Blogger : Jembatan Merawat Ingatan

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” 
― 
Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara

Dua gelas teh hangat dan tumpukan uang tercecer di meja ruang tamu, seorang ibu duduk dengan senyumnya yang teduh. Ia memanggil lelaki yang sedari tadi berdiri di luar pintu, mengajaknya untuk duduk, dan sedikit perbincangan yang terekam oleh waktu.

“ jika uang mampu menjawab segalanya, lantas apa yang berharga dari sebuah kedamaian, dan apa yang menarik dari surga“

Ucapan pertama membuat si lelaki menundukkan kepala, tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali mendengarkan ucapannya.

“Uang hanyalah jembatan. Ibarat orang kelaparan, jembatan adalah makanan”

Lelaki itu mulai berani mengangkat kepalanya, ia menatap tajam mata sang ibu, mencoba menyelami kedalamannya, yang ia temukan rona ketulusan, pancaran suci melebihi putih.

“Kau tahu mana yang baik dan mana yang terbaik, kau bukan anak kecil yang perlu berkali-kali penjelasan untuk memahaminya. Sudahlah, tak usah kau pikir bagaimana cara mengembalikannya, kelak kau akan tahu sendiri, Tuhan tidak pernah tidur. Dan kau tidak mungkin kabur, aku yakin itu”.
...............................................................................................................................................
***

Tulisan di atas, salah satu cara saya merawat ingatan. Perbincangan sederhana bersama seorang Ibu (bukan ibu kandung) yang pernah membantu saya ketika kekurangan biaya untuk membayar uang kuliah (tulisan selengkapnya baca disini).

Bisa dikatakan menulis adalah jembatan yang saya percaya bisa mengantarkan keresahan dan kenangan untuk dibagikan dalam kemasan hiburan, dan bersyukur jika bisa diambil pelajaran darinya.

Namun dalam proses penulisan, saya pernah terperangkap dalam jurang terdalam ketika ingin mendaki puncak keinginan—bagaimana tulisan saya bisa dibaca banyak orang, kenapa setiap tulisan yang saya kirimkan ke koran selalu tidak menemukan kepastian, lantas apa yang harus saya lakukan bila semua tulisan tidak memiliki tempat untuk mengantri di percetakan, kalau tidak menjadi buku apa yang berharga dari sebuah tulisan?. Pertanyaan itu menjadi hantu, sekaligus menjadi awal berhentinya mengabadikan waktu. Saya berhenti menulis.

Sampai akhirnya saya menemukan jembatan yang tersusun rapi dari setiap kegagalan, ketakutan, dan alasan yang saya ciptakan sendiri.

Dalam sebuah seminar literasi yang saya ikuti, entah kenapa selalu saja ada pertanyaan “bagaimana cara menulis” dan kami hanya mendapat jawaban “cara untuk menulis adalah memulai untuk menulis". Dan pertanyaan “bagaimana sebuah tulisan memiliki pembaca yang banyak” jawabannya “itu masalah selera”. Semua pertanyaan dan jawaban itu sudah saya hafal dan lakukan. Kecuali satu pertanyaan “bagaimana untuk mengetahui tulisan kita baik atau buruk” jawabannya adalah; PUBLIKASIKAN.

Pada tahap publikasi, tulisan saya tidak memiliki tempat. Dan saya beranggapan, tulisan saya buruk. Tahun 2011 mulai  produktif, 2014 pasif, dan 2016 kembali aktif.

Ketika saya pasif, saya iseng untuk kembali membaca tulisan yang pernah saya buat, mulai dari puisi, cerpen, dan catatan kecil dalam folder (Catatan Waktu Senggang). dan entah mengapa saya menemukan keberanian untuk mempublikasikan tulisan itu dalam beberapa lomba yang di adakan media online, dengan dalih “daripada tulisan hilang”. dan bebrapa tulisan di buat vidio agar memiliki penampilan baru.


Kata takut hilang itulah yang mengantarkan saya mengenal dunia narablog/blogger, sebuah media yang bisa saya jadikan tempat menyimpan tulisan agar aman.

Pada tahun 2015, saya menemuka kebahagiaan ketika puisi yang saya ikutkan lomba juara satu, dan pada tahun berikutnya juga seperti itu.






Namun kebahagiaan itu sekali lagi runtuh, ketika tulisan yang saya kirimkan ke media koran lagi-lagi belum memiliki kekuatan. Sampai akhirnya pada tahun 2016, cerpen NEGERI ORANG BAIK menjadi karya pilihan di salah satu media online, dan komentar yang membuat saya yakin, saya harus menulis lagi





Sampai hari ini saya terus menulis dan menulis, untuk sementara mengabaikan koran, dan percetakan buku. Dan pada blogger lah tulisan saya berlabuh.

Lewat blogger saya berlatih, menemukan pembaca itu urusan nanti.

Karena menulis bagi saya adalah cara mengabadikan dan merawat kenangan dan berbagi keresahan, sementara blogger adalah jembatannya. Setiap tujuan tidak akan pernah lepas dari rintangan, dan setiap rintangan selalu memiliki jembatan untuk melaluinya.

Resolusi saya pada tahun 2019 ini, saya akan memfokuskan untuk mengolah blogger saya dengan konten baru RAMU KATA dan beberapa tulisan bersambung (Awal Melupakan Diam) yang saya perjuangkan untuk menjadi buku.

*Tulisan ini diikutkan dalam kompetisi blog nodi 



Comments

Post a Comment