Perkenalan singkat waktu itu
masih jelas dalam ingatanku. Berawal dari samar-samar perbincangan teman
tentang nama model yang akan menjadi objek pada sore itu. Namamu bukan lagi hal
yang samar untuk mereka. Tapi bagi fotografer pemula sepertiku, diperlukan
banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
Aku menyempatkan waktu untuk
mencaritahu seperti apa karaktermu, karena dengan mengetahui itu aku bisa memahami
bagaimana cara memberi arahan yang baik tanpa membuatmu terusik. Dengan sedikit
menahan malu aku meminta pada mereka nama akun media sosialmu, berharap dapat
membaca karaktermu lewat foto dan caption yang kau tulis, tapi yang aku dapat
hanya tawa—mereka selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan mereka. Punya
modal apa untuk mendapatkan model ini?
Aku tidak bisa menjawab, karena
pertanyaan mereka bukan jawaban dan alasan mengapa aku ingin tahu siapa dirimu.
Perkenalan singkat waktu itu
masih jelas dalam ingatanku. Saat kau tiba-tiba hadir dan melenyapkan suara
bising dari gelak tawa mereka yang mempergunjingkan namaku dan namamu.
Tidaklama ruangan kembali bising setelah jabat tangan pertama darimu adalah aku
yang kau tuju. Aku masih ingat ekspresi wajahmu yang kebingungan. Tapi aku bisa
tahu banyak tentangmu saat kau ikut berbaur dengan tawa mereka, meskipun kau
tidak tahu sebenarnya yang mereka tertawakan adalah kita. Kau adalah gadis yang
asyik dan seketika aku langsung tertarik.
Akhirnya kita saling mengenal,
menyempatkan waktu untuk bertemu, menyempatkan waktu untuk bertamu,
menyempatkan waktu untuk merindu. Tapi entah mengapa diantara kita tak ada
keberanian untuk saling mengaku. Mungkin kamu menunggu, tapi pertanyaan mereka
waktu itu tiba-tiba membuat aku ragu. Untuk mendapatkan model sepertimu, aku
punya modal apa?
Waktu berlalu, aku kehilangan
kabar tentangmu. Kau berlari dan aku sakit hati.
Sampai akhirnya ada nama baru
yang singgah di hatiku. Dan kabar pilu tentang foto tangan berdarah yang kau
gores dengan sengaja, yang kau uploud di media sosialmu membuatku terus
bertanya, sebenarnya di anatara kita siapa yang salah.
Perkenalan singkat waktu itu
masih jelas dalam ingatanku. Sebab foto dan senyummu terbingkai indah dalam
fragmen kenanganku. Mungkin kau bukan objek yang ideal, tapi aku selalu
menemukan sudut yang spesial. Kau asyik dan aku sempat tertarik.

Comments
Post a Comment