“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu
cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh
seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di
sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”
― Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
― Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Dua gelas teh hangat
dan tumpukan uang tercecer di meja ruang tamu, seorang ibu duduk dengan
senyumnya yang teduh. Ia memanggil lelaki yang sedari tadi berdiri di luar
pintu, mengajaknya untuk duduk, dan sedikit perbincangan yang terekam oleh waktu.
“ jika uang mampu
menjawab segalanya, lantas apa yang berharga dari sebuah kedamaian, dan apa
yang menarik dari surga“
Ucapan pertama membuat
si lelaki menundukkan kepala, tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali
mendengarkan ucapannya.
“Uang hanyalah
jembatan. Ibarat orang kelaparan, jembatan adalah makanan”
Lelaki itu mulai berani
mengangkat kepalanya, ia menatap tajam mata sang ibu, mencoba menyelami
kedalamannya, yang ia temukan rona ketulusan, pancaran suci melebihi putih.
“Kau tahu mana yang
baik dan mana yang terbaik, kau bukan anak kecil yang perlu berkali-kali
penjelasan untuk memahaminya. Sudahlah, tak usah kau pikir bagaimana cara
mengembalikannya, kelak kau akan tahu sendiri, Tuhan tidak pernah tidur. Dan
kau tidak mungkin kabur, aku yakin itu”.
...............................................................................................................................................
***
Tulisan di atas, salah
satu cara saya merawat ingatan. Perbincangan sederhana bersama seorang Ibu
(bukan ibu kandung) yang pernah membantu saya ketika kekurangan biaya untuk membayar
uang kuliah (tulisan selengkapnya baca disini).
Bisa dikatakan menulis
adalah jembatan yang saya percaya bisa mengantarkan keresahan dan kenangan
untuk dibagikan dalam kemasan hiburan, dan bersyukur jika bisa diambil
pelajaran darinya.
Namun dalam proses
penulisan, saya pernah terperangkap dalam jurang terdalam ketika ingin mendaki
puncak keinginan—bagaimana tulisan saya bisa dibaca banyak orang, kenapa setiap
tulisan yang saya kirimkan ke koran selalu tidak menemukan kepastian, lantas
apa yang harus saya lakukan bila semua tulisan tidak memiliki tempat untuk
mengantri di percetakan, kalau tidak menjadi buku apa yang berharga dari sebuah
tulisan?. Pertanyaan itu menjadi hantu, sekaligus menjadi awal berhentinya
mengabadikan waktu. Saya berhenti menulis.
Sampai akhirnya saya
menemukan jembatan yang tersusun rapi dari setiap kegagalan, ketakutan, dan
alasan yang saya ciptakan sendiri.
Dalam sebuah seminar
literasi yang saya ikuti, entah kenapa selalu saja ada pertanyaan “bagaimana
cara menulis” dan kami hanya mendapat jawaban “cara untuk menulis adalah
memulai untuk menulis". Dan pertanyaan “bagaimana sebuah tulisan memiliki
pembaca yang banyak” jawabannya “itu masalah selera”. Semua pertanyaan dan
jawaban itu sudah saya hafal dan lakukan. Kecuali satu pertanyaan “bagaimana
untuk mengetahui tulisan kita baik atau buruk” jawabannya adalah; PUBLIKASIKAN.
Pada tahap publikasi,
tulisan saya tidak memiliki tempat. Dan saya beranggapan, tulisan saya buruk.
Tahun 2011 mulai produktif, 2014 pasif,
dan 2016 kembali aktif.
Ketika saya
pasif, saya iseng untuk kembali membaca tulisan yang pernah saya buat, mulai
dari puisi, cerpen, dan catatan kecil dalam folder (Catatan Waktu Senggang).
dan entah mengapa saya menemukan keberanian untuk mempublikasikan tulisan itu
dalam beberapa lomba yang di adakan media online, dengan dalih “daripada
tulisan hilang”. dan bebrapa tulisan di buat vidio agar memiliki penampilan baru.
Kata takut hilang
itulah yang mengantarkan saya mengenal dunia narablog/blogger, sebuah media yang bisa
saya jadikan tempat menyimpan tulisan agar aman.
Pada tahun 2015, saya menemuka kebahagiaan ketika puisi yang saya ikutkan lomba juara satu, dan pada tahun berikutnya juga seperti itu.
Namun kebahagiaan itu
sekali lagi runtuh, ketika tulisan yang saya kirimkan ke media koran lagi-lagi
belum memiliki kekuatan. Sampai akhirnya pada tahun 2016, cerpen NEGERI ORANG
BAIK menjadi karya pilihan di salah satu media online, dan komentar yang membuat
saya yakin, saya harus menulis lagi
Sampai hari
ini saya terus menulis dan menulis, untuk sementara mengabaikan koran, dan percetakan buku. Dan
pada blogger lah tulisan saya berlabuh.
Lewat blogger saya berlatih, menemukan pembaca itu urusan nanti.
Karena menulis bagi saya adalah cara mengabadikan dan merawat kenangan dan berbagi keresahan, sementara blogger adalah jembatannya. Setiap tujuan tidak akan pernah lepas dari
rintangan, dan setiap rintangan selalu memiliki jembatan untuk melaluinya.
Resolusi saya pada tahun 2019 ini, saya akan memfokuskan untuk mengolah blogger saya dengan konten baru RAMU KATA dan beberapa tulisan bersambung (Awal Melupakan Diam) yang saya perjuangkan untuk menjadi buku.
*Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog nodi






tetap semangat ngeblog dan menginspirasi kak :)
ReplyDeleteterimakasih bang, tetap semangat :)
Delete