Mei, tanpa perjanjian aku
melihatmu di sebuah meja, memainkan ponsel sambil memandang ke segala arah.
Apakah kau melihatku, entahlah. Aku masih memandangimu dari balik jendela.
Sedang apakah kau di sana, tanyaku. Berharap tak ada yang kau tunggu. Sebab aku
ingin menyapamu, sebelum lebih dulu lelakimu.
Empat tahun aku pergi, sementara
kau masih menunggu. Empat tahun aku menyendiri, sementara kau masih menanti.
Aku pun menghampiri, seolah-olah
ingin memesan kopi. Kau pun menanggapi, seolah-olah tak percaya diri. Aku tahu
kau pun tahu, kita basa-basi biar tak ada hati yang tersakiti.
“Maaf ucapku, maaf ucapmu, maaf
ucap lelakimu, maaf telah mengganggu”
Dan aku pamit pergi, dan kita tak
pernah bertemu lagi. Dan aku ingin mengakhiri, dan kita sebaiknya menyepakati.

Comments
Post a Comment