Ramu Kata 7 - FOTOGRAFER



Perkenalan singkat waktu itu masih jelas dalam ingatanku. Berawal dari samar-samar perbincangan teman tentang nama model yang akan menjadi objek pada sore itu. Namamu bukan lagi hal yang samar untuk mereka. Tapi bagi fotografer pemula sepertiku, diperlukan banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

Aku menyempatkan waktu untuk mencaritahu seperti apa karaktermu, karena dengan mengetahui itu aku bisa memahami bagaimana cara memberi arahan yang baik tanpa membuatmu terusik. Dengan sedikit menahan malu aku meminta pada mereka nama akun media sosialmu, berharap dapat membaca karaktermu lewat foto dan caption yang kau tulis, tapi yang aku dapat hanya tawa—mereka selalu menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan mereka. Punya modal apa untuk mendapatkan model ini?

Aku tidak bisa menjawab, karena pertanyaan mereka bukan jawaban dan alasan mengapa aku ingin tahu siapa dirimu.

Perkenalan singkat waktu itu masih jelas dalam ingatanku. Saat kau tiba-tiba hadir dan melenyapkan suara bising dari gelak tawa mereka yang mempergunjingkan namaku dan namamu. Tidaklama ruangan kembali bising setelah jabat tangan pertama darimu adalah aku yang kau tuju. Aku masih ingat ekspresi wajahmu yang kebingungan. Tapi aku bisa tahu banyak tentangmu saat kau ikut berbaur dengan tawa mereka, meskipun kau tidak tahu sebenarnya yang mereka tertawakan adalah kita. Kau adalah gadis yang asyik dan seketika aku langsung tertarik.

Akhirnya kita saling mengenal, menyempatkan waktu untuk bertemu, menyempatkan waktu untuk bertamu, menyempatkan waktu untuk merindu. Tapi entah mengapa diantara kita tak ada keberanian untuk saling mengaku. Mungkin kamu menunggu, tapi pertanyaan mereka waktu itu tiba-tiba membuat aku ragu. Untuk mendapatkan model sepertimu, aku punya modal apa?

Waktu berlalu, aku kehilangan kabar tentangmu. Kau berlari dan aku sakit hati.

Sampai akhirnya ada nama baru yang singgah di hatiku. Dan kabar pilu tentang foto tangan berdarah yang kau gores dengan sengaja, yang kau uploud di media sosialmu membuatku terus bertanya, sebenarnya di anatara kita siapa yang salah.

Perkenalan singkat waktu itu masih jelas dalam ingatanku. Sebab foto dan senyummu terbingkai indah dalam fragmen kenanganku. Mungkin kau bukan objek yang ideal, tapi aku selalu menemukan sudut yang spesial. Kau asyik dan aku sempat tertarik.

Comments