Masih ingatkah kau dengan foto
yang terpajang di berandaku. Kau menghentikan waktu sejenak untuk sekedar
kenangan.
Katamu, ini cerita kita. Biarkan
masa memenjarakan sedemikian peristiwa. Agar mulut tetap sanggup bercerita pada
kawanan burung angsa, atau angin yang mengirim gigil.
Masih ingatkah kau dengan
perbincangan itu. Semua serba khayal, satu pun tak ada yang nyata. Kau benar,
ternyata pura-pura lebih indah dari segala yang nyata tapi fana.
Masih ingatkah kau?
Kita duduk larut pada perhelatan
altar dimensi ke tiga. Pada setiap perbincangan kita selalu tertawa.
Mengaramkan kesedihan terpojok jauh dalam jurang ngarai doa.
Masih ingatkah kau, kawan.

Comments
Post a Comment