman dan cubitan kecil darimu, ketika dulu
aku bilang sayang.
Saat mereka bertanya, aku selalu
punya cara untuk menghentikan pertanyaan selanjutnya. Dengan apa, tentunya
dengan mengiyakan segala prasangka dan membiarkan mereka tertawa saat aku duduk
dipinggir jendela, melihat hujan yang tak kunjung reda.
“Hahaha.... melihat hujan sama
saja membiarkan hatimu terhujam”
“Mungkin kau benar, tapi hatiku
masih bersinar”
“Bersinar untuk redup kembali”
“Hahaha.... redup bukan berarti
mati”
Saat mereka bertanya, aku selalu
berharap bisa kembali menjalani hari sebelum kita bertemu, sebelum kita
mengabadikan waktu, sebelum ingtanku penuh dengan senyum nakalmu. Jujur, aku
kehilangan cara untuk menghapus kenangan itu.
Saat mereka bertanya, aku selalu
bilang “seperti hujan, kenangan begitu sulit ditiadakan. Ia datang dan kita
menunggu, sampai menghilang digantikan waktu”. Seperti hari ini, hujan dan
kenangan tidak lagi mengenal kapan musimnya. Sementara waktu, aku tidak tahu
seperti apa wujudnya.
Saat mereka bertanya tentang
kabarku, kira-kira seperti apa jawabmu?

Comments
Post a Comment