Dua gelas teh hangat dan tumpukan uang tercecer di meja ruang tamu, seorang ibu duduk dengan senyumnya yang teduh. Ia memanggil lelaki yang sedari tadi berdiri di luar pintu, mengajaknya untuk duduk, dan sedikit perbincangan yang terekam oleh waktu.
“
jika uang mampu menjawab segalanya, lantas apa yang berharga dari sebuah
kedamaian, dan apa yang menarik dari surga“
Ucapan
pertama membuat si lelaki menundukkan kepala, tak ada yang bisa ia lakukan,
kecuali mendengarkan ucapannya.
“Uang
hanyalah alat, iya adalah jembatan. Ibarat orang kelaparan, jembatan adalah
makanan”
Lelaki
itu mulai berani mengangkat kepalanya, ia menatap tajam mata sang ibu, mencoba
menyelami kedalamannya, yang ia temukan rona ketulusan, pancaran suci melebihi
putih.
“Kau
tahu mana yang baik dan mana yang terbaik, kau bukan anak kecil yang perlu
berkali-kali penjelasan untuk memahaminya. Sudahlah, tak usah kau pikir
bagaimana cara mengembalikannya, kelak kau akan tahu sendiri, Tuhan tidak
pernah tidur. Dan kau tidak mungkin kabur, aku yakin itu”.
“Bagaimana
kalau aku kabur”.
Lantang
sekali jawaban lelaki itu, tetapi sang ibu menanggapinya dengan senyum.
“Aku
memang tidak bisa memprediksi masa depan, tetapi aku punya keyakinan dan Tuhan.
Aku mengenalmu hari ini, bisa saja kau tak mengenalku hari esok, tapi aku
percaya kalau itu tidak akan pernah terjadi”
“Bisa
saja aku lari, dan kau tak punya bukti kuat untuk mengejarku”
“Tapi
rasa sayang tak akan pernah ternoda oleh penghianatan. Sekalipun itu terjadi,
aku tak pernah menyesal telah menganggapmu sebagai anak”.
Lelaki
itu diam, ruang tamu hening, hanya detak jarum jam yang tetap berbunyi. Di
susul suara gelas yang di angkat oleh sang ibu, dan seruputan teh yang tidak
lama di ikuti lelaki itu.
“
Aku tidak akan bicara lagi, hanya jembatan ini yang bisa aku berikan, jika kau
mau silahkan ambil, semua keputusan ada pada dirimu sendiri”
Lelaki
itu kembali menatap kedalaman mata sang ibu, rona ketulusan dan pancaran suci
yang melebihi putih masih ia temukan. Masih sama dengan yang ia lihat ketika
pertama kali mengenalnya. Sosok perempuan perkasa yang hampir setara dengan ibu
kandungnya.
Dengan
hati-hati lelaki itu mengambil tumpukan uang di meja, menghitungnya, kemudian
menaruhnya di dalam tas. Sesekali ia
melihat sang ibu yang lagi tersenyum, sebenarnya ada yang ingin ia
ceritakan, tapi ia tak sanggup, ia takut kalau nanti mengecewakannya. Kepada
dirinya ia pernah berjanji, ia tidak akan pernah membuatnya kecewa, sebagaimana
janji kepada kedua orang tuanya.
Berkali-kali
lelaki itu memiliki rencana berhenti kuliah, karena tak mampu membayar. Tetapi
selalu digagalkan oleh sang ibu, dialah manusia berhati malaikat yang di utus
Tuhan untuk membantunya, sebagai jembatan untuk lelaki yang selalu putus asa.
Kini
lelaki itu menjelma sosok yang tangguh, mulai berani mengambil keputusan.
Lelaki yang punya keinginan untuk mengharumkan negerinya, dan mengubah dunia
dengan kemampuan menulisnya. Ia yakin kalau kata-kata akan meruncing, menjelma
propaganda yang akan di amini oleh semesta dan Tuhannya.
Untuk
sementara keyakinan itu ia simpan, kata-kata yang pernah sang ibu ucapkan
selalu mengiang di setiap detak jantungnya.
“Yang
terpenting kamu lulus, tak usah kau pikirkan berapa IPK mu. Ijazah memang tak
penting untukmu, tapi kelulusanmu adalah kado istimewa buat kedua orang tuamu”
“Terimakasih”
hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Lelaki
itu beranjak dari tempat duduknya, segera pergi ke kampus untuk membayar uang
kuliah.
***
Setiap
tujuan tidak akan pernah lepas dari rintangan, dan setiap rintangan selalu
memiliki jembatan untuk melaluinya.
Jika
tujuan bisa mengubah dunianya, maka jembatan bisa menjadi kado istimewa untuk
kedua orang tuanya.
Tentukan
sendiri jembatan apa yang ingin kau berikan padanya.

Comments
Post a Comment